Perbincangan ringkas mengenai Taghut

 Definisi Taghut adalah luas. At-taghut (الطَّاغُوتَ) masdarnya ialah at-tughyan/tagha yang membawa maksud melebihi had.

“Sesungguhnya Kami, ketika air (banjir) melampaui hadnya (tagha) (serta menenggelamkan gunung-ganang), telah mengangkut (serta menyelamatkan nenek moyang) kamu ke dalam bahtera Nabi Nuh (yang bergerak laju pelayarannya).” (Surah Al-Haqqah: ayat 11)

Taghut dari segi istilah ialah mereka yg melangkaui batas dengan menyamakan ia dgn hak Allah dan menjadikannya sekutu dgn Allah. Allah S.W.T berfirman:
“(Lalu diperintahkan kepadanya): Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (tagha).” (Surah An-Naazi’at: ayat 17)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah taghut.” (Surah An-Nahl: ayat 36)

Umar Al-Khattab R.A berkata: “At-taghut itu adalah syaitan.” (At-tabari dlm Jami’ul Bayan An Ta’wilil Quran; Al-Hafiz Ibn Hajar dlm Fathul Bari (8/251) mengatakan bahawa sanadnya kuat)

Jabir R.A. berkata: “ At-taghut adalah para nujum dan penunjuk nasib yg bergantung kpd pertolongan syaitan.” (ibid)

Imam Malik Rh berkata: “Taghut itu adalah menyembah selain Allah.” (Riwayat As-Suyuti dlm Ad-Durarul Manthur dari jalan Ibn Abi Hatim)

Ibnul Qayyim Rh dlm I’lamul Muwaqiin memberi penjelasan lebih komprehensif, katanya: “At-taghut adalah perkara yg menyebabkan seseorang itu melebihi batasan samada ia berkaitan dgn penyembahan, mengikutinya atau mematuhinya. Jadi taghut dlm segala bentuk ialah mereka yg berpaling dari Allah dan RasulNya utk perkara hukum; atau merasa suka menyembah selain dari Allah atau mengikuti sesuatu tanpa sebarang dalil dari Allah atau mematuhi sesuatu dlm perkara yg diketahui bahawa ia adalah keingkaran kpd Allah.”

Irshad Manji bersama kumpulan yang mentafsir Islam dengan method yang karut

Adapun taghut, seluruh ulama juga sepakat bahwa definisi taghut adalah sesembahan selain Allah atau hukum-hukum kufur. Imam As-Sa’di menyatakan bahwa taghut adalah semua hukum selain hukum Allah SWT (Imam Abdurrahman Nashir as-Sa’di, Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalaam al-Manan, hlm. 90).
Imam Malik, sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-‘Arabi menyatakan, thaghut adalah semua hal selain Allah yang disembah manusia seperti berhala, pendeta, ahli sihir atau semua hal yang menyebabkan syirik (Ibnu al-’Arabi, Ahkam al-Qur’an, I/578).
Berdasarkan penjelasan ini dapat dipahami bahwa sekularisme, liberalisme, demokrasi, nasionalisme, sosialisme dan kapitalisme adalah taghut yang harus diingkari dan ditolak oleh kaum Muslim.
Sedangkan Khilafah, seluruh ulama sepakat bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum kaum Muslim di seluruh dunia pada wilayah tertentu untuk menjalankan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.
Syaikh Musthafa Shabari, Syaikhul Islam dalam Daulah Utsmaniyyah mendefinisikan khilafahdengan, “Pengganti Rasulullah saw. dalam melaksanakan syariah Islam”. (Musthafa Shabari,Mawqif al-‘Aql wa al-‘Ilm wa al-‘Alim, IV/363).
Imam al-Baidhawi mendefinisikan Khilafah dengan, “Sosok yang menggantikan Rasulullah saw. dalam menegakkan syariah Islam, menjaga agama, yang wajib ditaati oleh seluruh kaum Muslim.” (Imam al-Baidhawi, Hasyiyyah Syarh ath-Thawali’, hlm. 228).
Imam al-Qalqasyandi mendefinisikan khilafah dengan, “Kekuasaan umum atas seluruh umat”(Imam al-Qalqasyandi, Maatsir al-Inafah fi Ma’alim al-Khilafah, I/8).
Imam Adldi ad-Din al-Aiji mendefinisikan khilafah sebagai: “Kepemimpinan umum untuk urusan dunia dan akhirat yang dimiliki oleh seseorang.” (Imam ‘Adldi ad-Din al-Aiji, Mawaqif wa Syarhihi, V/66). Beliau juga menyatakan dalam kitab yang sama, bahwa khalifah lebih utama disebut sebagai: Khilafah ar-Rasul dalam menegakkan dan menjaga agama, yang mana ia wajib ditaati oleh seluruh kaum Muslim.”
Sebagian ulama Syafi’iyah mendefinisikan khilafah dengan, “Imam A’dzam (Pemimpin Agung) yang mengganti posisi Rasul dalam menjaga agama dan mengatur kehidupan dunia.”(Nihayah al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj, VII/289).
Imam al-Mawardi mendefinisikan khilafah dengan, “Imamah yang diposisikan untuk Khilafah Nubuwwah (pengganti kenabian) dalam hal menjaga agama dan urusan dunia.” (Imam Al-Mawardi, Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hlm. 3).
Ibnu Khaldun mendefinisikan khilafah dengan, “Wakil Allah dalam menjaga agama dan urusan dunia.” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm. 159).


Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
(Al-Baqarah 2:256) 

Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.
(Al-Baqarah 2:257)

Tidakkah engkau (hairan) melihat (wahai Muhammad) orang-orang (munafik) yang mendakwa bahawa mereka telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-kitab) yang telah diturunkan dahulu daripadamu? Mereka suka hendak berhakim kepada Taghut, padahal mereka telah diperintahkan supaya kufur ingkar kepada Taghut itu. Dan Syaitan pula sentiasa hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
(An-Nisaa’ 4:60)


Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah; dan orang-orang yang kafir pula berperang pada jalan Taghut (Syaitan). Oleh sebab itu, perangilah kamu akan pengikut-pengikut Syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya Syaitan itu adalah lemah.
(An
-Nisaa’ 4:76)

Katakanlah: “Mahukah, aku khabarkan kepada kamu tentang yang lebih buruk balasannya di sisi Allah daripada yang demikian itu? Ialah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dimurkaiNya, dan orang-orang yang dijadikan di antara mereka sebagai kera dan babi, dan penyembah Taghut. Mereka inilah yang lebih buruk kedudukannya dan yang lebih sesat dari jalan yang betul”.
(Al-Maaidah 5:60)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut”. Maka di antara mereka (yang menerima seruan Rasul itu), ada yang diberi hidayah petunjuk oIeh Allah dan ada pula yang berhak ditimpa kesesatan. Oleh itu mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah bagaimana buruknya kesudahan umat-umat yang mendustakan Rasul-rasulnya.
(Al-Nahl 16:36)


Dan orang-orang yang menjauhi dirinya dari menyembah atau memuja Taghut serta mereka rujuk kembali taat bulat-bulat kepada Allah, mereka akan beroleh berita yang mengembirakan (sebaik-baik sahaja mereka mulai meninggal dunia); oleh itu gembirakanlah hamba-hambaKu –
(Az-Zumar 39:17)

Deklarasi mujahidin Syria untuk tegaknya Khilafah Islam
















Inilah teks deklarasi mujahidin suriah untuk tegaknya Khilafah Islam

Tepat tanggal 12/12/2012 ikut bergabung beberapa brigade mujahidin untuk mendukung berdirinya negara Khilafah di Suriah. Sebelumnya diberitakan bahwa beberapa pimpinan brigade telah bersumpah untuk berusaha dengan sekuat tenaganya mendirikan negara khilafah islam pasca tumbangnya rezim diktator Bashar al-Assa

d, mereka juga menolak gagasan negara sipil demokrasi yg dipromosikan oleh negara-negara barat pimpinan AS dengan menggandeng rezim anteknya, negara-negara teluk. Selain itu mujahidin pejuang pembebasan suriah ini mendeklarasikan terbentuknya brigade-brigade yg tergabung dalam koalisi pendukung khilafah (liwa anshar al-khilafah). Rincian teks deklarasi dan brigade yg ikut bergabung sebagai berikut:

Bismillahi Al-Rahman Al-Raheem,

“Yang berhak menetapkan hukum adalah Allah swt. Dialah yg telah memerintahkan kalian untuk tidak beribadah kecuali kepada Nya. Inilah agama yg lurus, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (Terjemah Quran, Surat Yusuf 12:40)

Kami para pemimpin dari brigade-brigade sebagai berikut:

– Brigade Ansar Al Sharia
– Brigade Abdullah Ibn El-Zubeir
– Brigade Rijalullah
– Brigade As-Syahid Mustafa Abdul-Razzaq
– Brigade Syaifur Rahman

Dengan penuh keimanan kami memiliki kewajiban untuk melakukan aktivitas menegakkan hukum syariah islam dalam seluruh sendi kehidupan dan institusi pemerintahan, dan menuntut kami untuk meraih keridhoan Allah swt. Kami mendeklarasikan pembentukan brigade koalisi pendukung khilafah ( للواء انصار الخلافه) di daerah Aleppo bagian barat, dan kami bersumpah kepada Allah swt (tabaaraka wa ta’ala), bahwa kami akan mengupayakan secara dg sungguh-sungguh untuk menggulingkan rezim baath kafir pelaku kriminal. Kami juga menentang segala konspirasi persekongkolan baik dari dalam negeri maupun luar negeri suriah, dan menghancurkan rencana busuk mereka berupa rencana negara sipil demokrasi. Serta beraktivitas dengan orang-orang yg ikhlas untuk mendirikan kembali negara Khilafah Islam, yg dengan negara tersebut kami akan mengakhiri penjajahan dan perbudakan yg telah berlangsung puluhan tahun lamanya hingga mengembalikan kami sebagai kaum yg terhormat diantara Timur dan Barat.

Sungguh, kami menyeru saudara-saudara kami para mukhlisin dari berbagai brigade pejuang pembebasan suriah untuk menyatukan visi dengan kami, dan mendeklarasikan diri untuk melepaskan diri dengan agen-agen baru negara kolonialist (red:koalisi oposisi suriah yg dibentuk di Doha, Qatar). Kami juga memperingatkan mereka dari tawaran kompromi dalam hal agama untuk ditukar dengan uang dan persenjataan, karena sangat jelas, disanalah terbentang kehancuran. Dan demi Allah yg menguasai segala sesuatu perbendaharaan di langit dan di bumi, namun orang-orang munafik tidak memahaminya (TQS Munafiqun 63:7)

Dan Allah (azza wa jala) telah memberikan jaminan bahwa Dia akan memberi pertolongan kepada kita, apabila kita menolong Nya, dan berusaha menegakkan agama dan hukum shariah Nya dengan tulus. Allah swt berfirman, “Wahai orang2 yang beriman, apabila kalian menolong agama Allah, maka Allah swt akan menolongmu dan menguatkan kedudukanmu (TQS Muhammad 47:7). Allahu Akbar, dan segala kemuliaan milik Allah, Takbier: الله اكبر …الله كبر ..الله اكبر

Qasam (sumpah):

نقسم بالله العظيم ان نكون حرسا امناء للاسلام وان نعبد الله لا نشرك به شيئا وان لا نرضى بغير نظام الخلافه ولو بذلنا في سبيله المهج والارواح والله على ما نقول شهيد …نكبير الله اكبر الله اكبر الله اكبر

Kami bersumpah dengan nama Allah yg Maha Agung, bahwa kami akan menjadi penjaga Islam yg terpercaya, dan kami akan menyembah-Nya dengan tidak mensekutukan-Nya, dan tidak akan ridha dengan selain Sistem Khilafah mesikipun kami harus mengorbankan banyak dalam peperangan dan nyawa. Dan cukup Allah swt yang menjadi saksi atas apa yang kami ucapkan.

Takbier. Allah Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Video dapat dilihat di :
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=O-5uNi5VZHo

