Peledak Nuklear Sebuah Revolusi

Dalam dunia moden, senjata yang paling ditakuti dan boleh mengubah keseimbangan kuasa politik ialah senjata Nuclear. Ia ditakuti kerana kuasa ledakan yang dibawanya mampu melumatkan jutaan manusia, bangunan, kereta kebal bahkan mampu melenyapkan sebuah pulau !!!! Namun jika diperhatikan, yang menakutkan itu bukanlah disebabkan roketnya atau tapak pelancarnya, tetapi disebabkan oleh apa yang terisi

 di dalam kepala rundal nya. Tentu saja kalau yang terisi didalam kepala rundal itu hanya sebuk mercun (belerang), ia tidak sama skali menggerunkan sekalipun mempunyai batang roket yang panjang dan canggih, atau tapak pelancar yang sophisticated. Tiga komponen senjata maut ini ialah:
1. Kepala missile (Rundal) = Menentukan sama ada ia senjata kimia, biologi atau nuclear atau sekadar belerang mercun
2. Roket = Menentukan jarak jangkauan senjata
3. Tapak Pelancar= menentukan senjata itu dapat dilancarkan dan ke mana ia dilancar

Jika kita analogkan kepada “senjata massa” yang akan menggerakkan revolusi, kita dapat bahagikan kepada 3 komponen:
1. Kekuatan idea = kepala rundal
2. Retorika Penyampaian = roket
3. Orang yang menyampaikan= Tapak Pelancar

Antara ketiga unsur ini, kita dapat perhatikan unsir KEKUATAN IDEA itu lah yang menentukan impak yang akan berlaku untuk menggerakkan revolusi itu atau ia sekadar menjadi penglipur lara atau dummy bomb.

Manusia akan terpukau dengan pidato yang hebat disampaikan oleh seorang yang hebat, tetapi impak yang sebenar hanya berlaku dari idea yang disampaikan.

Idea negara berkebajikan yang baru muncul dari apa yang dinamakan sebagai tahalluf siyasi, ataupun Idea Program Transformasi
Kerajaan (GTP) atau Islam Hadhari (yang hari ni dah tak kedengaran lagi) adalah contoh2 kepala rundal yang berisi belerang…. dan idea KHILAFAH itu ialah kepada rundal yang berisi peledak nuclear yang mampu merubah pola politik global secara massa….