Seorang Kristian Yang Pemurah Dan Hakim Yang Angkuh

Semasa kerajaan Bani Umaiyah berkuasa di bawah pemerintahan Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan, terdapat seorang janda daripada keturunan Nabi Muhammad Sallallahu `alaihi wasallam. Dia mempunyai tiga orang anak perempuan yang masih kecil dalam kedaaan hidupnya sangat dhaif dan menyedihkan.
Pada suatu hari anak-anaknya menangis tidak berhenti-henti, kerana tidak tahan lagi menanggung kelaparan. Sudah puas ibunya memujuk menyuruh bersabar namun anak-anak itu terus menangis dengan kuatnya. 
“Tunggulah sampai besok nak, nanti ibu akan pergi ke pejabat kadi bertemu tuan hakim meminta sesuatu daripada harta Baitulmal’ mudah-mudahan dia menghulurkan sedikit bantuan untuk kita. ” Ujar ibu itu berjanji mengharapkan anak-anaknya akan diam. 
Maka pada keesokan harinya, pagi-pagi lagi ibu tadi beserta anak-anak itu datang ke pejabat tuan hakim. Setelah agak lama menunggu, barulah tuan hakim datang. Melihat ibu dan anak-anak kecil berada di hadapan pejabatnya, tuan hakim bertanya : 
“Ada apa kamu sekalian menunggu di sini ?” 
“Tuan Hakim ! Kami sudah lama tidak menjamah makanan. Saya sendiri boleh tahan, tapi anak-anak kecil ini tidak sanggup menahan lapar, jadi kami datanglah ke mari moga-moga Tuan dapat memberikan sedikit sedekah kepada kami.” Kata ibu tadi mengharap belas kasihan daripada tuan hakim itu. 
“Baiklah, hari ini kembalilah dulu ! Besok aku akan berikan kamu sesuatu,” tegasnya.
Wajah ibu itu ceria sedikit bila mengetahui bantuan yang diharap-harapkan itu akan diterimanya esok. Tapi bila memikirkan keadaan anak-anaknya yang sedang kelaparan itu maka timbul di hatinya untuk merayu kepada tuan hakim itu supaya bantuan itu diberikan pada hari itu juga. 
“Tuan Hakim ! Terima kasih banyak di atas pertimbangan Tuan yang baik itu, tapi alangkah baiknya kalau bantuan itu diberikan sekarang ini juga kerana anak-anakku sedang kelaparan.” Ibu itu merayu. 
“Sudahlah, bukankah aku sudah katakan besok saja, aku baru saja datang, takkan hendak menyelesaikan urusan kamu dahulu. “Sergah tuan hakim sambil minta si ibu itu keluar dari biliknya. 
Ibu itu menarik tangan anaknya untuk pulang, namun anak yang tidak mengerti itu lebih kuat lagi tangisannya kerana dillihatnya tidak ada sesuatu yang diberikan oleh tuan hakim itu.
Tuan hakim tak bagi kita apa-apa ibu? “Tanya anaknya yang agak besar itu.” 
“Tuan hakim sibuk hari ini nak, besok dia akan berikan sesuatu kepada kita.” Pujuk si ibu.
Pada malam itu dia terpaksa mencari jalan untuk mententeramkan anak-anaknya agar tidak terus menangis dan meyakinkan bahawa mereka pasti dapat bantuan daripada harta Baitulmal pada keesokan harinya. Namun anak-anak yang belum faham itu terus bertanya kenapa mesti kena tunggu besok kalau tuan hakim betul-betul mahu bantu. Bagaimanapun akhirnya mereka semua tertidur di dalam keadaan perut yang kosong. 
Pada keesokan paginya , ibu itu pergi seorang diri ke pejabat tuan hakim sementara anak-anaknya ditinggalkannya di rumah. 
“Assalamualaikum Tuan Hakim, ” ibu itu memulakan bicaranya.
“Ah, pagi-pagi buta begini engkau sudah sampai ke mari, ada apa ? “Bentak tuan hakim pura-pura bertanya.
Bukankah Tuan Hakim suruh saya datang hari ini kerana bantuan yang Tuan janjikan iru ? Kata ibu itu.
“Bantuan yang aku janjikan ? Eh… aku tak pernah berjanji kepada sesiapa pun.” Kata tuan hakim dengan nada sombong.
“Bukankah saya yang datang kelmarin dengan anak-anak dan Tuan hakim menyuruh….”
Belum sempat ibu itu menghabiskan bicaranya untuk mengingatkan tuan hakim tentang janjinya, tiba-tiba tuan hakim dengan nada keras dan suaranya yang tinggi memerintah pengawalnya.
“Hei pengawal ! Halau perempuan ini dari sini.”
“Wahai Tuan hakim! kenapakah tuan bersikap zalim begini ?” Kata ibu dengan marah.
“Ah…. pergi saja dari sini, jangan bising-bising, buang masa saja.” Perintah Tuan hakim.
Dengan penuh perasaan malu, ibu itu keluar dari pejabat tuan hakim sambil menahan tangisannya. Dia tidak mahu menunjukkan dirinya rendah dan hina seperti seorang pengemis yang sudah tidak punya pendirian lagi. Dia tahu dirinya dari keturunan mulia, dari anak cucu Rasulullah Sallallahu `alaihi wasallam yang mesti menjaga harga diri. 
Ibu itu cepat-cepat meninggalkan tempat itu dengan fikirannya yang berkecemuk memikirkan nasib malang yang menimpa dirinya.
“Apa yang akan aku katakan kepada anak-anakku yang sedang menunggu di rumah ? Aku katakan tuan hakim itu telah memungkiri janjinya ? Manalah anak-anak kecil itu tahu alasan-alasan seperti itu. ” Bisik ibu itu di dalam hatinya.
Dia kemudian memesongkan kakinya ke haluan jalan di mana terdapat sederetan rumah-rumah buruk yang sudah tidak berpenghuni lagi dan duduk di salah satu anak tangga di situ. Dia terus menangis sekuat-kuat hatinya sambil mengeluh : “Wahai Tuhanku! Apa yang akan aku katakan kepada anak-anakku yang sedang menunggu? Aku tidak sanggup lagi melihat mereka menangis kerana kelaparan. Aku tidak dapat menipu mereka lagi dengan alasan-alasan yang tidak benar ! Tuhanku ! Berilah aku jalan keluar daripada kesempitan ini! Aku sendiri pun sudah tidak larat lagi menanggungnya, apatah lagi anak-anakku yang kecil yang belum tahu apa-apa pun!” Ibu itu mengadu kepada Allah.
Ibu itu terus menangis dan merintih mengenangkan kesempitan hidupnya yang selalu sangat di dalam kelaparan dan dipandang hina oleh masyarakat setempat.
Sedang dia menangis tiba-tiba lalu dihadapannya dua orang pemuda yang kebetulan tadi 
sempat mendengar keluhan dan tangisannya, lalu menegur. 
“Wahai ibu, jangan takut…. kenapa ibu menangis di sini ? “Tanya pemuda itu.
“Wahai orang muda, kamu siapa ? Dan kenapa kamu datang ke sini ? “Ujar ibu itu pula sambil mengesatkan airmata dengan tangannya. 
“Nama saya Saiduq, berbangsa Nasrani dan beragama Masihi. Semua orang kenal saya di sini, dan ini pengawal saya. “Kata pemuda itu sambil menunjukkan pengawalnya. 
“Saiduq, saudagar Nasrani yang kaya raya itu ke ? “Tanya ibu itu yang pernah mendengar cerita tentang kekayaan Saiduq sebelum ini. 
Kenapa ibu menangis di sini ? “Tanya Saiduq tanpa menghiraukan pertanyaan ibu itu.
Tak ada apa-apa. “Jawab ibu itu cuba menyembunyikan. 
“Tak ada apa-apa takkan menangis ? Cuba ceritakan ! “Desak Saiduq lagi.
Setelah didesak berkali-kali akhirnya ibu itu pun menceritakan nasibnya yang malang itu dan bagaimana dia hidup menderita kesusahan menanggung tiga orang anaknya yang masih kecil. 
Diceritakan juga apa yang berlaku di antaranya dengan tuan hakim yang sombong itu.
“Saya faham, ibu jangan menangis lagi ! “kata Saiduq.
Kemudian Saiduq menyuruh perempuan itu kembali dulu ke rumah dan menunggu bantuan yang akan dikirimkan kepadanya lalu memanggil pengawalnya dan berkata :
“Pengawal ! Berikan perempuan itu seribu dinar (nilai yang sangat tinggi waktu itu). Kemudian belikan dia dan anak-anaknya pakaian dan segala keperluan rumahnya sekarang juga! “Perintah Saiduq. 
Ibu itu terkejut melihat seorang Nasrani yang begitu murah hati terhadap orang yang susah dan menderita sepertinya. Dia tidak dapat mengatakan betapa terima kasihnya terhadap orang yang bertimbang rasa itu. Meskipun dia bukan seorang muslim, namun dia tetap seorang manusia yang mempunyai perasaan terhadap insan yang lain.
Orang suruhan Saiduq itu segera pergi ke pasar untuk membeli makanan, buah-buahan dan segala keperluan dapur yang diperlukan oleh sebuah rumah, di samping pakaian untuk ibu dan anak-anaknya. Kesemuanya disampaikannya pada hari itu juga. 
Anak-anaknya bergembira melihat barang-barang yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Ibu itu juga turut gembira, dan mulai hari itu dia tidak menangis lagi. Dalam tangannya sudah ada serbu dinar yang cukup untuk menjamin hidupnya dua atau tiga tahun lagi.
“Sampaikan salam ku kepada Saiduq serta ucapan terima kasih banyak kepadanya”, kata ibu itu kepada pengawal tersebut.
Kemudian ibu itu pun berdoa kepada Allah: “Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Berikanlah si Saiduq itu taufiq dan hidayat untuk memeluk Islam, dan berikanlah dia daripada kenikmatanMu di syurga!” 
Sementara itu pada suatu malam tuan hakim yang sombong itu telah bermimpi melihat seolah-olah dia sedang berada di Hari Kiamat. Manusia terlalu sibuk waktu itu, masing-masing mencari perlindungan mengikut amalan di dunia. Tuan hakim dibawa malaikat menuju ke syurga. Kemudian di dalam syurga itu dia dibawa masuk ke dalam sebuah gedung besar yang tinggi, indah permai penuh dengan ukiran mas merah, tingkapnya daripada mutiara putih yang berkilau-kilauan. Di suatu tingkap di situ berdiri sekumpulan bidadari yang bercahaya lebih terang daripada cahaya matahari, dan lebih menarik dan cantik daripada cahaya bulan.
Apabila tuan hakim tiba disitu, semua bidadari itu bertempik di mukanya: “Orang yang tidak tahu diuntung ! Orang yang dalam kerugian ! Dulu kami semua adalah kepunyaanmu, dan gedung ini pula adalah milikmu. Tetapi sekarang sudah bertukar, alangkah malangnya nasibmu. Semuanya ini, termasuk kami bidadari akan menjadi hak milik Saiduq, seorang berbangsa Nasrani itu. Sekarang pergi dari sini, kami bukan hak milik kamu lagi. Tempat yang layak bagi kamu adalah neraka.” Kata suara tempikan yang sangat dahsyat. 
Kemudian tuan hakim itu dibawa pula ke dalam neraka, dan ditunjukkan tempatnya di situ. Pada saat itulah tuan hakim itu tersedar daripada mimpinya. Dia terperanjat dan merasa takut sekali. Dia tidak dapat tidur pada malam itu sampai ke pagi memikirkan mimpinya yang menakutkan itu. 
Pada keesokan paginya, tuan hakim bergegas ke rumah Saiduq. Saiduq berbangga kerana tuan hakim datang ke rumahnya. 
Tuan Hakim masuk ke dalam rumahnya lalu bertanya: “Ada apa-apa tak kebaikan yang kau lakukan semalam? “Tanya tuan hakim. 
“Saya memang suka membuat kebaikan,” jawabnya. Kebaikan yang macam mana?
Tanya Saiduq kembali. 
“Kebaikan apa saja, cuba terangkan!” 
“Malam tadi saya menjamu kawan-kawan minum arak, dan saya minum lebih sedikit, maka saya mabuk, saya tidak ingat apa-apa.” Saiduq memberitahu tuan hakim. 
“Aku tidak mahu tahu dosa yang kau buat itu, yang aku maksudkan kebaikan apa yang kau buat untuk orang lain, cuba ingat,” tuan hakim naik darah. 
Setelah diingati betul-betul maka teringatlah Saiduq bahawa beberapa hari yang lalu dia telah menolong seorang perempuan dan anak-anaknya yang di dalam kesusahan dan kelaparan. 
“Barangkali kebaikan yang aku lakukan terhadap seorang perempuan yang mempunyai tiga anak kecil jika tidak salah aku! “terang Saiduq. 
“Ya…ya, itulah dia “pintas tuan hakim tidak sabar. “Apa yang kau berikan kepadanya ?” 
“Apakah salah, jika aku berikan sesuatu kepadanya ? “Tanya Saiduq lagi. 
“Bukan begitu, tetapi aku hendak tahu, apa yang kau berikan kepadanya, dan bagaimana kau boleh bertemu dengannya”, kata tuan hakim lagi. 
“Oh…. begitu ! Baiklah, mula-mula saya jumpa perempuan itu di deretan rumah-rumah yang roboh sambil menangis. Saya kasihan kepadanya, tanpa diminta saya berikan makanan, pakaian dan segala keperluannya serta anak-anaknya,”kata Saiduq sungguh-sungguh. 
“Itu sajakah yang kau beri? “Tanya tuan hakim lagi. 
“Ada lagi, “Jawab Saiduq. 
“Apa dia? “Tanya tuan hakim memaksa. 
“Saya beri dia seribu dinar untuk keperluan hidupnya. Saya berikan itu kerana Allah, saya kasihan kepadanya dan anak-anaknya,”Saiduq cerita kesemuanya.
Tuan hakim termenung sebentar kerana mengenangkan peristiwa yang berlaku antaranya dengan perempuan itu sebelum ini. Dihatinya sungguh menyesal perbuatannya yang angkuh itu yang menyebabkan beliau diperlihatkan bakal kehilangan segala-galanya di akhirat kelak.
“Tapi, saya ingin tahu juga apa sebabnya tuan hakim datang ke rumah saya pagi-pagi begini semata-mata hanya hendak bertanya perkara ini ? “Tanya Saiduq menduga.
Tuan hakim masih termenung, kemudian tunduk. Pada wajahnya ternyata seperti seorang yang sedang memikirkan sesuatu dan tampak sedih sekali. 
“Begini Saiduq, malam tadi aku bermimpi yang sungguh menyedihkan. “Kata tuan hakim perlahan.
“Mimpi yang menyedihkan tuan ? “Saiduq terperanjat “Tapi apa kena mengenanya dengan diri saya? Tanyanya lagi.
Tuan hakim tidak punya pilihan lain, terpaksa menceritakan segala yang berlaku di dalam mimpinya. Dia menceritakan segala gedung dan bidadari-bidadari di syurga nanti yang asalnya menjadi miliknya telah bertukar menjadi milik Saiduq kerana semata-mata kebaikan yang dilakukan itu kepada seseorang yang memerlukannya. 
Mendengar cerita itu, gementerlah badan Saiduq dan dengan tiba-tiba dia menghulurkan tangannya kepada tuan hakim, katanya :
“Tuan hakim ! Sekarang saksikanlah …… bahwa saya menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah, Yang Esa, tiada sekutu bagiNya dan bahwasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah, yang diutuskanNya membawa petunjuk dan agama yang benar.” 
Tuan hakim terpaksa menyaksikan keislaman Saiduq itu dengan hatinya sedih dan menyesal atas kelakuannya yang tidak berperikemanusiaan. 

Usahlah Ta’sub Dengan Ulama




“Mereka (Yahudi dan Nasara) menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”[TMQ at-Taubah (9):31].

Mereka (para rahib) jika menghalalkan sesuatu maka orang ramai pun ikut menghalalkannya (yakni mengikutinya/mentaqlidnya) dan mereka jika mengharamkan sesuatu maka orang ramai pun ikut mengharamkannya maka itulah pengibadatan mereka (itulah bukti mereka menyembah para r

ahib [HR At Tirmizi & Baihaqi]

Ramai di kalangan umat Islam memilih untuk bertaqlid kepada ulama, ustaz atau figure daripada mengkaji dan cuma memahami sesuatu permasalahan hukum syarak dengan mendalam. Mungkin di kalangan orang yang tidak berupaya, orang yang kurang cerdas, maka dibolehkan malah dianjurkan untuk bertaklid kepada ulama yang diyakini keupayaan ijtihadnya (Imam-imam mazhab dalam bab ibadah dan feqah). Yang menghairankan, apabila ada yang mampu mendapat master/ PhD dalam bidang kejuruteraan, bidang sains, kedoktoran dan lain-lain displin ilmu yang kompleks, pun masih gemar memilih bertaqlid sepertimana orang yang dikatakan kurang cerdas itu.

Berbeza dengan perkara berkaitan aqidah, ia wajib dimurnikan dengan pemikiran yang utuh, bukan sekadar bertaqlid buta. Kemunduran berfikir umat Islam hari ini adalah dek kerana kemalasan mereka sendiri untuk memurnikan aqidah mereka.

Sangatlah buruk perbuatan mereka dan sebahagian besar masyarakat yang masih berpegang kepada sangkaan dan keyakinan mereka bahawa mereka benar tanpa penyelidikan, penelitian dan pengkajian bagi mensabitkan apakah selama ini mereka berada dalam kebenaran atau selama ini mereka berada dalam penipuan, kesesatan dan kesilapan. Sesungguhnya sangka-sangka mereka sangatlah tidak bermanfaat dan tidak menyelamatkan mereka sedikitpun.

Sungguh sangkaan mereka langsung tidak membawa manfaat pada mereka (dalam membawa mereka) kepada kebenaran sedikitpun” (Surah Yunus (10): 36).

Mereka menyangka, ulama figure merekalah yang sentiasa baik sekalipun terpampang jelas realiti untuk diindera. Mereka menyangka, ulama mereka tidak akan terbelit dengan penipuan syaitan jin dan manusia (atas sebab ketokohan mereka), walhal mereka tahu, jerat Iblis dan syaitan ke atas ulamalah lebih dahsyat dari jerat yang disediakan ke atas mereka yang bodoh…..

Wawancara Bersama Pak Ismail Yusanto (Juru bicara Hizb Tahrir Indonesia)

SIAPA DISKRIMINATIF?

Oleh : H.M. Ismail Yusanto
Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia

Demokrasi. Tampaknya kini telah menjadi kata yang penuh daya magis. Demokrasi mewarnai tiap pembicaraan tentang politik di manapun di dunia. Demokrasi dianggap sebagai system politik terbaik, setidaknya paling baik di antara yang buruk (the best among the worst).

Sedemikian rupa orang percaya pada demokrasi, seolah ia adalah pangkal dari segala kebaikan dan senjata pamungkas untuk setiap persoalan. Segala hal yang baik pastilah demokratis dan segala yang buruk pastilah tidak demokratis. Maka dari itu, semua orang merasa bahwa demokrasi harus diwujudkan secara nyata dalam semua sendi kehidupan masyarakat dan bernegara. Jadilah demokrasi menjelma bagai sebuah norma global dan buah dari semangat zaman. Menolak demokrasi sama artinya dengan menolak zaman. Benarkah begitu?

Satu topik yang paling sering ditanyakan oleh berbagai pihak, termasuk para peneliti dan pengamat, adalah sikap Hizbut Tahrir (HT) terhadap demokrasi. Mereka tahu bahwa HT menolak demokrasi, bahkan menganggap bahwa demokrasi itu sebagai sistem kufur. Bagi mereka, ini sangatlah menarik. Bagaimana tidak. Pada saat hampir seluruh negara di dunia saat ini menganut sistem demokrasi, dan semua orang, termasuk tokoh-tokoh dan
berbagai kelompok Islam, menyatakan dengan tegas bahwa demokrasi bukan hanya bisa diterima Islam, bahkan Islam adalah agama yang sepenuhnya demokratis, Hizbut Tahrir justru menyatakan demokrasi seratus delapan puluh derajat bertentangan dengan Islam.

Hal ini pula yang menarik perhatian Prof. Don Emmerson, Direktur Forum Asia Tenggara di Stanford University, Amerika Serikat, yang juga anggota Komisi Nasional Hubungan Indonesia-Amerika Serikat (the National Commission on U.S.-Indonesian Relations), dan di Amerika Serikat dianggap sebagai salah satu ahli Indonesia (Indonesianis) yang cukup terkemuka. Bersama timnya, ia melakukan penelitian mengenai hubungan antara Islam dan demokrasi, dan kesesuaian demokrasi, termasuk demokrasi liberal, dengan negara yang mayoritas Muslim seperti Indonesia. Hasil penelitian itu kemudian dikemas dalam bentuk sebuah film dokumenter. Nah, dalam rangka penelitian itulah Prof. Emmerson datang ke Indonesia, di antaranya untuk mewawancarai saya guna mengetahui pandangan HT tentang topik tadi.

Wawancara dilakukan di Hotel Shangri La, Jakarta. Tidak seperti wawancara pada umumnya yang dilakukan seadanya, wawancara dengan Prof. Emmerson ini tampak dirancang spesial. Tempatnya di sebuah paviliun bergaya Jawa yang cukup luas. Di-set-up begitu rupa, paviliun itu bagaikan sebuah studio mini dengan sekian kamera dan properti yang telah ditata secara profesional. Yang lebih istimewa, untuk wawancara ini Prof. Emmerson membawa petugas khusus: seorang Muslim, masih muda, asli Mesir, alumni al-Azhar—Mesir dan doktor pemikiran Islam dari Stanford University, yang tentu saja fasih bercakap Arab dan Inggris.