MLM adalah HARAM

MLM adalah pemasaran yang dilakukan melalui banyak level yang biasanya dikenal dengan up line dan down line. Sistem ini akan membentuk jaringan, sama ada vertikal atau horizontal. Level ini mencerminkan hubungan dengan dua level yang berbeza, sistem level ini biasanya mempunyai persyaratan yang berbeza antara MLM masing-masing. Bonus setiap level adalah dengan ditetapkan mengikut syarat-syarat tertentu dalam sesuatu multilevel. Sebelum menjalankan perniagaan. Setiap orang harus menjadi anggota (ahli) terlebih dahulu dan ahli dikehendaki menulis maklumat diri dan membayar wang pendaftaran atau dengan membeli produk perusahaan dengan jumlah tertentu. Setiap pembelian produk ini, maka ahli akan memperolehi point yang sangat penting kerana ia menjadi ukuran untuk perolehan bonus.Pembelian boleh dilakuakn secara langsung (oleh ahli) atau secara tidak langsung (oleh downline) yang mana ia juga dikenali sebagai jaringan bonus.
A) Apabila seseorang menjadi ahli MLM dia melakukan dua perkara:
1) Membeli produk/menjadi ahli (akad syirkah untuk barang dan akad ijarah untuk jasa)
2) Menjadi syamsarah/perantara/wakil perusahaan tersebut.
Di sini kita huraikan dulu perbezaan antara urusan jual beli dan syamsarah.
– Jual beli adalah transaksi antara penjual yang punya barang dan pembeli yang berkehendakkan barang tersebut.
– Sedangkan syamsarah adalah seseorang yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli. (Atas jasanya itu maka dia akan memperolehi bonus.)
Dengan demikian, apabila seseorang menjadi anggota MLM maka terjadi dua akad dalam satu transaksi, iaitu akad jual beli saat dia membeli produk dan akad sebagai perantara/wakil di saat dia memperoleh hak perniagaan. Satu transaksi dengan dua akad ini, jika dalam bentuk jasa disebut Shafqatayn fi shafqah, dan jika dalam bentuk barang disebut bay’atan fi bay’ah.
Dalam sebuah transaksi syari’at Islam mewajibkan adanya AKAD, yakni ijab dan qabul antara kedua pihak. Maksudnya, apabila saya menjual (misalnya) sebuah hp kepada anda maka saya katakan: ‘Saya jual hp saya ini dengan harga RM 400 kepada anda’, dan ini disebut ijab (penawaran). Kemudian anda mengatakan: ‘Saya beli hp anda dengan harga RM 400’, dan ini disebut Qabul (penerimaan). Begitu juga lafadz (ucapan) saat pernikahan, Ijab dari wali (bapa) wanita dan Qabul dari lelaki yang hendak mengahwini wanita tersebut.
Disamping itu, Islam telah menetapkan bahwa akad harus dilakukan terhadap salah satu dari dua perkara; zat (barang atau benda) atau jasa (manfaat). Misalnya, akad syirkah dan jual beli adalah akad yang dilakukan terhadap zat (barang atau benda), sedangkan akad ijârah adalah akad yang dilakukan terhadap jasa (manfaat). Selain terhadap dua hal ini, maka akad tersebut statusnya batil.
Mengenai shafqatayn fi shafqah, atau bay’atayn fi bay’ah, telah banyak dinyatakan dalam hadits Rasulululah antara lain sebagai berikut:
“Nabi saw telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian”. [1][1]
Hadith ini diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi dari Abû Hurayrah ra.
Dalam hal ini, as-Syâfi’i memberikan keterangan (syarh) terhadap maksud bay’atayn fi bay’ah (dua pembelian dalam satu pembelian), dengan menyatakan:
Jika seseorang mengatakan: Saya jual budak ini kepada anda dengan harga 1000, dengan catatan anda menjual rumah anda kepada saya dengan harga segini. Artinya, jika anda menetapkan milik anda menjadi milik saya, saya pun akan menetapkan milik saya menjadi anda.[2][2]
Dalam konteks ini, maksud bay’atayn fi bay’ah adalah melakukan dua akad dalam satu transaksi; akad yang pertama adalah akad jual-beli budak, sedangkan yang kedua adalah akad jual-beli rumah. Namun, masing-masing dinyatakan sebagai ketentuan yang mengikat satu sama lain, sehingga terjadilah dua transaksi tersebut termasuk dalam satu akad.
Hadits al-Bazzâr dan Ahmad, dari Ibn Mas’ûd yang menyatakan:
Rasulullah saw. telah melarang dua kesepakatan (akad) dalam satu kesepakatan (akad).[3][3]
Hadits yang senada dikemukakan oleh at-Thabrâni dalam kitabnya, al-Awsath, dengan redaksi sebagai berikut:
Dalam konteks hadits diatas, yang terjadi adalah bay’atan fi bay’ah yakni satu transaksi dengan dua jual beli (barang).
Tidaklah dihalalkan dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (HR Thabrani).
Dalam konteks hadits diatas, yang terjadi adalah Shafqatayn fi shafqah yakni satu transaksi dengan dua kesepakatan (jasa).
Tidaklah dihalalkan dua kesepakatan (akad) dalam satu kesepakatan (akad).[4][4]
Maksud hadits ini sama dengan hadits yang telah dinyatakan dalam point di atas. Dalam hal ini, Rasulullah saw. dengan tegas melarang praktik dua akad (kesepakatan) dalam satu akad (kesepakatan).
B) Selain itu terdapat juga hukum syamsarah ala syamsarah/ wakil atas wakil (perantara atas perantara)