Kami duduk berhadap-hadapan. Satu kamera diletakkan di belakang kami masing¬-masing. Satu lagi yang bergerak di kiri dan kanan kami. Mungkin untuk mendapatkan gambar ekspresi wajah kami secara lebih jelas saat wawancara berlangsung. Pendek kata, kami berdua bagaikan artis film atau sinetron yang dikerubuti sekian banyak crew di bawah sorotan kamera dengan lampu yang sangat terang.

Pertanyaan yang diajukan tentu saja di seputar mengapa HT menolak demokrasi? Ketika menolak demokrasi, apakah berarti HT mendukung teokrasi? Kalau tidak, lalu sistem politik seperti apa yang dimaksud? Lalu bagaimana cara pemimpin dipilih? Kalau boleh rakyat memilih langsung, lantas di mana bedanya dengan demokrasi? Bagaimana pula nasib rakyat non-Muslim nantinya? Ada juga pertanyaan tentang terorisme, tetapi itu hanya sekilas dan tidak terlalu mendominasi keseluruhan wawancara yang berlangsung sekitar dua jam lamanya.

Alhamdulillah, wawancara berjalan lancar dan semua pertanyaan yang diajukan bisa saya jawab dengan baik meski harus dilakukan dengan pelan-pelan karena sambil berpikir untuk menemukan kata atau kalimat yang tepat dalam bahasa Inggris. Lagi pula hampir semua pertanyaan tadi masuk kategori FAQ atau frequently asked questions (pertanyaan yang berulang ditanyakan).

Saya jelaskan, bahwa HT menolak demokrasi karena inti atau substansi dari demokrasi, yakni ide kedaulatan rakyat yang perwujudannya berupa hak membuat hukum serta menentukan
benar dan salah ada pada wakil rakyat atau parlemen, itu bertentangan dengan Islam. Islam meyakini bahwa hak untuk membuat hukum, menentukan benar dan salah, menetapkan halal dan haram hanyalah pada Allah SWT. Namun, meski begitu tidak berarti HT mendukung teokrasi, karena pemimpin dalam sistem Khilafah tetaplah dipilih oleh rakyat, sedangkan dalam teokrasi pemimpin dianggap sebagai titah dari Tuhan dan can do no wrong alias maksum. Bedanya, dalam sistem Khilafah, pemimpin dipilih oleh rakyat untuk melaksanakan syariah, sedangkan dalam sistem demokrasi pemimpin dipilih untuk melaksanakan kedaulatan rakyat atau melaksanakan hukum yang telah ditetapkan oleh wakil rakyat dalam parlemen, baik dalam penetapan hukum itu mengacu pada syariah ataupun tidak. Jadi, dalam demokrasi, kalaulah ada syariah, itu hanya sebagai option (pilihan), bukan sebagai obligation (kewajiban). Padahal dalam pandangan Islam, syariah semestinya menjadi kewajiban. Kalaupun sebagai pilihan, maka syariah mestinya menjadi satu-satunya pilihan (the only option).

Wawancara berlangsung hangat. Kadang diselingi sedikit debat. Tak jarang ia tertawa dan mengangguk-angguk. Latar belakang keislamannya terlihat sangat membantu dalam ia bertanya dan mendalami tiap jawaban yang saya sampaikan. Tidak salah Prof. Emmerson memilih dia sebagai interviewer.

Wawancara terus berjalan hingga tiba pada pertanyaan tentang tentang syarat khalifah, ia bertanya, “Apakah khalifah nantinya mesti seorang Muslim?” Tentu saja saya jawab, “ya, harus.” Dengan cepat ia bertanya lagi, “Kalau begitu, bukankan itu diskriminatif, karena hanya seorang Muslim saja yang bisa menjadi khalifah, sementara warga negara non-Muslim tidak bisa.”

Terns terang, saya merasa agak sedikit terkejut. Belum pernah ada sebelumnya yang bertanya seperti ini, apalagi dengan kesan menyudutkan. Namun, tentu saja saya tidak boleh kaget lama-lama. Dalam waktu singkat saya harus segera menemukan jawabannya.

Saya katakan kepada dia, bahwa terkait dengan siapa yang boleh menjadi kepala negara, dalam setiap sistem politik—sistem politik apapun itu dan di negara manapun—pasti ada limitasi atau pembatasan. Dalam sistem politik Amerika Serikat, misalnya, saya memberi contoh, juga ada limitasi, bahwa presiden Amerika Serikat haruslah seorang warga negara Amerika Serikat yang lahir di Amerika Serikat. Selain itu tidak boleh (Sekadar catatan, Barack Obama, presiden AS kulit hitam pertama, lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961. Toh begitu. sempat mendapatkan resistensi dari sebagian warga negara AS. Ia dianggap kurang Amerika karena ayahnya berasal dari Kenya).

Jad,. limitasi dalam sebuah sistem politik adalah sesuatu yang wajar. Begitu juga dalam Islam, bahwa khalifah haruslah seorang Muslim. Bedanya, limitasi dalam sistem politik AS dan sistem politik di negara lain yang sejenis, itu berdasar pada sesuatu yang tidak bisa diubah. Maksudnya, tempat kelahiran kan tidak bisa diubah-ubah. Sekali Anda dilahirkan di Indonesia, misalnya, tidak mungkin diubah menjadi lahir di Amerika Serikat, sehingga selamanya Anda tidak mungkin menjadi presiden AS. Sebaliknya, limitasi dalam sistem politik Islam itu berdasar pada sesuatu yang bersifat pilihan, dan karena itu bisa diubah. Keislaman seseorang, sebagaimana juga ketidakislaman, adalah buah dari pilihan. Tiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Karena Anda non-Muslim, maka Anda tidak mungkin menjadi khalifah. Namun, begitu Anda berubah menjadi Muslim, saat itu juga Anda bisa menjadi seorang khalifah. Dengan demikian limitasi yang ditetapkan oleh Islam itu lebih rasional ketimbang sistem politik manapun yang menggunakan limitasi atas dasar primordialisme. Jadi, siapa sebenarnya yang diskriminatif?

Dia diam sesaat, sebelum akhirnya dia melanjutkan wawancara dengan pertanyaan lain.

________________________________________________________________

“Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”
Jika ikhwan wa akhwat fiLLAH meyakini adanya kebenaran di dalam tulisan dan fans page ini, serta ingin meraih amal shaleh, maka sampaikanlah kepada saudaramu yang lain. Bagikan (share) tulisan/gambar ini kepada teman-teman facebook yang lain dan mohon bantuannya untuk mengajak teman-teman anda sebanyak mungkin di KOMUNITAS RINDU SYARIAH & KHILAFAH, agar syiar kebaikan dapat LEBIH TERSEBAR LUAS DI BUMI INI….

fans page KOMUNITAS RINDU SYARIAH & KHILAFAH
http://www.facebook.com/SyariahKhilafah

twitter KOMUNITAS RINDU SYARIAH & KHILAFAH
https://twitter.com/spirit4khilafa

Ikhwan wa akhwat fiLLAH juga bisa mentag pada gambar ini….
________________________________________________________________

Saudaraku Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT, bergabunglah bersama HIZBUT TAHRIR dan bersama kita mendakwahkan Islam, berdakwah mengajak kaum muslim hidup dalam tatananan syariah Islam dalam semua sendi kehidupan, dan berjuang agar diterapkannya Syariah Islam dan Khilafah Islamiyah, Karena Allah SWT.

Jika Saudara/i ingin bergabung, bisa melayangkan pesan berupa nama asli, alamat, dan no.telp yang bisa dihubungi pada inbox fan page serta tulis juga motivasi anda ingin memperjuangkan Syariah dan Khilafah.
________________________________________________________________

Jazaakumullah Khairan wa Syukron Katsiiran ‘Alaa Husni Ihtimaamikum.

Penulis bersama Pak Ismail Yusanto pada 2011 di Khilafah Conference di Kuala Lumpur

Himpunan Hadis dan Ayat Al Quran dalam perihal politik

Assalamualaikum warohmatullahiwabarakatuh….

Sekadar menghimpun ayat-ayat suci Al Quran yang memperkata akan perihal politik. Semoga mendapat iktibar dan manfaat.

1. “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya dan ulil amri di antara kamu” [TMQ an-Nisa’(4):59]. 


2. “Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah (untuk berhukum dengan Kitabullah) dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebahagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu kerana) dalam hati mereka ada penyakit atau (kerana) mereka ragu-ragu (terhadap hukum Allah), ataukah (kerana) kerana takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya mereka itulah orang-orang yang zalim” [TMQ an-Nur (24):48-50]. 

3. “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang diturunkan Allah kepadamu” [TMQ al-Maidah (5):49].


4. “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang yang kafir” [TMQ al-Ma’idah (5):44]. 


5. “Sesungguhnya menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang hak dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”[TMQ al-An’am (6):57]. 


6. Sesungguhnya jawapan orang-orang Mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan ‘kami dengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” [TMQ an-Nur (24):51]


7. “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” [TMQ al-An’am (6):57]. 


8. “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedangkan kamu mengetahui” [TMQ al-Baqarah (2):42]. 


9. “Dan Kami hendak memberi kurnia (dengan memberikan pertolongan) kepada orang-orang yang tertindas di negeri itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” [TMQ al-Qasas (28):5]. 


10. “Adakah mereka ingin mencari kemuliaan di sisi mereka (orang-orang kafir) walhal semua kemuliaan itu milik Allah” [TMQ an-Nisa(4):139].

11. Telah nyata kebencian (terhadap Islam) dari mulut-mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi” [TMQ Ali Imran (3):118].


12. Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari Kiamat)” [TMQ al-Mukmin (40):51].


13. “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Kitab dan kufur terhadap sebahagian. Maka tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu di antara kamu kecuali kehinaan pada kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka akan dikembalikan ke dalam azab yang amat pedih. Dan Allah tidak lalai terhadap apa yang kamu lakukan” [TMQ al-Baqarah (2):85].


14. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa…” [TMQ an-Nur (24):55]. 


15. Katakanlah (wahai Muhammad): “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” [TMQ Surah Yusuf (12):108].


16. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sedikit keberatan pun terhadap keputusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya” [TMQ an-Nisa’ (4):65].


17. “Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi” [TMQ al-Fath (48):28]



18. “Wahai orang-orang yang beriman, siapa sahaja di antara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai Allah, yang bersikap lembut terhadap orang Mukmin dan keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah kurnia Allah yang diberikan kepada siapa sahaja yang dikehendakinya. Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui” [TMQ al-Ma’idah (5):54]. Ibnu Katsir mentafsirkan ayat ini sebagai, “Allah SWT mengkhabarkan kekuasaannya yang besar. Siapa pun yang tidak mahu menolong agama Allah dan menjalankan syariatNya, maka Allah akan menggantikan mereka dengan orang-orang yang lebih baik, lebih kuat dan lebih lurus pendiriannya daripada mereka yang sebelumnya”. FirmanNya yang lain, “Jika kalian berpaling, nescaya Dia akan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan mereka tidak seperti kalian” [TMQ Muhammad (47):38]. “Jika Allah menghendaki, nescaya Dia akan memusnahkan kalian wahai manusia dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai ganti kalian)” [TMQ an-Nisa’ (4)133]. 


19. Mereka hanya mengetahui perkara yang zahir nyata dari kehidupan dunia sahaja, dan mereka tidak pernah ingat hendak mengambil tahu tentang hari akhirat.
[TMQ Ar Ruum (30)7]



20. Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di medan peperangan yang banyak dan juga pada hari peperangan Hunain, iaitu di waktu kalian menjadi congkak kerana ramainya jumlah kalian. Maka jumlah yang ramai itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman. Dan Allah menurunkan bala tentera yang kalian tidak melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir. Dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir” [TMQ at-Taubah (9):25-26].


21. Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (kelompok) yang mengajak pada kebajikan (Islam), memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beroleh kemenangan” [TMQ Ali Imran (3):104]. 


22. Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar” [TQM al-Baqarah (2):249]. 


23. “Dan janganlah sekali-kali kamu (wahai Muhammad) mengira bahawa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbeliak. Mereka datang bergegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepala mereka, sedang mata mereka tidak berkedip dan hati mereka kosong” [TMQ Ibrahim (14): 42].


24. “Sesungguhnya Allah memberi tempoh kepada orang-orang yang zalim sehingga Dia menyeksanya dan Dia tidak akan melepaskannya”. Kemudian baginda membaca ayat “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah amat pedih dan keras” [TMQ Hud (11):102].


25. “Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di medan peperangan yang banyak dan juga pada hari peperangan Hunain, iaitu di waktu kalian menjadi congkak kerana ramainya jumlah kalian. Maka jumlah yang ramai itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman. Dan Allah menurunkan bala tentera yang kalian tidak melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir. Dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir” [TMQ at-Taubah (9):25-26].

26. “Mereka itulah musuh (yang sebenarnya)maka berwaspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai berpaling (dari kebenaran)” [TMQ al-Munafiqun (63):4]

27. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui” [TMQ al-Anfal (8):27]. 



28. “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah)” [TMQ an-Nisa’ (4):59]. 


29. “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNyalah kalian akan dikumpulkan” [TMQ al-Anfal (8):24].

30. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu (Ya Rasulullah) berlaku lemah lembut terhadap mereka (kaum Muslimin). Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerana itu maafkanlah mereka, mohonkanlah keampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka…” [TMQ Ali Imran (3):159]. 


31. “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya danbagi orang-orang Mukmin dan orang-orang munafik itu tidak mengetahui”[TMQ al-Munafiqun (63):8].


32. “Sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), kerana jalan-jalan lain itu mencerai-beraikan kalian dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepada kalian agar kalian bertakwa” [TMQ al-An’am (6):153]. 


33. “Pada saat itulah, hati seluruh kaum Mukmin akan bergembira kerana pertolongan Allah” [TMQ ar-Rum (30):4-5].


34. Demikian pula, Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umattan wasatan agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian” [TMQ al-Baqarah (2):143]. 


35. “Siapa sahaja yang mendurhakai (memaksiati) Allah dan RasulNya serta melanggar hudud (ketetapan-ketetapanNya) nescaya Dia akan memasukkannya ke dalam api neraka, sedangkan ia kekal di dalamnya” [TMQ an-Nisa’ (4):14]. 


36. Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama (ideologi dan pemikiran) yang lain, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya” [TMQ at-Taubah (9):33]. 

37. Barangsiapa yang mengambil Allah, RasulNya serta orang-orang beriman sebagai penolongNya, maka sesungguhnya hizb (pengikut) (agama) Allah itulah yang pasti menang” [TMQ al-Ma’idah (5):56]. 


38. Merekalah kelompok (hizb) Allah. Ingatlah bahawa hizbullah itulah yang pasti menang” [TMQ al-Mujadilah (58):22]


39. “Mereka (Yahudi dan Nasara) menjadikan orang-orang alimdan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”[TMQ at-Taubah (9):31].


40. “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan” [TMQ Hud (11):113].


41. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada taghut padahal mereka telah diperintah mengingkari taghut itu dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” [TMQ an-Nisa’ (4):60].


42. “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang membuat perbaikan’. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang membuat kerosakan tetapi mereka tidak sedar” [TMQ al-Baqarah (2):10-11]. 


43. “Di antara orang-orang Mukmin itu, ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu (apa yang Allah janjikan ke atas mereka) dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)” [TMQ al-Ahzab (33):23].



44. “Di antara orang-orang Mukmin itu, ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu (apa yang Allah janjikan ke atas mereka) dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)” [TMQ al-Ahzab (33):23].



45. “Terangkanlah kepadaKu tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahawa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami?  Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” [TMQ al-Furqan (25):43-44].


46. “Dan siapa sahaja yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” [TMQ an-Nisa’ (4):115]. 



47. “Itulah hudud (larangan) Allah, maka janganlah kamu mendekatinya” [TMQ al-Baqarah (2):187]. 


48. Itulah hudud (hukum-hukum) Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri” [TMQ at-Thalaq (65):1]. 


49. “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (zina) wanita-wanita yang baik-baik, yang tidak terlintas pun untuk melakukan perbuatan keji itu, lagi beriman, mereka dilaknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka azab yang besar” [TMQ An Nur (24):23]. 


50. Wahai orang-orang yang beriman, bahawa sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan” [TMQ al-Ma’idah (5):90]. 


51. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerosakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya)” [TMQ Al-Mai’dah (5):33]. 


52. “Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang yang zalim” [TMQ al-Ma’idah (5):45]. 


53. Telah nyata kerosakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan-perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [TMQ ar-Rum (30):41].


54. Orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan senang kepada kamu sehinggalah kamu mengikuti milah mereka” [TMQ al-Baqarah (2):120]


55. “Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu agar engkau menghukumi di antara manusia sesuai dengan apa yang diwahyukan Allah kepadamu” [TMQ an-Nisa’ (4):105]


56. “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak beriman kepada hari akhirat, dan mereka tidak pula mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak beragama dengan agama yang benar, iaitu dari orang-orang yang diberikan Kitab (Yahudi dan Nasrani), sehingga mereka membayar jizyah dengan keadaan tunduk” [TMQ at-Taubah (9):29]


57. “Dan barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [TMQ al-Ma’idah (5):47].



58. Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapakah kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu syahwatmu (kepada mereka) bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas” [TMQ Al A’raf (7):80-81]. 

59. “Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu” [TMQ az-Zariyat (51):50].


60. Tidakkah engkau (hairan) melihat (wahai Muhammad) orang-orang (munafik) yang mendakwa bahawa mereka telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-kitab) yang telah diturunkan dahulu daripadamu? Mereka suka hendak berhakim kepada Taghut, padahal mereka telah diperintahkan supaya kufur ingkar kepada Taghut itu. Dan Syaitan pula sentiasa hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
(TMQ An Nisa 4:60)

61.  “…Dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (TQS. al-A’râf[7]: 199)

62. “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan taatlah kepadaku. Janganlah kalian mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas; mereka adalah para pembuat kerosakan di muka bumi dan tidak melakukan perbaikan” [TMQ asy-Syuara’(26):150-152].


63. “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khuatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” [TMQ al-Ahzab (33):72).









1. “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu (hendaklah ia mengubahnya) dengan lisannya, jika tidak mampu, dengan hatinya. Akan tetapi, yang demikian itu (dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman” [HR Muslim]. 


2. Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Mutallib dan orang-orang yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim, memerintahkannya kepada kemakrufan dan melarangnya dari kemungkaran, kemudian dia (pemimpin tersebut) membunuhnya” [HR Hakim].


3. “Jihad yang paling agung adalah menyatakan kalimat yang hak di hadapan penguasa yang jahat/zalim” [HR Abu Daud].


“4. Adapun mereka (Yahudi dan Nasara) tidak menyembah (sujud) kepara orang-orang alim dan rahib-rahib mereka, akan tetapi jika orang-orang alim dan rahib-rahib itu menghalalkan sesuatu untuk mereka, maka mereka pun menghalalkannya dan jika orang-orang alim dan para rahib itu mengharamkan sesuatu atas mereka maka mereka pun mengharamkannya, inilah yang dikatakan menjadikannya Tuhan”[HR at-Tirmidzi]. 


5. “Tidak halal bagi tiga orang yang berada di muka bumi kecuali melantik seorang ketua di kalangan mereka” [HR Abu Daud].


6. “Ketahuilah bahawa roda Islam itu akan terus berputar, maka ikutilah roda Islam itu di mana sahaja ia berputar. Ketahuilah bahawa Al-Quran dan kekuasaan akan berpisah, maka janganlah kamu berpisah daripada Al-Quran. Ketahuilah bahawasanya kamu akan dikuasai oleh para penguasa yang memutuskan perkara hanya untuk kepentingan mereka sahaja dan bukan untuk kepentingan kamu. Jika kamu mengingkari perintah mereka, maka mereka akan membunuhmu dan jika kamu mematuhi mereka, maka mereka akan menyesatkan kamu. ‘Para sahabat bertanya, ‘Apa yang harus kami lakukan wahai Rasulullah?’ Jawab Nabi SAW, ‘Lakukanlah seperti para sahabat Isa bin Maryam as. Mereka telah digergaji dengan gergaji dan digantung di atas kayu (salib). Sesungguhnya mati kerana mentaati Allah adalah lebih baik daripada hidup dengan melakukan maksiat kepada Allah.” [HR At Tabrani]


7. “Daripada Abu Hurairah ra, ia berkata, Nabi saw bersabda: ‘Sesungguhnya Imam/Khalifah itu adalah perisai. Di belakangnya umat berperang dan dengannya  umat berlindung. Apabila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun apabila ia memerintah dengan selain daripadanya, maka ia akan mendapat akibatnya.” [HR Muslim] 


8. “Islam pasti mencapai wilayah yang diliputi oleh siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah yang megah mahupun sederhana melainkan akan memasukkan agama ini (Islam) ke dalamnya dengan memuliakan orang-orang yang mulia dan menghinakan orang-orang yang hina; mulia kerana Allah memuliakannya dengan Islam; hina kerana Allah menghinakannya dengan kekafiran” [HR Ahmad].


9. “Tidak akan terjadi Kiamat hingga kaum Muslimin memerangi Yahudi sehingga kaum Yahudi itu bersembunyi di balik batu-batu dan pohon-pohon. Lalu batu dan pohon itu berseru, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, ke mari dan bunuhlah dia” [HR Muslim]


10. “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada.  Lalu  Dia mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada zaman Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah; ia tetap ada atas izin Allah.  Lalu Dia mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada zaman Mulkan Adhan (kerajaan yang menggigit); ia tetap ada atas izin Allah.  Lalu  Dia mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada Mulkan Jabariyah (pemerintahan diktator); ia tetap ada atas izin Allah. Lalu  Dia mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan kembali zaman Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah. Kemudian baginda diam” [HR Ahmad].


11. “Sesungguhnya Allah telah menampakkan (seluruh) bumi di hadapanku, sehingga aku (dapat) menyaksikan bahagian-bahagian timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan menjangkau bahagian-bahagian bumi yang ditampakkan kepadaku” [HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah dari Tsauban ra]


12. “Kota manakah yang akan dibebaskan (oleh kaum Muslimin) terlebih dahulu, Constantinople atau Rom? Nabi SAW menjawab, ‘Kotanya Hiraklius (Constantinople) yang akan dibuka lebih dahulu”. [HR Ahmad]


13. “Tidak selayaknya seorang Mukmin itu dipatuk dari lubang yang sama dua kali” [HRBukhari& Muslim].

14. “Adapun sinar pertama, denganya Allah akan menaklukkan Yaman untukku. Adapun sinar kedua, dengannya Allah akan menaklukkan Syam dan Negeri-negeri Barat untukku. Sedang sinar yang ketiga, denganyya Allah akan menaklukkan negeri-negeri timur untukku“[HR Ibn Hisyam]


15. Sesiapa yang mendapatkan keredhaan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah akan meninggalkannya kepada manusia (tidak membantunya) dan sesiapa yang mencari keredhaan Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan mencukupkan keperluannya”[Dikeluarkan oleh Tarmizi dan Abu Na’im di dalam Al-Haliyah dari Aisyah].


16. Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kalian berlindung dan berperang di belakangnya” [Dikeluarkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah].


17. “Sesiapa sahaja yang melepaskan dirinya dari ketaatan (kepada Khalifah) maka dia akan bertemu dengan Allah di hari kiamat tanpa hujjah. Sesiapa sahaja yang mati tanpa bai’ah di lehernya maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah” [Dikeluarkan oleh Muslim dari Abdullah bin Umar]. 


18. “Dahulu, Bani Israel dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, digantikan dengan Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada Nabi sesudahku. (tetapi) nanti akan ada ramai Khalifah’. Para sahabat bertanya: ‘Apakah yang engkau perintahkan kepada kami?’ Baginda menjawab: ‘Penuhilahbai’at yang pertama dan yang pertama itu sahaja”  [Dikeluarkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah]. 


19. “Sudah hampir tiba suatu zaman di mana tidak tinggal lagi daripada Islam ini kecuali hanya namanya dan tidak tinggal daripada Al-Quran itu kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka tersergam indah, tetapi ia roboh daripada petunjuk. Ulama yang ada adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah naungan langit. Dari mereka berpunca fitnah dan kepada mereka fitnah ini akan kembali” [HR al-Baihaqi].

20. “Sesungguhnya seorang lelaki dari Bani Aslam datang kepada Nabi SAW sedangkan baginda berada di dalam masjid. Kemudian lelaki itu mengaku bahawa dia telah berzina. Maka baginda memalingkan darinya dan menjauhinya. Lalu lelaki itu pun bersaksi sebanyak 4 kali (bahawa ia telah berzina). Kemudian Nabi SAW memanggilnya dan bersabda, ‘apakah engkau gila/mempunyai penyakit gila? Apakah engkau seorang muhsan (telah berkahwin)?’ Dia menjawab, ‘Ya’. Lalu baginda memerintahkan agar dia dirajam…” [HR Bukhari]. 


21. Akan tiba satu masa di mana ilmu itu akan hilang.’ Ziyad berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu boleh hilang sedangkan kita membaca Al-Quran dan mengajarkannya kepada anak-anak kita dan anak-anak kita membaca Al-Quran dan mengajarkannya kepada anak-anak mereka sehinggalah hari Kiamat.’ Baginda menjawab, ‘Wahai Ziyad, semoga ibumumenangisimu, aku kira engkau adalah orang yang sangat memahami agama di Madinah. Adakah engkau tidak melihat bahawa orang-orang Yahudi dan Nasara juga membaca Taurat dan Injil, tetapi mereka langsung tidak mengamalkan isinya?” [HR Ahmad, Ibnu Majah, Tarmizi].

22. “Sesungguhnya Allah mengangkat kedudukan satu kaum dengan kitab ini (Al-Quran) dan merendahkan kedudukan satu kaum yang lain (dengan al-Quran)” [HR Muslim]. 


23. Ingatlah bahawa pusat kepada Islam itu adalah di Syam” [HR at-Thabrani dalam al-Kabeer daripada Salamah bin Nufail]. 


24. “Sesungguhnya pusat negara kaum Mukmin itu di Syam” [HR Ahmad] 


25. “Demi Allah, wahai bapa saudaraku, andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini (dakwah Islam), sungguh aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan aku atau aku mati kerananya!”  [HR Baihaqi] 

26. Bahawa seorang lelaki mengaku di hadapan Rasulullah yang dia telah berzina. Kemudian baginda memerintahkan supaya lelaki tersebut disebat sebagai had kepadanya, tetapi kemudian didapati bahawa lelaki tersebut adalah muhsan, maka baginda pun merejamnya” [HR Abu Daud]. 
27. Dari Anas bin Malik ra “Bahawa Rasulullah SAW memukul (para peminum khamar) sebanyak 40 kali dengan pelepah kurma dan sandal” [HR Bukhari]. 

28. Barangsiapa menukar agamanya (murtad), maka bunuhlah dia” [HR Bukhari].

29. “Bukan dari kalangan kami orang yang menyeru kepada assabiyyah, orang yang berperang kerana assabiyyah dan mati kerana (mempertahankan) assabiyyah” [HR Abu Dawud].

30. “Allah menjamin orang orang yang berjihad dijalanNya, dia tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk berjihad dijalanNya dan membenarkan kalimatNya bahawa Dia akan memasukkannya ke dalam syurga, atau mengembalikannya ke tempat tinggalnya yang dia keluar darinya dengan membawa pahala dan ghanimah yang didapatkannya……Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditanganNya, sungguh aku ingin terbunuh dijalan Allah, lalu aku hidup lalu terbunuh, lalu aku hidup lalu terbunuh, lalu aku hidup lalu aku terbunuh” [HR Bukhari & Muslim].

31. Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam (perkara) memaksiati Allah” [HR Ahmad]. 

32.  “Sampaikan dariku walaupun satu ayat” [HR Bukhari]

33. “Sesungguhnya Allah telah menampakkan (seluruh) bumi di hadapanku, sehingga aku (dapat) menyaksikan bahagian-bahagian timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan menjangkau bahagian-bahagian bumi yang ditampakkan kepadaku” [HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah dari Tsauban ra].

34. “Manusia itu bersyarikat (bersekutu) dalam tiga perkara (iaitu) air, padang ragut dan api” [HR Abu Daud & Ahmad]. 

35. “Barangsiapa membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang hak, maka ia tidak akan mencium wangi syurga, walaupun dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun” [HR Ahmad]

36. “Dikatakan, wahai Rasulullah, apakah kami harus memerangi mereka dengan pedang? Rasulullah menjawab, ‘Tidak, selama mana mereka mendirikan solat (menegakkan hukum Islam) di antara kamu” [HR Muslim]. 

37. 
Daripada Huzaifah daripada Nabi SAW, Baginda bersabda : “Bahawasanya akan wujud (akan datang) para pemerintah yang berbohong dan berlaku zalim. Barangsiapa yang membenarkan pembohongan mereka dan membantu atas kezaliman mereka, maka (mereka) bukan daripada (golongan) kami dan aku bukan daripada (golongan) mereka, dan dia tidak akan menemuiku di haudh minum (telaga kauthar di akhirat kelak). (Sebaliknya) sesiapa yang tidak membenarkan pembohongan mereka dan tidak membantu atas kezaliman mereka, maka dia daripada (golongan) ku dan aku daripada (golongan) nya dan dia akan bertemuku di haudh” minum bersamaku di telaga khautsar. (Riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya)


38. Sungguh kalian akan mengikuti jejak langkah orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga apabila mereka memasuki lubang dhab (biawak), nescaya kalian mengikutinya. Para sahabat bertanya, apakah maksudnya orang-orang (yang diikuti itu) Yahudi dan Nasrani? Beliau berkata: siapa lagi kalau bukan mereka” [HR. Bukhari Muslim].

39. “Akan datang kepada umatku suatu zaman di mana orang yang berpegang kepada agamanya laksana menggenggam bara api” [HR Tirmizi].

40. Islam mula tersebar dalam keadaan asing dan ia akan kembali asing. Maka beruntanglah orang-orang yang asing” [HR Muslim].


41.  “Daripada Tsauban Radiallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda: “Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka”. Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah dari kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah wahan itu hai Rasulullah?” Nabi kita menjawab, “Cinta pada dunia dan takut pada mati”. [HR Abu Dawud]


42. Orang yang memungut cukai tidak akan masuk syurga.” [HR Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim].


43. Sesungguhnya pemungut cukai itu berada dalam neraka” [HR Ahmad]


44. “Sekiranya kamu menjumpai pemungut ’usyur (cukai yang dipungut di sempadan antara negara Islam dan negara kufur), maka bunuhlah dia” [Musnad, Imam Ahmad bin Hambal]


45. “Kaum Muslimin bersyarikat (berkongsi) dalam tiga perkara iaitu air, padang ragut dan api” [HR Abu Daud]


46. “Tiga hal yang tidak akan pernah dilarang (dari manusia memanfaatkannya) adalah air, padang ragut dan api” [HR Ibnu Majah].


47. “Tangan dipotong bagi kecurian suku (satu per empat) dinar atau lebih. [HR Bukhari] 


48. Setelah Islam datang, Rasululllah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam mengakui (men-taqrir) berbagai muamalat yang menggunakan dinar Romawi dan dirham Parsi. Taqrir (pengakuan) dari Rasulullah inilah yang telah memperjelaskan kepada kita bahawa inilah sistem matawang Islam dan sekaligus menjadi hukum syara’ tentang kewajiban penerapannya. Sehubungan dengan dinar dan dirham ini, Rasulullah juga telah mengakui standard timbangan yang wujud pada waktu itu hendaklah diukur dengan menimbang berat dinar dan dirham. Tentang ini Rasulullah bersabda,

 Takaran adalah takaran penduduk Madinah dan timbangan adalah timbangan penduduk Makkah

[HR Abu Daud, an-Nasa’i, al-Baihaqi]


49. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku” Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan(Islam) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?” Beliau berkata : “Ya” Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?” Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”. Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?” Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya” Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?” Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka” Aku bertanya: “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?” Beliau menjawab: “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita(Bahasa Arab)” Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini” Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka” Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?” Beliau menjawab: ”Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu” [HR Bukhari, Muslim, Ahmad & Ibnu Majah]

50Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah saw., bagaimana pendapatmu tentang seorang yang mencintai suatu kaum tapi tidak mampu menyusul (amal shaleh) mereka?” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” [HR Bukhari dan Muslim]

51. “Sentiasa ada satu golongan daripada kalangan umatku yang menzahirkan kebenaran, tidak akan memberi mudarat kepada mereka orang yang meninggalkan mereka sehingga datang hari kiamat dan mereka dalam keadaan tersebut”. (Riwayat Muslim)

52. Rasulullah s.a.w bersabda kepada Ibnu Hawalah “Wahai Ibnu Hawalah, Jika Engkau melihat KHILAFAH telah kembali ke Tanah Suci (Jerusalem), maka saat goncangan, bencana dan kejadian-kejadian besar akan sampai, dan waktu (kiamat) itu, lebih dekat dengan manusia daripada dekatnya antara tanganku dengan kepalamu. (HR Abu Dawud, disahihkan oleh Al-Albani)



53. “Wahai manusia! Sesungguhnya binasa orang yang terdahulu daripada kamu kerana mereka itu apabila seorang bangsawan dalam kalangan mereka mencuri, dia dibiarkan. Apabila seorang yang lemah dalam kalangan mereka mencuri, dilaksanakan hukum ke atasnya. Demi Allah! Jika Fatimah anak Muhammad (puteri Rasulullah) itu mencuri, nescaya ku potong tangannya” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)


54. Sungguh mengkagumkan urusan orang yang beriman, kerana seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka syukur adalah kebaikan baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, maka sabar itu merupakan kebaikan baginya. Hal seperti ini tidak akan didapati pada seseorang kecuali orang yang beriman [HR Muslim]


55. Sesungguhnya Rasulullah saw di sebahagian waktunya ketika perang, baginda menunggu hingga matahari condong ke barat, kemudian baginda berdiri di hadapan kaum muslimin dan berkata, wahai manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan dari Allah. Tapi, jika kalian bertemu dengan musuh, maka bersabarlah. Dan ketahuilah, syurga ada di bawah bayang-bayang pedang. Kemudian baginda berdoa “ya Allah, zat yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan dan menghancurkan musuh, hancurkanlah mereka dan tolonglah kami untuk mengalahkan mereka”. [HR Bukhari dan Muslim]


56. “Barangsiapa (bangun) di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas diri dari orang itu. Dan barang siapa (bangun) di pagi hari tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia tidak termasuk dari mereka (kaum Muslimin)” [HR Hakim]. 