Apabila seseorang menjadi ahli MLM, maka ia akan berusaha mencari down line baru dengan menawarkan produk perusahaan (di sini ia akan menjadi waklil kepada perusahaan itu. Kemudian down line yang telah menjadi anggota MLM ini akan mencari down line berikutnya dengan menawarkan produk perusahaan (ia-pun menjadi makelar lagi/simsar).
Dalam hal ini akan terjadi mewakili wakil (wakil atas wakil/ perantara atas perantara/syamsarah ala syamsarah)
Adapun pada asalnya wakil ini secara umumnya dibolehkan berdasarkan hadits dari Qays bin Abi Ghurzah al-Kinani ini menjelaskan
Kami biasa membeli beberapa wasaq di Madinah dan biasa menyebut diri kami dengan samasirah (bentuk plural simsar/wakil), kemudian Rasulullah saw keluar menghampiri kami dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik daripada sebutan kami. Beliau menyatakan: Wahai para Tujjar (plural dari tajir, pedagang), sesungguhnya jual beli itu selalu dihinggapi kelalaian dan sesumpah maka bersihkanlah dengan sedekah. [5][5]
Maksudnya begini, jika saya akan menjual rumah saya dengan harga RM 100 ribu maka saya minta bantuan seorang wakil (simsar), saya katakan: ‘Tolong jualkan rumah saya (carikan pembelinya) dengan harga RM 100 ribu dan jika terjual saya beri anda komisyen (upah) 2.5% dari nilai transaksi’. Jika perantara menemukan pembeli dengan saya dan transaksi berlangsung, maka saya bayarkan komisi kepada wakil itu itu RM 2500, Ini dibenarkan oleh syari’at Islam.
Hadits tersebut diuraikan (syarh) oleh as-Sarakhsi dalam kitabnya Al-Mabsuth li as-Sarakhsi,
“Simsar adalah sebutan untuk orang yang bekerja untuk orang lain dengan kompensasi ((upah/bonus/komisi), baik untuk menjual ataupun membeli.”[6][6]
Dengan batasan ini maka yang dibolehkan (mubah) oleh syari’at adalah wakil pada level pertama saja, dan diharamkan untuk level berikutnya karena akan terjadi Syamsarah ‘ala syamsarah.
Dari batasan-batasan tentang perwakilan di atas, dapat disimpulkan, bahawa perwakilan itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (mâlik). Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama wakil yang lain. Karena itu, mewakili wakil atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan wakil adalah sebagai orang tengah (mutawassith), atau orang yang mempertemukan (mushlih) dua kepentingan yang berbeza; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi wakil orang tengah (mutawassith al-mutawassith), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah.
Hal ini yang terjadi dalam bisnes MLM, seseorang up line (wakil yang entah ke berapa) kemudian mencari wakil lain (down line) untuk menawarkan produk perusahaan. Disini terjadi syamsarah ala syamsarah.
Kesimpulan:
1.Bisnes MLM ini dihukumi halal tidahk hanya berdasarkan produk yang dijual adalah barangan yang halal dan harus diamati adakah system MLM yang dijalankan melanggar hukuk syara’ atau tidak. Memang kita diwajibkan dalam berdagang hanya menjual barang yang dihalalkan oleh syara’, diharamkan menjual khamr, anjing, babi, salib, dan lain-lain. Tetapi sistem perdagangannya juga tidak boleh melanggar hukum syara’, seperti berbohong, penipuan dalam timbangan menjual barangan yang rosak mahupun satu transaksi dengan dua akad, dan lain-lain. Maksudnya dua hal harus dipenuhi: jenis barang dan sistem perdagangan.
2. Transaksi MLM yang umum berlangsung telah melanggar dua hukum syara.’
A) Melakukan satu transaksi dalam dua akad, shafqatayn fi shafqah untuk jasa atau bay’atan fi bay’ah untuk barang. Pada saat yang sama seorang anggota MLM menjadi pembeli dan sekaligus wakil bagi perusahaan.
B) Terjadi aktiviti wakil atas wakil/perantara atas perantara (syamsarah ‘ala syamsarah), seorang up line (perantara) menawarkan produk kepada down line (perantara berikutnya). Padahal produk yang ditawarkan up line tersebut bukan miliknya, ia hanya berfungsi sebagai wakil dan tidak berhak mencari wakilnya yang lainnya (down line).
3. Jika kita melakukan aktiviti yang diharamkan oleh syariat Islam, maka wang hasil usaha tersebut tentu haram juga. Dan setiap wang haram akan dipertanggung-jawabkan nanti di Yaumil akhir nanti. Adakah hujjah kita kepada Allah swt atas wang haram itu?. Lebih baik kita memperoleh penghasilan yang halal meskipun sedikit, daripada banyak tetapi haram.
Wallahua’lam.
Rujukan:
[1][1] Lihat, as-Syawkâni, Nayl al-Awthâr, Dâr al-Jîl, Beirut, 1973, juz V, hal. 248.
[2][2] Lihat, as-Syawkâni, Nayl al-Awthâr, juz V, hal. 249; pandangan yang sama juga dikemukakan oleh as-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni. Lihat, an-Nabhâni, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, Dâr al-Ummah, Beirut, 1992, juz II, hal. 318.
[3][3] Lihat, al-Haytsami, Majma’ az-Zawâ’id wa Manba’ al-Fawâ’id, Dâr al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, 1973, juz IV, hal. 84.
[4][4] Lihat, al-Haytsami, Majma’ az-Zawâ’id wa Manba’ al-Fawâ’id, juz IV, hal. 84.
[5][5] as-Sarakhsî, al-Mabsûth li as-Sarakhsî, juz XV, hal. 115.
[6][6] as-Sarakhsî, al-Mabsûth li as-Sarakhsî, juz XV, hal. 116.

Hukum Pembunuhan Menurut Islam

Bentuk-bentuk Pembunuhan Di Dalam Islam

Menurut Abdul Rahman Al-Maliki di dalam kitabnya Nizamul Uqubat, pembunuhan dapat dikategorikan kepada empat jenis iaitu:-

(i) pembunuhan sengaja (qatlu al-amad) 
(ii) mirip sengaja (shibhul amad) 
(iii) tersalah (khata’) 
(iv) tidak sengaja (ma ujri mujarral khata’). 

Adalah menjadi perkara yang maklum minaddin bi dharurah (tidak ada alasan untuk tidak mengetahui) bahawa melakukan pembunuhan secara sengaja adalah haram secara qath’ie (pasti). Firman Allah SWT 

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
 [TMQ an-Nisa’ (4):93]. 
Pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad) bermaksud membunuh orang lain dengan sesuatu (alat) yang pada umumnya dapat membunuh orang tersebut atau memperlakukan orang lain dengan suatu perbuatan yang pada umumnya dapat membunuh orang tersebut. Ia boleh dikategorikan kepada tiga macam:-

Pertama: Menggunakan alat yang biasanya dapat membunuh seseorang, misalnya pedang, pisau, pistol, bom tangan atau apa sahaja yang biasanya dapat digunakan untuk membunuh. Ini termasuklah memukul orang dengan benda berat dan besar yang boleh mengakibatkan kematian seperti batang besi, batang kayu, tukul, batu besar dan lain-lain. 

Kedua: Menggunakan alat yang biasanya tidak dapat membunuh akan tetapi ada indikasi lain yang umumnya akan menyebabkan kematian seseorang. Sebagai contoh, penggunaan tongkat yang diperbuat dari besi berat atau yang terdapat paku besar di kepalanya. Begitu juga sekiranya pukulan yang dilakukan adalah berulang-ulang kali yang lazimnya akan menyebabkan kematian meskipun alat yang digunakan adalah tongkat biasa atau batu biasa. Semua ini dianggap sebahagian dari jenis pembunuhan sengaja. 