57. “Sesiapa yang memanggil orang lain dengan ‘kafir’ atau ‘musuh Allah’ sedang dia tidak begitu, maka tuduhan itu kembali kepadanya (penuduh)”. [Riwayat al-Bukhari dan Muslim]


58. Allah menerangi orang yang mendengar perkataanku (hadis), kemudian ia menyedarinya, menjaganya dan menyampaikannya. Terkadang ada orang yang membawa pengetahuan kepada orang yang lebih tahu darinya. Ada 3 perkara yang menyebabkan hati seorang muslim tidak dirasuki sifat hasad dengki iaitu; ikhlas beramal kerana Allah, MENASIHATI PARA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN, dan SENTIASA ADA DALAM JAMAAH AL MUSLIMIN. Kerana dakwah akan menyelimuti dari belakang mereka…. [HR at Tirmizi] dinukil oleh Imam As Syafie dalam ar Risalah.




59.  Daripada Abdullah ibnu Umar: “Wahai kaum Muhajirin! Ada 5 perkara di mana jika telah menimpa kamu maka tiada lagi kebaikan bagi kamu. Dan aku berlindung dengan Allah S.W.T agar kamu tidak menemui zaman itu. 5 perkara itu ialah:  [1] Tidak bermaharajalela perbuatan zina pada suatu kaum sehingga mereka berani secara terang-terang melakukannya melainkan akan ditimpa penyakit Taun yang merebak dengan cepat dan mereka akan ditimpa penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa umat-umat yang lain. [2] Tiada mereka mengurangi sukatan atau timbangan melainkan mereka akan diuji dengan kemarau panjang dan kesulitan dalam mencari rezeki serta berhadapan dengan kezaliman daripada kalangan pemimpin mereka. [3] Dan tidak menahan mereka akan zakat harta benda melainkan ditahan juga untuk mereka air hujan dari langit. Jika tiada binatang yang hidup di muka bumi ini nescaya mereka tidak diberikan hujan oleh Allah S.W.T. [4] Dan tiada mereka menyalahi akan janji Allah S.W.T dan rasulNya melainkan Allah S.W.T akan menurunkan kepada mereka musuh yang akan merampas sebahagian daripada apa yang ada di tangan mereka. [5] Dan apabila pemimpin-pemimpin mereka tidak melaksanakan hukum Allah S.W.T  yang terkandung dalam al-Quran dan tidak mahu menjadikannya sebagai pilihan utama maka Allah S.W.T akan menjadikan bencana di kalangan mereka sendiri” [HR Ibn Majah]

60.  “Janganlah kerana takut kepada manusia menyebabkan engkau takut bercakap perkara yang benar apabila engkau tahu dan melihatnya. Maka sesungguhnya bercakap benar itu tidak memendekkan umur dan mengurangkan rezeki bila bercakap benar atau menyebut perkara yang besar[HR Ahmad]

61. “Ya Allah! Jangan Engkau ketemukan aku dengan suatu masa atau mudah-mudahan kamu wahai para sahabat tidak akan bertemu dengan suatu masa di mana orang alim sudah tidak diikut lagi dan orang yang berbudi pekerti tidak disegani lagi. Hati mereka seperti orang ‘ajam(pada fasiknya) dan lidah mereka seperti orang arab (pada  fasihnya)”. [HR Ahmad]

62. “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Dan pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar, dan orang yang benar dikatakan berdusta. Orang khianat akan disuruh memegang amanah, dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap hanyalah golongan ‘Ruwaibidhah’. Sahabat bertanya, ‘Apakah Ruwaibidhah wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Orang bodoh yang bercakap mengenai urusan orang ramai” [HR Ahmad].

63.“Seseorang yang ditetapkan Allah (dalam kedudukan) mengurus umat dan dia tidak memberikan nasihat kepada mereka (umat), dia tidak akan mencium bau syurga.” [HR Bukhari]


64. “Seseorang yang memimpin kaum Muslimin dan dia mati sedangkan dia menipu mereka (umat) maka Allah akan mengharamkannya masuk syurga.” [HR Bukhari & Muslim]

65. “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” [HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah].

66. “Akan berlaku selepas peninggalanku nanti para pemimpin yang tidak mengikut petunjukku, tidak mengikut sunahku dengan panduan sunahku. Akan muncul pula di kalangan kamu orang-orang yang hatinya adalah hati syaitan (fasik). Aku (Huzaifah) bertanya: Apakah harus aku lakukan jika aku menemuinya? Baginda bersabda: Hendaklah kamu mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia memukul punggungmu dan merampas harta-bendamu”. [Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim].

67.  DariJabir bin Abdullah, ia berkata; Rasulullah saw bersabda:

“Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk membanggakan diri dengan ulama atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh.Dan jangan pula kamu memilih-milih majlis dengan ilmu itu. Siapasaja yang melakukan hal itu, maka neraka, nerakalah baginya”. (HR.Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, al-Hâkim dalam kitabShahih-nya. Hadits ini telah disetujui oleh adz-Dzahabi Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan Ibnu Abdil Bar dalam Jami’Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi)

68.  Aku wasiatkan hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kendati kalian diperintah oleh seorang budak, karena orang-orang yang hidup sepeninggal kalian akan melihat pertentangan yang banyak. Maka, hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Gigit (pegang erat) sunnah tersebut dengan gigi geraham. Tinggalkanlah hal-hal yang baru, karena setiap bid’ah adalah sesat”

[Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4607; At-Tirmidzi no. 2676; Ahmad 4/126-127; Ad-Darimi 1/44; Ibnu Majah no. 43,44; Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 27; Ath-Thahawi dalam Syarh Musykilil-Atsar 2/69; Al-Baghawi no. 102; Al-Ajjuri dalam Asy-Syari’ah hal. 46; Al-Baihaqi 6/541; Al-Lalika’i dalam Ushulul-I’tiqad no. 81; Al-Marwadzi dalam As-Sunnah no. 69-72; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 5/220, 10/115; dan Al-Hakim 1/95-97]

69. : “Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi no. 2951. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan).

70. Dari Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah”Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat” Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan berpeganglah kamu dengan kepada sunnah-sunnah itu dengan kuat. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” [HR. Abu Daud dan At Tirmidzi]

71. “Sebaik-baik pemimpin bagi kamu adalah orang-orang yang kamu semua cintai dan mereka pun mencintai kamu semua, juga yang kamu semua mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kamu semua.

Adapun seburuk-buruk pemimpin di antara kamu ialah orang-orang yang kamu membenci mereka dan mereka pun membenci kamu semua, juga yang engkau semua melaknat mereka dan mereka pun melaknat kamu semua.” [Hadis Riwayat Muslim, 9/403, no. 3447]

72. Daripada Ubai bin Ka’ab bahawa dia mendengar seorang lelaki berkata: “Hai keluarga si fulan!”. Lantas Ubai berkata kepada lelaki tersebut: “Gigitlah kemaluan bapamu!”. Ubai mencelanya terang-terangan tanpa menggunakan bahasa kiasan (sindiran). Lelaki tersebut berkata kepadanya: “Wahai Abul Munzir (kun-yah Ubai), engkau bukanlah orang yang gemar berkata keji”. Ubai berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa berbangga-bangga dengan slogan jahiliyah maka suruhlah dia menggigit kemaluan ayahnya dan tidak usah memakai bahasa kiasan terhadapnya” [HR Al Bukhari dalam Abadul Mufrad]

73. “Sesungguhnya selepasku ini akan adanya para pemimpin yang melakukan kezaliman dan pembohongan. Sesiapa masuk kepada mereka lalu membenarkan pembohongan mereka dan menolong kezaliman mereka maka dia bukan dariku dan aku bukan darinya dan dia tidak akan mendatangi telaga (di syurga). Sesiapa yang tidak membenar pembohongan mereka dan tidak menolong kezaliman mereka, maka dia dari kalanganku dan aku dari kalangannya dan dia akan mendatangi telaga (di syurga). Riwayat Ahmad, al-Nasai, dan al-Tirmidhi. Hadith ini sahih seperti yang dinilai oleh al-Albani.

74. Ubadah berkata, “Kami membaiat Nabi SAW untuk mendengarkan dan mentaati perintahnya, baik dalam keadaan yang kami senangi ataupun kami tidak senangi, dalam keadaan sulit ataupun lapang, serta dalam hal tidak mendahulukan urusan kami, juga agar kami tidak merebut kekuasaan dari seorang pemimpin, kecuali (sabda baginda), ‘Kalau kalian melihat kufran bawaahan (kekufuran yang nyata) yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah” [HR Bukhari & Muslim].

75. “Orang Muslim itu ialah saudara bagi orang Muslim yang lain; dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya binasa” [HR Abu Daud dan at-Tirmidzi].


76. Daripada Abu Hurairah, sabda Rasulullah SAW “Seorang Muslim adalah saudara kepada muslim yang lain, dia tidak harus mengkhianatinya, mendustakan atau mendustainya, tidak juga membiarkannya (tanpa menolong atau melindunginya). Menjadi kewajipan antara orang Islam menjaga kehormatan, harta dan darahnya” [HR at-Tirmizi]. 

Mafahim Hizb Tahrir

“Perbaikilah masyarakat, nescaya individu akan menjadi baik dan terus menerus dalam keadaan baik”


Masyarakat itu umpama air yang diletakkan di dalam sebuah tempayan, apabila disekelilingnya diletakkan sesuatu yang membekukan, maka air itu akan membeku. Begitu pula masyarakat, apabila dilontar pelbagai ideologi yang rosak, maka tentu masuarakat itu akan terkongkong dalam kerosakan dan terus merosot. Jika ditengah masyarakat dilontar ideologi yang kontradiktif, maka akan nampak penentangan dan senantiasa menimbulkan konflik dan kekacauan. Jika dibawah tempayan diletakkan api yang berkobar, maka air akan hangat dan mendidih lalu meruap memberikan tenaga yang menggerakkan. Begitu halnya apabila masyarakat dilontarkan ideologi yang benar, maka masyarakat akan dihangatkan dan membara yang akhirnya mampu menggerakkan masyarakat lalu masyarakat itu pula nanti akan menyebarkannya kepada masyarakat yang lain meskipun dijumpai perubahan dari suatu keadaan yang lain yang saling bertentangan. Proses perubahannya dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya tak dapat dilihat seperti perubahan air dalam tempayan yang tidak mampu diamati tetapi boleh dirasai dan bagi yang meyakini dan meneliti, akan pasti diyakini masyarakat itu akan menuju keadaan bergolak dan meledak.

Sungguh tempat dimana Khilafah akan tertegak tidak dapat diketahui kerana ianya tergantung kepada kesiapan masyarakat, bukan semata-mata pada kekuatan dakwah. Dakwah Islam di Makah sangat kuat sehingga layak dijadikan titik tolak dan titik tolak dakwah tetapi realitinya, daulah Khilafah yang pertama berdiri di Madinah.

Wilayah kekuasaan manusia hanyalah untuk berdakwah dan wilayah penerimaan masyarakat ialah di luar kekuasaan manusia dan hanya tergantung kepada Qada yang ditentukan oleh Allah…. 

Taqiyudddin An Nabhani- Mafahim Hizbut Tahrir

Menegakkan Islam Mesti Dengan Pilihanraya?



NAK UBAH KEPIMPINAN MESTI MASUK PILIHANRAYA!!!! TAKKAN NAK ANGKAT SENJATA KOT???? 

Betul ke…. cuba perati:
1. Tun Mahadhir bagi kuasa kepada Abdullah Badawi ada mintak pilihanraya semula? Bagi dokumen gitu je kan? 

2. Nawar Syarif kena halau dari jawatan Presiden oleh Musyarraf ada pilihanraya?

3. Suharto dapat kuasa ada Pilihanraya? 

4. Mubarak dapat kuasa dengan Pilihanraya? 


5. OK, kalau bercerita mengenai KUDETA (rampasan kuasa), long list to tell lah kan? 

PERUBAHAN KE ARAH ISLAM MESTI DILAKUKAN DENGAN PILIHANRAYA

Benar ke… cuba perati:
1. PAS menang Kelantan dah berdekad… hukum Allah yang mana dah diterapkan?

2. AKP menang kat Turkey… Turkey negara yang support USA perang Iraq, sampai hari ni tatau ka? 

3. Dr Morsi dah menang kat Mesir, tentera digerak memerangi mujahideen di semenanjung Sinai. Aik? Patut gerak lawan Israel lah kan. Takkan nak tibai orang Islam pulak????

4. Hamas dah menang mutlak pilihanraya yang “telus”… apa jadi kat Hamas? Kekuasaan yang tak diikitraf dunia Barat.

5. Cuba perati kat Malaysia, Pakatan Rakyat ingin membawa perubahan kepada Malaysia… Perubahan kemana tue…. Negara Berkebajikan? Ulama besar PR, Anuar Ibrahim kata, “kami tetap hanya akan meneruskan agenda yang disepakati bersama dalam semangat Pakatan Rakyat..” Wallahi aku tak pernah dengar DAP setuju untu mendirikan sebuah dawlah Islam yang menerapkan Islam secara kaffah… ada sesape pernah dengar????

Ringkasan Kisah Perang Jamal

Pada tahun 656 masihi, khalifah ketiga Islam iaitu Saidina Uthman bin Affan wafat kerana dibunuh oleh puak pemberontak di dalam rumahnya sendiri. Pemberontakan mereka atas sebab tidak puas hati dengan Saidina Uthman yang dikatakan mengamalkan nepotisme dan menggunakan harta baitul mal untuk keluarganya. Atas keputusan ahli Syura mencadangkan Saidina Ali supaya menjadi khalifah tetapi Saidina Ali menolak. Tetapi selepas didesak, beliau akhirnya menerima untuk menjadi khalifah

Nepotisme bermaksud melebihkan saudara-mara serta rakan-rakan yang ada hubungan dan bukannya penilaian objektif bagi keupayaan, meritokrasi atau kekesuaian terhadap sesuatu jawatan. Contohnya, tawaran jawatan kosong kepada saudara-mara, walaupun masih ada lagi orang lain yang lebih layak serta sanggup melaksanakan tugas sedemikian. Perkataan nepotisme berasal daripada perkataan Latin ‘nepos’, yang bermaksud “anak saudara” atau “cucu”.