Ketiga: Memperlakukan seseorang dengan suatu perbuatan yang biasanya dapat membunuh seseorang seperti mencekik lehernya, menggantung lehernya dengan tali atau melemparkan seseorang dari tempat tinggi seperti dari puncak gunung, bangunan yang tinggi, kapal terbang atau dari kereta yang sedang bergerak laju. Begitu juga dengan menenggelamkan seseorang ke dalam air atau memasukkan seseorang ke dalam api, menghumban seseorang ke kandang singa atau harimau atau binatang berbisa. Juga, boleh jadi dengan cara memenjarakan seseorang dalam tempoh yang lama tanpa diberi makan/minum hingga batas waktu yang tidak mungkin ia dapat bertahan. Jenis perbuatan yang serupa adalah seperti memberi seseorang meminum racun atau makanan yang boleh membunuhnya atau perbuatan apa sahaja yang lazimnya akan menyebabkan kematian. Semua perbuatan yang pada umumya boleh membunuh seseorang adalah tergolong dalam al-qatlu amad. Abu Daud meriwayatkan tentang peristiwa orang Yahudi yang memberikan Rasulullah SAW daging kambing yang beracun, kemudian Abu Salamah berkata tentang peristiwa itu, 

“Akhirnya terbunuhlah Basyir bin al-Bara’, kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh Yahudi tersebut”.

Uqubat (Hukuman) Bagi Pembunuhan

Sebelum kami menghurai lebih lanjut akan hukuman ke atas pelaku pembunuhan, perlu kami tegaskan di sini perbezaan di antara undang-undang Islam dengan undang-undang yang diguna pakai di Malaysia pada hari ini. Ada sesetengah orang terkeliru (dan dikelirukan) bahawa undang-undang yang sedia ada adalah bertepatan dengan Islam kerana hukuman bunuh dikenakan ke atas pembunuh. Sesungguhnya hukuman yang ada pada hari ini berbeza sama sekali dengan hukuman Islam dilihat dari sudut mana sekalipun. 

Pertama: Hukuman sekarang yang diperuntukkan di bawah seksyen 302 Kanun Keseksaan adalah berasal dari undang-undang yang dibuat dan diluluskan oleh manusia di Parlimen, manakala hukuman dalam Islam adalah berasal dari Allah dan Rasul di dalam Al-Quran dan Al-Hadis. 

Kedua: Mengikut undang-undang sekarang, pihak yang melakukan tuntutan (pendakwaan) adalah kerajaan (pendakwaraya), bukannya ahli waris (wali) mangsa, sedangkan di dalam Islam, hak pendakwaan terletak di tangan wali. 

Ketiga: Wali kepada pihak yang terbunuh langsung tidak diberi pilihan memilih hukuman, walhal di dalam Islam, wali mempunyai beberapa pilihan yang diberikan oleh syarak (diterangkan di bawah). 

Keempat:
 Hukuman Allah apabila dilaksanakan ke atas manusia akan menjadi pencegah (zawajir) dan penebus dosa (jawabir) bagi pelakunya di akhirat, sedangkan hukuman sekarang tidak akan membawa apa-apa erti, malah akan menimpakan dosa ke atas pelaksananya kerana jelas sekali mereka tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan. 

Berbeza dengan hukum kufur ciptaan manusia yang diterapkan pada hari ini, di dalam Islam, hukuman bagi pembunuhan yang disengaja bukanlah hukuman bunuh semata-mata. Wali (ahli waris) kepada yang terbunuh boleh memilih hukuman sama ada qisas (bunuh balas), atau diyat atau memaafkan. Hak ahli waris diterangkan oleh Allah melalui firmanNya, 

“Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh” [TMQ al-Isra’ (17):33]. 