Ali ra. memasuki kota Bashrah pada hari Isnin empat belas Jumadil Akhir tahun 36 Hijriyah. Penduduk Bashrah membai’at beliau di bawah panji-panji mereka. Sampai-sampai orang-orang yang terluka dan orang-orang yang meminta perlindungan juga membai’at beliau. Abdurrahman bin Abi Bakrah datang menemui beliau dan berbai’at kepada beliau. Beliau berkata kepadanya, “Di manakah orang yang sakit?” -yakni ayahnya-. Abdurrahman menjawab, “la sedang sakit wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya ia ingin sekali bertemu denganmu.” Ali ra. berkata, “Tuntunlah aku ke tempatnya.” Ali ra. pun pergi menjenguknya. Abu Bakrah -ayah Abdurrahman- meminta udzur kepada beliau dan beliau menerimanya. Ali ra. menawarkannya jabatan sebagai amir Bashrah, namun ia menolak. Abu Bakrah berkata,” Angkatlah seorang lelaki dari keluargamu yang dapat membuat tenang penduduk negeri ini. Abu Bakrah mengisyaratkan agar mengangkat Abdullah bin Abbas , maka Ali ra. Pun mengangkatnya sebagai amir kota Bashrah. Lalu menunjuk Ziyad bin abihi sebagai petugas penarik pajak dan penanggung jawab Baitul Mai. Ali ra. memerintahkan Ibnu Abbas agar mendengar saran-saran Ziyad. Pada perang Jamal Ziyad mengasingkan diri dan tidak ikut terlibat dalam peperangan.
Kemudian Ali ra. mendatangi rumah tempat Ummul Mukminin ‘Aisyah ra’ singgah. Ali ra. meminta izin kepadanya lalu masuk sembari mengucapkan salam kepadanya dan ‘Aisyah ra. ra.. menyambutnya dengan ucapan selamat. Seorang lelaki menyampaikan berita kepada Ali ra., “Wahai Amirul Mukminin, di luar ada dua orang lelaki yang mencaci Aisyah ra.” Maka Ali ra. Memerintahkan al-Qa’qa’ bin Amru agar mencambuk kedua lelaki itu masing-masing seratus kali cambuk.
Lalu ‘Aisyah ra. ra.. bertanya tentang pasukannya yang terbunuh dan pasukan Ali ra. yang terbunuh. Setiap kali disebutkan nama orang-orang yang terbunuh dari kedua belah pihak ‘Aisyah ra. mendoakan rahmat dan kebaikan untuk mereka.
Ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. hendak meninggalkan kota Bashrah, Ali ra. mengirim segala sesuatu yang diperlukan untuknya, mulai dari kenda-raan, perbekalan, barang-barang dan lainnya. Dan beliau mengizinkan pasukan Aisyah ra.. yang selamat untuk kembali bersamanya atau jika mau mereka boleh tetap tinggal di Bashrah. Beliau mengirim saudara lelaki ‘Aisyah ra., Muhammad bin Abi Bakar , untuk menyertainya. Pada hari keberangkatan, Ali ra. mendatangi rumah tempat ‘Aisyah ra. menginap, beliau berdiri di depan pintu bersama orang-orang. Kemudian ‘Aisyah ra. keluar dari rumah dalam sedekupnya, beliau mengucapkan selamat tinggal kepada mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka. ‘Aisyah ra. berkata,“Wahai bunayya, janganlah saling mencela di antara kalian. Demi Allah sesungguhnya apa yang telah terjadi antara aku dan Ali ra. hanyalah masalah yang biasa terjadi antara seorang wanita dengan ipar-iparnya. Sesungguhnya, meski aku dahulu mencelanya namun sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang terpilih.”Ali ra. berkata, “Ia benar, demi Allah tidak ada masalah yang terjadi antara kami berdua kecuali seperti yang telah disebutkan. Sesungguhnya ia adalah istri nabi kalian , di dunia dan di akhirat.”Kemudian Ali ra. berjalan mengiringinya sampai beberapa mil sembari mengucapkan selamat jalan kepadanya. Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu awal bulan Rajab tahun 36 Hijriyah. ‘Aisyah ra. ra.. dan rombongan berangkat me-nuju Makkah kemudian ia menetap di sana hingga musim haji pada tahun itu juga kemudian ia kembali ke Madinah.
Itulah ringkasan kisah yang disebutkan oleh Abu Ja’ far Ibnu Jarir dari para ulama sejarah. Tidak seperti yang disebutkan oleh para pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) dari kalangan Syi’ah dan lainnya yang menyebarkan hadits hadits palsu atas nama sahabat. Dan kisah-kisah palsu yang mereka nukil tentang masalah ini. Jika mereka diajak kepada kebenaran yang nyata mereka berpaling sembari berkata, “Bagi kalian sejarah kalian dan bagi kami sejarah kami.” Jikalau begitu kami katakan kepada mereka:
“Kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil” (Al-Qashash: 55).




Pentadbiran saidina Ali

Perkara pertama beliau lakukan selepas dilantik menjadi khalifah ialah mencari pembunuh saidina Uthman mengikut saluran undang-undang Islam. dengan menghapuskan pemberontakan yang hendak dibuat oleh golongan Rafidhah/Sabaiyyah yang menghasut para sahabat. Isteri Rasulullah iaitu Ummul Mukminin Saidatina Aisyah, dan dua orang sahabat Nabi iaitu Talhah ibn Ubaidillah dan Zubair ibn Awwam telah terlibat sama. Pemberontakan itu berjaya ditumpaskan oleh Saidina Ali dalam Perang Jamal (juga dikenali sebagai Perang Unta). Dalam peperangan ini, Talhah dan Zubair terkorban akibat dibunuh oleh golongan Rafidhah/Sabaiyyah  yang mengaku sebagai pengikut Saidina Ali. Manakala Saidatina Aisyah dikembalikan ke Madinah oleh Saidina Ali. Beliau menjalankan satu misi dengan mengarahkan 100 orang wanita menyamar lelaki dan menutup muka, lalu menarik unta Ummul Mukminin Aisyah kembali ke Madinah.

Namun ada juga yang mengatakan: Keluarnya Aisyah bersama Thalhah dan Az Zubair bin Al Awwam ke Bashrah dalam rangka mempersatukan kekuatan mereka bersama Ali bin Abi Thalib untuk menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Utsman bin Affan. Hanya saja Ali bin Abi Thalib meminta penundaan untuk menunaikan permintaan qishash tersebut. Ini semua mereka lakukan berdasarkan ijtihad walaupun Ali bin Abi Thalib lebih mendekati kebenaran daripada mereka. 

Selepas itu, Saidina Ali melantik gabenor-gabenor baru bagi menggantikan pentadbir-pentadbir yang dilantik oleh Saidina Uthman. Saidina Ali memindahkan pusat pentadbiran Islam daripada Madinah ke Kufah, Iraq. Kota Damsyik, Syria pula ditadbir oleh Muawiyah, Gabenor Syria dan saudara Saidina Uthman. Muawiyah telah dilantik sebagai Gabenor pada masa pemerintahan Saidina Umar lagi.

Kenapa dinamakan perang unta?

Manakala Aisyah radhiallahu ‘anha hanya berada di atas pelana untanya, beliau tidak menyerang dan tidak memerintahkan serangan. Demikianlah yang diterangkan oleh tidak seorang daripada para ilmuan dalam bidang sejarah (Ahl al-Ma’rifat bi al-Akhbar).” 

KERANA DI DALAM PEPERANGAN INI SITI AISYAH DUDUK DI ATAS UNTA

Perang Jamal kebenaran yang tersembunyi

Setelah Talhah dan Zubair membaiah Saidina Ali sebagai Khalifah, mereka meminta izin untuk melakukan umrah.

Disana mereka bertemu dengan  Ummul Mukminin Aisyah, di dalam pertemuan itu mereka bersepakat untuk meminta Saidina Ali mempercepatkan qisas keatas pembunuh Saidina Uthman.

Selang beberapa hari kemudian, mereka bertiga beserta beribu-ribu pengikut-pengikut bergerak ke Basrah.
Saidina Ali yang mendengar berita tersebut, juga mempersiapkan tentera, tetapi bukan untuk berperang, hanya sebagai langkah berjaga-jaga, dan beliau mengutus  qa’qa’, untuk berunding dan bertanya tujuan kedatangan mereka. Aisyah menjawab: “wahai anakku, untuk keamanan manusia”.

Jadi Aisyah beserta dua sahabat lagi menyatakan persetujuan untuk bergabung dengan pihak Saidina Ali, bagi membanteras pemberontak, yang telah menimbulkan huru-hara, serta membunuh Khalifah Uthman dengan kejam.

Malam sebelum berlakunya peperangan Jamal, pihak pemberontak yang bertanggungjawab atas pembunuhan Khalifah Uthman berasa gelisah yang amat, kerana  mereka tahu  apabila pihak Aisyah bergabung dengan pihak Saidina Ali, lambat laun tembelang mereka akan pecah, dan mereka pasti di qisaskan atau di hukum. Sebelum fajar menyinsing, para pemberontak yang menghampiri angka 2000 orang, telah mencipta fitnah, mereka menyerang kubu pihak Ali dan Aisyah. Maka tercetuslah salah faham, Aisyah menyangka pihak Ali telah khianat dan menyerang mereka, begitu juga Ali menyangka sebaliknya, jadi tercetuslah peperangan Jamal, beribu-ribu umat Islam meninggal. Talhah syahid di dalam peperangan itu, manakala Zubair, tidak mengikuti peperangan tersebut, kerana beliau mendengar Nabi bersabda, yang beliau (Zubair) akan berselisih dengan Saidina Ali dan beliau di pihak yang salah, maka beliau menuju ke Wadi Suba’, tetapi di bunuh oleh Amir bin Jurmuz ketika solat.

Ali memberitahu Rasulullah bersabda”Pembunuh Zubair di Neraka”

“Sesungguhnya Aisyah tidak diperangi dan tidak pergi untuk berperang. Sesungguhnya beliau pergi hanya untuk kebaikan umat Islam. Beliau menjangkakan pada pemergiannya terdapat kemaslahatan kepada umat Islam. Kemudian sesudah itu jelas baginya bahawa meninggalkan pemergian tersebut adalah lebih tepat. Maka setelah itu apabila sahaja beliau mengingat kembali pemergiannya itu, beliau menangis sehingga membasahi kain tudungnya.”

Aisyah dihantar pulang ke Madinah, diiringi sepasukan wanita, yang bersenjata.

Sekalipun aliran Syi`ah telah diharamkan di Malaysia, sebahagian daripada ajaran mereka masih tersebar luas. Di antaranya ialah berkenaan sejarah para sahabat, dimana banyak buku-buku tempatan yang memuatkan kisah tersebut berdasarkan versi Syi`ah. Sejarah versi Syi`ah mudah dikenali, ia bersifat pro kepada Ali bin Abi Thalib serta ahli keluarganya dan bersifat kontra kepada para sahabat yang lain. Kisah-kisah sejarah versi Syi`ah telah mendapat tempat yang kukuh dalam pemikiran umat Islam tanah air sejak di bangku sekolah sehingga dianggap ia adalah fakta yang benar.

Aisyah memberontak kepada Ali?

Antara sejarah versi Syi`ah yang masyhur adalah Perang Jamal merupakan pemberontakan yang diketuai oleh Aisyah ke atas Ali bin Thalib. Kenyataan ini memerlukan penelitian semula: Benarkah Perang Jamal adalah satu gerakan pemberontakan ke atas Ali yang diketuai oleh Aisyah?

Perang Jamal bermula apabila Aisyah, Thalhah dan al-Zubair radhiallahu ‘anhum serta orang-orang yang bersama mereka pergi ke Basrah selepas pengangkatan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh menjadi khalifah umat Islam. Semua ini berlaku selepas pembunuhan Amirul Mukminin Usman bin Affan radhiallahu ‘anh. Melihatkan pemergian Aisyah dan pasukannya, Amirul Mukminin Ali turut pergi ke Basrah bersama pasukannya. Apabila menghampiri Basrah, kedua-dua pasukan ini telah bertembung dan dengan itu berlakulah satu peperangan yang dinamakan Perang Jamal. Ia dinamakan sedemikian kerana Aisyah berada di atas unta (Jamal) ketika peperangan tersebut.

Dalam peristiwa ini, timbul dua persoalan. Yang pertama, kenapakah Aisyah dan pasukannya bergerak ke Basrah? Al-Qadhi Ibn al-Arabi rahimahullah (543H) menerangkan bahawa orang ramai mengemukakan beberapa pendapat. Ada yang berkata mereka keluar kerana ingin melucutkan Ali daripada jawatan khalifah. Ada yang berkata mereka benci kepada Ali. Ada yang berkata mereka ingin mencari para pembunuh Usman. Ada yang berkata mereka keluar untuk menyatu-padukan semula umat Islam. Di antara semua pendapat ini, yang benar adalah yang terakhir. Al-Qadhi Ibn al-Arabi menegaskan:

“Mungkin mereka keluar demi keseluruhan umat Islam, mengumpulkan dan menyatu-padukan mereka kepada undang-undang yang satu (Islam) agar tidak berlaku kebingungan yang akan mengakibatkan peperangan. Dan inilah pendapat yang benar, tidak yang lainnya.”

Sebelum itu hal yang sama ditegaskan oleh al-Imam Ibn Hazm rahimahullah (456H):

“Dan adapun (pemergian) Ummul Mukminin (Aisyah), al-Zubair dan Thalhah radhiallahu ‘anhum berserta orang-orang yang bersama mereka (ke Basrah), tidaklah mereka sedikit jua bertujuan membatalkan kekhalifahan Ali, mereka tidak mencabar jawatan tersebut, mereka tidak menyebut apa-apa kecacatan yang merendahkan beliau daripada jawatan tersebut, mereka tidak bertujuan mengangkat khalifah baru yang lain dan mereka tidak memperbaharui bai`ah kepada sesiapa yang lain. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari oleh sesiapa jua dengan apa cara jua.

Kebenaran yang sebenar yang tidak memiliki apa-apa permasalahan padanya adalah mereka tidak pergi ke Basrah untuk memerangi Ali atau menentangnya atau mencabut bai`ah daripadanya ,yang benar mereka berangkat ke Basrah tidak lain untuk menutup (daripada berlakunya) perpecahan yang baru dalam Islam disebabkan peristiwa pembunuhan yang zalim ke atas Amirul Mukminin Usman radhiallahu ‘anh.” [7]
Berdasarkan penerangan di atas, jelas kepada kita bahawa dalam pemergiannya ke Basrah, Aisyah radhiallahu ‘anha tidak memiliki tujuan berperang atau memberontak terhadap Ali radhiallahu ‘anh. Ini membawa kita ke persoalan kedua, jika demikian kenapakah kedua-dua pasukan ini bertembung dan berperang?

Kenapakah berlakunya Perang Jamal?

Al-Imam Ibn Hazm melanjutkan, pasukan Ali turut ke Basrah bukan untuk memerangi pasukan Aisyah tetapi untuk bersatu dengan mereka, menguatkan mereka dan menyatukan umat Islam dalam menghadapi peristiwa pembunuhan Usman.

Akan tetapi pada waktu yang sama wujud juga orang-orang yang sebelum itu terlibat dalam pembunuhan Usman. Mereka menyamar diri dengan berselindung di kalangan umat Islam. Apabila melihat Aisyah dan pasukannya pergi ke Basrah, mereka menyalakan api fitnah kononnya pemergian tersebut adalah kerana perpecahan daripada kekhalifahan Ali. Namun apabila para pembunuh Usman mendapat tahu bahawa pasukan Aisyah dan Ali telah bersatu, mereka menjadi bimbang lagi cemas. Ini kerana selagi mana umat Islam berpecah, selagi itulah para pembunuh Usman terselamat daripada apa-apa tindakan. Sebaliknya jika umat Islam bersatu, pasti kesatuan tersebut akan memudahkan tindakan diambil ke atas para pembunuh Usman.
Maka para pembunuh Usman merancang untuk melagakan kedua-dua pasukan tersebut. Pada awal pagi ketika hari masih gelap, mereka menyerang pasukan Aisyah. Dalam suasana terperanjat daripada tidur yang lena, pasukan Aisyah menyangka bahawa pasukan Ali telah berlaku khianat dan menyerang mereka. Sebagai tindakan mempertahankan diri sendiri (self defense), mereka menyerang balas ke atas pasukan Ali. Pasukan Ali pula menyangka pasukan Aisyah telah berlaku khianat dan menyerang mereka. Dengan itu mereka menyerang balas, juga sebagai tindakan mempertahankan diri sendiri. Tanpa disangka-sangka, bermulalah Perang Jamal sekali pun kedua-dua pihak pada asalnya tidak memiliki apa-apa tujuan berperang.

Al-Hafiz Ibn Katsir rahimahullah (774H) memperincikan detik-detik yang mengakibatkan bermulanya Perang Jamal:

“Orang-orangpun merasa tenang lagi lega  pada waktu malamnya kedua-dua pihak bermalam dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Akan tetapi para pembunuh Usman melalui malam tersebut dalam keadaan yang seburuk-buruknya. Mereka berbincang dan bersepakat untuk mengobarkan peperangan pada awal pagi esoknya. Mereka bangun sebelum terbit fajar, jumlah mereka menghampiri seribu orang. Masing-masing kelompok bergabung dengan pasukannya lalu menyerang mereka (pasukan Aisyah) dengan pedang. Setiap golongan bergegas menuju kaumnya untuk melindungi mereka. Orang-orang (pasukan Aisyah) bangun dari tidur dan terus mengangkat senjata. Mereka berkata: “Penduduk Kufah (pasukan Ali) menyerbu kita pada malam hari, mereka mengkhianati kita!”

Mereka (pasukan Aisyah) mengira bahawa para penyerang itu berasal dari pasukan Ali. Suasana hura hara tersebut sampai ke pengetahuan Ali, lalu beliau bertanya: “Apa yang terjadi kepada orang ramai?” Mereka menjawab: “Penduduk Basrah (pasukan Aisyah) menyerang kita!”

Maka kedua-dua pihak mengangkat senjata masing-masing, mengenakan baju perang dan menaiki kuda masing-masing. Tidak ada seorang jua yang menyedari apa yang sebenarnya terjadi.” [9]

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (728H) meringkaskan detik-detik ini dalam satu perenggan:
“Mereka (para pembunuh Usman) menyerang khemah Thalhah dan al-Zubair. Lalu Thalhah dan al-Zubair menyangka bahawa Ali telah menyerang mereka, maka mereka menyerang kembali untuk mempertahankan diri (self defense). Seterusnya Ali pula menyangka bahawa mereka (Thalhah dan al-Zubair) menyerangnya, maka Ali menyerang kembali untuk mempertahankan diri. Maka berlakulah fitnah (peperangan) tanpa ia menjadi pilihan mereka (kedua-dua pihak).

Manakala Aisyah radhiallahu ‘anha hanya berada di atas pelana untanya, beliau tidak menyerang dan tidak memerintahkan serangan. Demikianlah yang diterangkan oleh tidak seorang daripada para ilmuan dalam bidang sejarah (Ahl al-Ma’rifat bi al-Akhbar).” 

Demikianlah penjelasan para ilmuan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah berkenaan Perang Jamal. Kembali kepada persoalan asal pada permulaan artikel ini: Benarkah Perang Jamal adalah satu gerakan pemberontakan ke atas Ali yang diketuai oleh Aisyah? Penjelasan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menjadi jawapan kepada persoalan asas ini,:

“Sesungguhnya Aisyah tidak diperangi dan tidak pergi untuk berperang. Sesungguhnya beliau pergi hanya untuk kebaikan umat Islam. Beliau menjangkakan pada pemergiannya terdapat kemaslahatan kepada umat Islam. Kemudian sesudah itu jelas baginya bahawa meninggalkan pemergian tersebut adalah lebih tepat. Maka setelah itu apabila sahaja beliau mengingat kembali pemergiannya itu, beliau menangis sehingga membasahi kain tudungnya.” [Minhaj al-Sunnah, jld. 4, ms. 316]

Pada malam harinya (Perang Jamal berlangsung pada malam hari) kaum munafiquun menyusup ke barisan sahabat Thalhah ra. dan Zubair ra. dan melakukan penyerangan mendadak.  Kerana merasa diserang maka kubu Thalhah ra. dan Zubair ra. balas menyerang ke pasukan Ali bin Abi Thalib ra dan perang besar pun tak terhindarkan.  Perang ini disebut Perang Jamal dan berakhir dengan kemenangan Ali bin Abi Thalib ra. dan meninggalnya 2 orang sahabat yang dijamin masuk surga yaitu Thalhah ra. dan Zubair ra.

Riwayat-riwayat yang sahih menyebutkan bahawa tujuan sebenar Talhah, al-Zubair dan orang-orang yang bersama mereka keluar ialah untuk membaiki keadaan dan menghapuskan orang-orang yang melakukan kerosakan dengan membunuh Uthman. Mereka tidak keluar untuk kepentingan kuasa atau mana-mana tujuan duniawi bahkan mereka sekali-kali tidak bermaksud untuk  memerangi Ali dan orang-orang Islam bersamanya.

Hakikat ini telah dikemukakan oleh Ibn Kathir. Beliau menulis: “Sesungguhnya Ali telah mengutuskan al-Qa`qa` sebagi utusan untuk menemui Talhah dan al-Zubair mengajak mereka kepada kesatuan dan jamaah dan menyatakan kepada mereka berdua betapa besarnya perpecahan dan perselisihan. Lalu al-Qa`qa` menuju ke Basrah dan orang yang pertama ditemuinya ialah `Aishah. 

Beliau berkata: “Wahai Ummu Mukminin, apakah yang mendorong ibu menjejakkan kaki di bumi ini?”.

`Aishah menjawab: “Wahai anakku, untuk mendamaikan antara manusia.”
Kemudian al-Qa`qa` meminta supaya `Aishah menjemput Talhah dan al-Zubair datang menemui `Aishah lalu mereka berdua tiba.

Al-Qa`qa` berkata: “Saya telah bertanya kepada Ummu Mukminin sebab mengapa beliau menjejakkan kaki ke sini dan beliau menjawab untuk mendamaikan antara manusia.” 

Lalu mereka berdua menyatakan: “Kami pun dengan tujuan yang sama.”
Jelas dari riwayat di atas Aishah, Talhah dan al-Zubair mengatakan bahawa mereka datang hanya untuk mendamaikan antara manusia.
Sesungguhnya mereka telah bercakap benar dan Syi`ah telah berdusta. Ini dibuktikan dengan mereka telah berdamai dan Ibn Kathir telah menyebutkan daripada Ali ketika beliau ditanya oleh Abu Salam al-Dala’i:
“Adakah mereka itu (Mu`awiyah dan orang-orang bersamanya) mempunyai hujah berkenaan tuntutan mereka terhadap darah ini (darah Uthman) jika mereka benar-benar ikhlas kerana Allah dalam perkara ini?
Ali menjawab: “Ya.”

Abu Salam bertanya lagi: “Adakah tuan mempunyai hujah mengapa tuan menangguhkannya?”
Ali menjawab: “Ya.” Apa yang dikatakan oleh Ali ini merupakan pegangan Ahli Sunnah berkenaan  peristiwa yang berlaku sesama sahabat.
Ahli sunnah beriktiqad bahawa masing-masing mereka itu mujtahid, jika benar mereka mendapat dua pahala tetapi jika tersilap mereka mendapat satu sahaja. Para sahabat telah bersetuju untuk tidak meneruskan perselisihan tersebut dan tidak terlintas kepada mereka kecuali segala-galanya telah berakhir dan tidak ada sebarang peperangan.

Namun golongan Saba’iyyah yang melakukan pembunuhan khalifah Uthman tidak berpuas hati lalu mereka mengatur satu pakatan untuk mencetuskan peperangan maka berlakulah peperangan Jamal.

Ini telah dinyatakan oleh Ibn Kathir dan lain-lain bahawa al-Qa`qa` apabila dihantar oleh Ali untuk menemui Talhah, al-Zubair dan `Aishah dan menawarkan kepada mereka perdamaian. 

Mereka menjawab: “Kamu memang benar dan melakukan yang terbaik. Oleh itu, pulanglah, jika Ali datang dan dia berpandangan seperti kamu, keadaan akan menjadi baik.” 
Lalu al-Qa`qa` pulang menemui Ali dan mencerita apa yang berlaku dan itu benar-benar mengkagumkan Ali. Kemudian Ali menemui orang-orangnya supaya mereka sama-sama berdamai. Lalu mereka yang benci, tetap membenci dan orang yang reda, tetap reda.
`Aishah kemudiannya menulis surat kepada kepada Ali menyatakan beliau datang untuk tujuan perdamaian, lalu pihak masing-masing gembira.

Kemudian Ali menulis kepada Talhah dan al-Zubair: “Jika pendirian kamu berdua masih seperti ketika al-Qa`qa` meninggalkan kamu berdua, maka tunggulah sehingga kami datang dan membincangkan perkara ini. Lalu mereka berdua menjawab: “Sesungguhnya kami masih lagi berpendirian seperti ketika al-Qa`qa` meninggalkan kami iaitu untuk berdamai.

” Hati dan jiwa kedua-dua belah pihak menjadi tenang dan reda lalu mereka berkumpul. Pada waktu petang Ali menghantar Abdullah bin Abbas sebagai wakil dan pihak Talhah menghantar Tulaihah al-Sajjad.
Pada malam itu, mereka melalui malam yang paling baik dan indah tetapi pembunuh-pembunuh Uthman melalui malam yang paling buruk bagi mereka dan mereka merancang dan berpakat untuk mencetuskan peperangan pada waktu malam yang akhir.

Lalu mereka keluar sebelum fajar menyinsing.Bilangan mereka itu hampir 2,000 orang. Masing-masing menuju kepada yang berdekatan mereka dan melancarkan serangan dengan pedang-pedang. Maka setiap kumpulan bangkit menuju ke pasukan masing-masing untuk menghalang mereka. Orang ramai terjaga dari tidur dan mendapatkan senjata. 

Mereka berteriak: Ahli Kufah telah mendatangi dan menyerang kami pada waktu malam. Mereka telah menipu kita.Mereka menyangka ini adalah perbuatan orang-orang Ali. Lalu hal ini sampai kepengetahuan Ali dan beliau bertanya: “Apa yang telah terjadi kepada orang ramai?” 

Mereka menjawab: “Ahli Basrah telah menyerang kami pada waktu malam.” Lalu semua kumpulan mendapatkan senjata, memakai baju besi dan menaiki kuda. Tidak siapapun di kalangan mereka yang menyedari perkara sebenar yang terjadi. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.


Biodata Talhah ibn Ubaidillah (Pahlawan Perang Uhud)

Pada awalnya, Talhah ibn Ubaidillah merupakan seorang peniaga kain yang berasal dari Makkah. Kerap berniaga dan membawa barangan berharga di Syria. Ibunya bernama Sa’abah binti al-Hadrami.
Masuk Islam setelah berjumpa dengan seorang pendeta Nasrani ketika berniaga di Busra. Ketahanannya diuji dengan seksaan yang diterima oleh beliau dan Abu Bakar ketika di Makkah
Rasulullah menggelarkan beliau sebagai “Syahid yang hidup” kerana keadaan fizikalnya ketika itu yang sudah cedera akibat terlibat dengan banyak pertempuran bersama baginda. Hadis Nabi berkenaan kehebatan beliau:

“Barangsiapa yang ingin melihat syahid yang sedang berjalan di muka bumi ini, lihatlah pada Talhah ibn Ubaidillah”

Beliau merupakan pelindung bagi Rasulullah semasa Perang Uhud ketika umat Islam dalam keadaan terdesak akibat serangan kaum Musyrikin Makkah. Terlibat dalam siri Peperangan Islam-Rom Byzantine. Ketika Perang Jamal, beliau berada di pihak Saidatina Aishah binti Abu Bakar. Beliau akhirnya terkorban akibat lembing beracun yang dilemparkan oleh Marwan bin al-Hakam.

Surah Al-Ahzab:23
“Di antara orang-orang mukmin itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka kepada Allah. Di antara mereka ada yang memberikan nyawanya, sebahagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya walaupun sedikit…”

Setelah Rasulullah membaca ayat yang mulia itu, beliau menatap wajah para sahabatnya sambil menunjuk kepada Talhah sabdanya:

“Siapa yang suka melihat seorang manusia yang masih berjalan di muka bumi, padahal ia telah memberikan nyawanya, maka hendaklah ia memandang Thalhah…!”

Biodata Zubair Al-Awwam (Pembela Rasulullah)

Zubair dan Talhah telah dipersaudarakan oleh Rasulullah di Mekah sebelum hijrah. Rasulullah juga pernah bersabda:

“Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di dalam syurga”. 

Zubair dan Talhah juga dari keturunan yang bersambung dengan Rasulullah. 

Talhah bertemu keturunan dengan Rasulullah pada Murrah bin Kaab. 

Zubair pula bertemu nasab dengan Rasulullah pada Qusai bin Kilab, dan ibunya Shafiah, adalah saudara perempuan ayah Rasulullah(Abdullah). 

Zubair termasuk dalam golongan tujuh orang yang mula-mula menyatakan keislaman, pada permulaan dakwah Rasulullah.

Kecintaan dan penghargaan  Rasulullah buat Zubair, amat besar sekali, sabdanya

“Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam..” Ia adalah sepupu Rasullah dan merupakan suami kepada Asma binti Abu Bakar Al-Siddiq.

Sewaktu berlaku perang Jamal akibat salah faham, Saidina Ali sempat bertemu Zubair dan Talhah, katanya 

“Wahai Zubair, aku minta kau jawab kerana Allah! Tidakkah engkau ingat, sewaktu Rasulullah menghampiri kita yang sedang berkumpul bersama, lalu beliau (Rasulullah) bersabda 
“Wahai Zubair, tidakkah engkau mengasihi Ali..” 

kemudian engkau menjawab “Kenapa pula aku tidak mengasihi saudara sepupuku, anak kepada ibu dan bapa saudaraku, serta se akidah denganku…” 

Rasulullah bersabda lagi “Hai Zubair demi Allah, bila engkau memeranginya (Ali), jelas engkau telah berlaku zalim kepadanya…” Sewaktu itu Zubair tersedar akan kesilapannya “Ya, sekarang aku ingat, hampir aku terlupa (sabda Rasulullah), demi Allah aku tidak akan memerangimu.”

Talhah dan Zubair menarik diri dari perang saudara itu. Mereka menghentikan perlawanan setelah tahu kedudukan sebenar peperangan itu, tambahan pula apabila mereka terlihat Ammar bin Yasir berperang di pihak saidina Ali. Mereka teringat sabda Rasulullah kepada Ammar “Yang akan membunuhmu ialah golongan yang derhaka…”

Mereka lalu mengundur diri, Zubair diikuti oleh Amru bin Jarmuz, lalu dibunuh sewaktu, Zubair sedang solat, manakala Talhah dibunuh oleh Marwan bin Hakam.

Si pembunuh pergi kepada Imam Ali, dengan bermaksud memberitahu beliau tentang tindakannya terhadap Zubair dengan dugaan Ali akan gembira, malah dia turut membawa pedang Zubair yang diambilnya selepas melakukan kejahatan yang sangat kejam itu , maka berteriak keras Ali, apabila mengetahui di muka pintu itu, ada pembunuh Zubair, sahabat yang sangat dicintai Rasulullah, beliau memerintahkan orang mengusir Amru 

“Sampaikan berita kepada pembunuh putera ibu Shafiah itu, bahawa untuknya telah disediakan api neraka…”

Sewaktu pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, bercucur lagi air mata sahabat Nabi, yang merupakan sepupu, menantu, dan golongan sahabat Nabi yang dijamin syurga, sambil mencium pedang itu katanya “Demi Allah pedang ini sudah banyak berjasa, digunakan oleh pemiliknya (Zubair) untuk melindungi Rasulullah dari ancaman bahaya…”

Ali meninjau orang-orang yang gugur sebagai syuhada di medan peperangan Jamal. semuanya disolatkan, baik yang bertempur di pihaknya mahupun di pihak yang menentangnya. Setelah selesai mengebumikan Talhah dan Zubair beliau berkata

“Sesungguhnya aku amat berharap agar aku bersama Talhah, Zubair, Utsman, termasuk di antara orang-orang yang difirmankan Allah

Al-Hijr:47

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka sebagai layaknya orang yang bersaudara, dan di atas pelamin mereka duduk dengan gembira secara berhadap-hadapan…”
Kemudian disapunya makam mereka dengan pandangan kasih sayang, yang keluar dari hati yang bersih dan penuh belas kasihan sambil berkata

“Kedua telingaku ini mendengar sendiri sabda Rasulullah, Thalhah dan Zubair menjadi tetanggaku dalam syurga…”

MELAYU…. KE ARAH KEBANGKITAN SEBENAR

Sejarah telah membuktikan bahawa orang Melayu pernah cemerlang. Tidak dinafikan bangsa Melayu memang memiliki asas jati diri yang kuat, berdaya tahan utuh, mempunyai unsur keupayaan untuk bersaing, mampu menyesuaikan diri dan menyumbang kepada survival bangsa serta kesinambungan kuasa pemerintahan. Orang Melayulah yang memainkan peranan utama dalam menubuhkan Kerajaan Sri Wijaya di Palembang dan orang Melayu jugalah yang mempelopori Kerajaan Langkasuka, Majapahit dan Gangga Negara. Orang Melayulah yang mula-mula menyahut seruan Islam di Melaka. Orang Melayulah juga yang menerajui kegemilangan Kerajaan Melayu Melaka, Demak, Acheh, Ligor dan Champa; menjadi pejuang di barisan depan yang menentang penjajah dan berjaya mencapai kemerdekaan. Orang Melayu pernah bangkit dengan berani menidakkan kata-kata kuasa besar dengan berpegang teguh kepada prinsip keadilan dan kebenaran. Walhal, tercatat dalam sejarah, bahawa banyak bangsa lain yang telah tenggelam ditelan zaman dan pengaruh pihak penjajah – Aztec dan Maya di Amerika Selatan, Gipsi di Eropah, Red Indian di Amerika dan pribumi Aborigines di Australia dan Kepulauan Pasifik. Inilah hakikat sejarah bangsa Melayu. 
Ketika merasmikan persidangan perwakilan Pergerakan Wanita, Pemuda dan Puteri dengan tema Kesinambungan dan Perubahan di Pusat Dagangan Dunia Putra (PWTC), Kuala Lumpur, Najib Tun Razak mengatakan …“kita perlu berubah daripada sikap sambil lewa kepada sikap bersunguh-sungguh, daripada sikap berlebih kurang kepada sikap lebih tepat, daripada kepercayaan karut marut kepada kepercayaan saintifik dan daripada pemikiran beremosi kepada pemikiran rasional, daripada tumpuan taktikal kepada pemikiran strategik dan seterusnya daripada pemikiran bercelaru kepada pemikiran yang mementingkan keutamaan” [Harian Metro 17 Julai 2005]
 
Menurutnya lagi, “…untuk menjadi satu bangsa yang perkasa dan berjaya, orang Melayu harus berusaha untuk berada pada satu tahap yang lebih baik daripada bangsa lain. Inilah masa terbaik untuk memulakan usaha ke arah memastikan kejayaan bangsa Melayu dengan melakukan perubahan…”.
Dalam pada itu Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi ketika berucap menutup Konvensyen Umno Johor 2005 mengatakan. “Perjuangan bangsa dan tanggungjawab untuk menjayakannya adalah melalui perpaduan kukuh dan teguh yang boleh dicapai melalui tiga prinsip penting iaitu mesti serius dalam apa yang dilakukan, mempunyai perasaan penyayang serta ihsan selain bersikap adil dan saksama”. Isu membangkitkan orang Melayu sememangnya akan menjadi antara agenda utama setiap kali menjelangnya Perhimpunan Agung Umno. Namun melihat realiti orang Melayu yang masih dihimpit kemiskinan, dilemma siswazah mengganggur, peningkatan kes buli & bunuh, rasuah politik wang yang terus subur, gejala penagihan dadah, peningkatan kes HIV, karenah birokrasi dalam melayan keperluan rakyat dan seribu satu macam masalah seakan-akan terus menghambat dan melengahkan usaha ke arah itu. Sepertimana ucapan di atas, orang Melayu digesa untuk mengubah sikap dan pemikiran usang mereka ke takuk yang baru. Memang benar orang Melayu boleh berubah dan bergerak menuju era kebangkitan. Namun yang menjadi persoalannya, apakah memadai perubahan itu dilakukan dalam rangka memperbaiki status quo orang melayu semata-mata atau perubahan secara menyeluruh untuk membangkitkan umat mengikut ukuran Islam? Sautun Nahdhah kali ini mengajak pembaca budiman untuk merenung apakah bentuk kebangkitan yang sebenar.
KEBANGKITAN SEBENAR UMAT
Asas kepada kebangkitan umat ialah dengan meningkatkan kualiti pemikiran. Kebangkitan bermula dengan terbentuknya pemikiran, yang dengannya, terbentuk mafhum (kefahaman) mengenai realiti yang ada disekitar kita. Bermula dari proses berfikir yang benar, mengikut jalan berfikir yang dijelaskan di dalam Al-Quran, akan terbentuk aqidah (keyakinan) yang luhur. Seterusnya daripada aqidah tersebut akan terbentuk qaidah fikriyyah (kaedah berfikir) yang digunakan untuk membuat keputusan (kesimpulan) yang disertai dengan kesedaran penuh akan hubungan diri dengan Allah swt. Kaedah berfikir ini akan menjadi landasan dalam memahami satu-satu permasalahan. Dengan kaedah berfikir Islam yang benar ini segala permasalahan yang timbul akan difahami dengan jelas, sesuai dengan sudut pandangan dan ruang lingkup Islam. Seterusnya kefahaman yang Islami ini akan mempengaruhi muyul (kecenderungan) atau sikap seseorang individu – ini berlaku apabila dorongan keperluan jasmani dan naluri manusia diikat dengan mafhum yang Islami. Inilah kebangkitan yang sebenarnya – kebangkitan yang diasaskan kepada pemikiran dan aqidah Islam.
Apa yang kita saksikan hari ini mengenai apa yang sedang berlaku di dalam dunia Islam umumnya dan di negara kita khususnya menjadi bukti yang amat jelas bahawa apabila Islam tidak dilaksanakan sepenuhnya di dalam kehidupan, maka timbullah bermacam-macam permasalahan. Masalah bangsa Melayu sering diterjemahkan melalui ungkapan Melayu Mudah Lupa, Melayu Layu, Melayu Malas, Melayu Makin Mundur dan sebagainya dan ini tidak dapat dipisahkan dari sikap orang Melayu sendiri yang tidak mahu berfikir secara serius mencari jawapan yang menghantar kepada penyelesaian masalah mereka. Apakah bangsa Melayu Islam rela generalisasi sebegini terus-menerus dilabelkan pada diri mereka tanpa berusaha untuk mencari punca dan penyelesaiannya? Apakah bangsa Melayu tidak ingin melihat aspirasi untuk membentuk bangsa yang cemerlang, gemilang dan terbilang terealisasi? Sangatlah menyedihkan apabila langkah-langkah yang disarankan untuk membangkitkan bangsa Melayu hanyalah berkisar di sekitar peningkatan taraf perekonomian, penyemaian nilai-nilai murni, memperkasakan sistem pendidikan atau meningkatkan penguasaan bahasa asing tanpa penekanan yang serius kepada peningkatan taraf berfikir umat.
Perlu diingatkan bahawa perjuangan yang hanya disandarkan kepada unsur assobiyyah bangsa Melayu semata-mata tidak akan membawa kita ke mana-mana, sebaliknya, perjuangan dan kebangkitan orang Melayu haruslah dibincangkan di dalam konteks bangsa Melayu sebagai penganut Deen Islam. Hari ini, pemimpin-pemimpin Melayu yang sering melaungkan slogan perubahan pada hakikatnya telah gagal menerapkan perubahan yang menyeluruh di dalam diri mereka dan negara ini. Hakikatnya, sejak kemerdekaan Malaysia pada tahun 1957, kita, sebagai bangsa Melayu Muslim masih lagi berpegang kepada idea sekularisme; tiada perubahan mendasar yang dapat diperhatikan dalam menerapkan sistem Islam secara menyeluruh di dalam negara. Sewajarnya, para pemimpin Melayu Muslim yang melaungkan slogan-slogan perubahan ini haruslah mengorak langkah untuk memaparkan contoh perubahan yang mereka laungkan namun hakikatnya mereka hanyalah pandai beretorik tentang perubahan. Keadaan negara tetap sama; sistem yang diterapkan tetap sahaja sistem yang tidak Islami – yang tidak akan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang wujud akibat dari tiadanya Islam di dalam kehidupan.
Oleh itu, perubahan yang sewajarnya ditempuh adalah dengan mendirikan pemerintahan Islam dan ianya mestilah dibangunkan di atas landasan pemikiran Islam. Bagi mencapai tujuan ini, umat, terutama kaum Melayu perlulah ditanamkan dengan pendidikan dan pemikiran Islam yang luhur, yang dibina di atas landasan aqidah Islam yang murni. Dengan demikian, kesedaran umat, khasnya golongan Melayu untuk terikat dengan seluruh perintah, larangan dan hukum-hukum Allah akan dapat diwujudkan. Jika ini dapat dilakukan oleh umat, maka akan tercapailah kebangkitan yang pasti.
Contoh terbaik yang dapat dijadikan teladan adalah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Tatkala Allah membangkitkannya dengan risalah Islam, baginda menyeru umat manusia kepada aqidah Islam. Ini tidak lain bererti menyeru kepada suatu pemikiran – pemikiran yang mendasari pandangan hidup seseorang. Dan tatkala penduduk kota Madinah dari kalangan kabilah Aus dan Khazraj dapat disatukan dengan aqidah Islam, yakni dengan pemikiran ini, mereka mula memiliki arah tertentu yang memimpin kehidupan mereka. Di sinilah pemerintahan Islam mula dibina di atas dasar aqidah.
Rasulullah saw pernah bersabda “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah’, Apabila mereka mengucapkannya, maka terpeliharalah darahnya dan hartanya kecuali ditumpahkan dan diambil dengan cara yang haq (benar)”. Hadis ini pada hakikatnya menyeru kepada satu pemikiran, satu aqidah – yang akan menjadi asas kepada kebangkitan umat. Setelah pemerintahan diraih di kota Madinah maka pemikiran Islam, yang merupakan dasar kebangkitan umat mula tersebar ke kawasan lain di didalam jazirah Arab. Akhirnya dalam beberapa tahun selepas kewafatan Rasul bangsa-bangsa lain mula memeluk Islam dan meyakini pemikiran ini. Dalam beberapa tahun telah termanifestasi kebangkitan umat – kebangkitan sebenar yang didasari oleh aqidah dan pemikiran Islam.
Jalan atau thariqah (landasan yang telah ditentukan oleh syara’) untuk mencapai kebangkitan itu adalah dengan menegakkan pemerintahan yang didasarkan kepada pemikiran, bukan didasarkan kepada peraturan, perundangan ataupun hukum yang dipaksakan. Hakikat ini sebenarnya berlaku bukan sahaja untuk Ad-Deenul Islam tetapi juga bagi ideologi-ideologi dunia lain. Kebangkitan suatu umat atau bangsa hanya akan dapat direalisasikan sekiranya ia didasarkan kepada pemikiran/aqidah yang dianuti oleh umat/bangsa tersebut. Penegakkan negara yang didasarkan kepada perundangan dan hukum yang dipaksakan tidak mungkin mencapai kebangkitan. Bukti kenyataan ini cukup banyak. Antaranya adalah seperti apa yang telah dilakukan oleh Mustafa Kamal di Turki. Beliau menegakkan pemerintahan di atas dasar dan perundangan Barat yang dipaksakan keatas rakyat. Kemudian, di atasnya dibangunkan pemerintahan. Beliau melaksanakannya dengan sepenuh usaha melalui strategi pemaksaan, ugutan dan sebagainya. Meskipun demikian, Turki tetap saja tidak mampu meraih kebangkitan yang diinginkan. Turki tetap tidak mampu bangkit malah mengalami kemunduran demi kemunduran. Pada masa yang sama, Lenin (1917M) yang muncul pada zaman yang hampir sama dengan Mustafa Kamal (1924M) mampu membangkitkan Rusia sehingga menjadi negara yang kuat. Sebabnya tiada lain kerana Lenin mendirikan pemerintahannya di atas landasan pemikiran yang secara umumnya di’anuti’ oleh bangsanya, iaitu pemikiran Komunisme. Dari pemikiran ini muncul penyelesaian-penyelesaian terhadap masalah kehidupan sehari-hari, yang berupa peraturan dan perundangan yang menjadi penyelesaian terhadap segala permasalahan dalam bentuk hukum yang bersandar kepada pemikiran tersebut. Dengan kata lain, dari pemikiran ini dibangunkan pemerintahan dan seterusnya ia membawa kepada kebangkitan suatu umat/bangsa. Eropah, sebagai contoh yang lain, tatkala mengalami kebangkitan, ia didasarkan pada suatu pemikiran – pemisahan urusan agama dengan negara dalam kehidupan (sekularisme) dan kebebasan. Begitu juga dengan Amerika, tatkala mengalami kebangkitan, ia didasarkan pada pemikiran yang sama, iaitu sekularisme dan kebebasan.
Walaubagaimanapun, kebangkitan yang didasari oleh suatu pemikiran/aqidah ini tidak secara automatik membawa pengertian bahawa kebangkitan tersebut adalah kebangkitan yang benar. Kebangkitan yang berlaku di Eropah, Amerika dan Rusia ini merupakan kebangkitan yang bathil (salah) kerana tidak di dasari oleh asas ruhiyah (kesedaran akan hubungan manusia dengan pencipta iaitu Allah Swt). Kebangkitan yang sahih (benar) adalah kebangkitan yang didasari oleh asas ruhiyah dan hanya Islamlah ideologi yang membekalkan umatnya dengan asas ini.
Bangsa Arab, tatkala mengalami kebangkitan, didasarkan kepada pemikiran Islam. Di atas landasan aqidah Islam, pemerintahan dan kekuasaan Islam ditegakkan. Bangsa Arab bangkit tatkala mereka meyakini dan berpegang teguh kepada pemikiran Islam dan di atasnya dibangunkan pemerintahan dan kekuasaan. Semua ini menjadi bukti yang pasti bahawa jalan untuk mencapai kebangkitan adalah dengan menegakkan pemerintahan di atas suatu pemikiran dan bukannya di atas dasar perundangan atau hukum yang dipaksakan keatas sesuatu umat atau bangsa.
POTENSI KEBANGKITAN DALAM DIRI UMAT ISLAM.
Ketika penghuni Eropah mula meniti jalan kebangkitan, maka muncul beberapa nama yang membincangkan tentang kebangkitan (renaissance) – Immanuel Kant, Montesque, Adam Smith, John Stuart Mill dan lain-lain intelektual barat yang lain yang tidak mampu kami paparkan semuanya. Pada waktu itu, karya-karya mereka dikaji berulang-ulang oleh mereka yang dahagakan kebangkitan. Apa yang jelas dari penulisan-penulisan ini adalah pemahaman bahawa kebangkitan = anjakan paradigma. Pada zaman itu, bagi mereka, apa yang harus dilakukan adalah meletakkan akal manusia sebagai piawai dan menolak dogma gereja sejauh-jauhnya.
Hakikat ini diulangi oleh seorang pakar motivasi masyhur, Stephen R. Covey yang menggambarkan bahawa “Manusia berubah berasaskan konsep”. Tamadun Barat yang berusia kurang dari 300 tahun ini baru sahaja menemukan jawapan untuk kebangkitan, sedangkan Islam, lebih 1400 tahun yang lepas telah mengajar erti sebuah kebangkitan. Islam telah mampu membangkitkan manusia dan telah mengajarkan bahawa sebuah kebangkitan hanya boleh dikecapi melalui perubahan konsep yang menyeluruh dalam hidup. Ini tertuang di dalam Al-Quran dimana Allah swt berfirman
“Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan yang ada pada suatu kaum, sehingga kaum itu sendiri mengubah keadaan yang ada pada diri mereka”. [TMQ Ara’du 13: 11]
Dari ayat di atas, umat harus mengubah keadaan yang ada pada diri mereka melalui peningkatan taraf berfikir yang didasarkan pada asas ruhiyah. Contohnya, apabila mengamalkan sistem ekonomi, umat Islam tidak menjadikan asas manfaat sebagai ukuran, malah sentiasa menjadikan aqidah Islam dan keterikatan dengan hukum Allah, kesan dari kesedaran akan hubungannya dengan Allah, sebagai ukuran. Umat Islam harus yakin bahawa potensi kebangkitan dalam diri mereka sentiasa terbuka. Yang jelas, jika kebangkitan yang dijana tidak berdasarkan Islam, maka kebangkitan itu berjalan di atas dasar yang salah. Inilah realiti musuh-musuh Islam seperti Amerika dan sekutunya. Mereka mampu dan boleh mengisytiharkan negara mereka sebagai negara maju, namun taraf berfikir bangsanya masih primitif dan bersifat haiwaniyah. Pemikiran rendah ini termanifestasi ketika mereka memerlukan sumber alam yang tidak atau kurang terdapat di negara mereka. Mereka dengan sewenang-wenangnya menjajah Iraq, membunuh rakyatnya dan merampas kekayaan minyaknya tanpa memperdulikan aspek moral/ruhiyyah dalam melaksanakan tindakannya itu. Ini jelas bertentangan dengan kebangkitan yang didasarkan kepada Islam.
KHATIMAH
Hakikatnya, di dalam rahim umat Islam sudah lahir berjuta-juta Muslim yang memiliki potensi besar, baik sebagai ulama, ilmuan, saintis, teknokrat, ataupun usahawan. Malah kekayaan sumber alam yang melimpah ruah di sebahagian besar wilayah negara-negara Islam mampu menjana kebangkitan yang diinginkan. Sayangnya, ibarat penyapu yang lidinya bertaburan, sumber umat Islam tidak dapat difokuskan agar boleh digunakan secara efektif. Ketahuilah, umat ini telahpun mempunyai modal yang cukup kuat untuk bangkit. Yang perlu dilakukan adalah menggiatkan da’wah agar umat Islam kembali kepada Islam, dengan menjadikan syari’at Islam sebagai tolok ukur (miqyas) dalam menyelesaikan setiap permasalahan kehidupannya. Jika umat telah bangkit taraf berfikirnya, tentu saja mereka menginginkan agar Islam mengatur kehidupannya. Marilah kita merenung hadis Rasulullah.
“Masa kenabian akan hadir di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki. Allah kemudian mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Muncullah kemudian Khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian yang akan tetap ada selama Allah menghendakinya. Allah lalu mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Muncullah kemudian kekuasaan yang zalim selama Allah menghendakinya. Allah kemudian mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Selanjutnya, muncullah kembali Khilafah yang tegak diatas manhaj kenabian. Setelah itu, Rasulullah saw diam” [HR Ahmad]
Allah swt. berjanji bahawa umat Islam akan bangkit semula dengan menegakkan kembali kepimpinan Khilafah menurut minhaj kenabian. Inilah manifestasi kebangkitan sebenar bagi umat Islam. Dan bagi bangsa Melayu, inilah perubahan dan kebangkitan yang kita inginkan selama ini. Dengan kebangkitan Islam sahajalah, tidak Melayu hilang di dunia!!