FirmanNya yang lain, 

“Diwajibkan atas kamu qisas berkenaan orang-orang yang dibunuh”
 [TMQ al-Baqarah (2):178]. 

Adapun mengenai pilihan yang diberikan kepada ahli waris, is diterangkan oleh Rasulullah SAW melalui hadis baginda, 

“Barangsiapa yang terbunuh, maka walinya memiliki dua hak, boleh meminta diyat (tebusan) atau membunuh si pelakunya (qisas)
 [HR Bukhari]. 

Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Khuza’iy, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 

“Barangsiapa tertumpah darahnya atau disakiti, maka ia boleh memilih salah satu dari tiga pilihan, boleh meng-qisas atau mengambil diyat atau memaafkan. Jika ingin yang keempat, maka kuasailah dirinya”. 


Kesemua ini merupakan dalil yang sangat jelas bahawa hukuman bagi al-qatlu al-amad adalah qisas atau pihak wali meminta diyat ataupun memaafkan, yang berbeza sama sekali dengan undang-undang yang diterapkan pada hari ini. 

Berkenaan diyat, terdapat dua jenis diyat iaitu pertama, diyat berat (mughallazah) yakni 100 ekor unta di mana 40 darinya mestilah bunting. Diyat ini diambil dari pembunuhan yang disengaja (qatlu al-amad) apabila walinya memilih untuk meminta diyat. Diyat ini juga diambil dari pembunuhan mirip sengaja (syibhul amad). Kedua, diyat yang tidak berat yakni 100 ekor unta sahaja. Diyat semacam ini diambil dari kes pembunuhan yang tersalah dan tidak sengaja. Dalil untuk kesemua ini diambil dari hadis Nabi SAW. Diriwayatkan oleh Imam Nasa’iy bahawa Amru bin Hazm meriwayatkan di dalam kitabnya bahawa Rasulullah SAW telah menulis surat kepada penduduk Yaman, 

“Sesungguhnya di dalam jiwa seorang mukmin itu ada 100 ekor unta”. 

Dikeluarkan dari Tirmizi dari Amru bin Syuaib dari bapanya dari datuknya, bahawa Rasulullah SAW bersabda, 

“Barangsiapa yang membunuh dengan sengaja maka keputusannya diserahkan kepada wali-wali pihak terbunuh. Mereka berhak membunuh (qisas) atau mengambil diyat yakni 30 ekor unta dewasa (hiqqah), 30 ekor unta muda (jaza’ah) dan 40 unta yang sedang bunting, dan mereka juga berhak memaafkannya”. 

Diyat di sini mestilah berupa unta, bukan yang lain. Ini kerana nas telah menetapkannya demikian. Oleh itu, diyat tidak boleh dibayar dengan lembu, kambing, biri-biri atau haiwan yang lain. Tidak ada dalil dari Rasulullah SAW yang menunjukkan atau membenarkan hal tersebut. Adapun terdapat beberapa riwayat dari Amru bin Syuaib dan juga dari Atha’ dari Jabir yang membenarkan diganti unta dengan lembu dan biri-biri, sesungguhnya hadis-hadis tersebut adalah dhaif kerana terdapat di dalamnya Muhammad bin Rasyid al-Dimasyqiy a-Makhuliy dan juga Muhammad bin Ishaq yang terkenal suka melakukan tadlis (pembohongan). Perlu difahami bahawa kedudukan unta (di dalam diyat) adalah dasar diyat. Ia tidak boleh ditukarkan dengan apa jenis haiwan pun dan atas alasan apa pun.
 
Mengenai diyat wang, maka ia diukur dengan emas sebanyak 1,000 dinar dan perak sebanyak 12,000 dirham. Dalil tentang diyat yang dibayar dengan emas adalah apa yang diriwayatkan oleh Nasa’i dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazam dari bapanya dari datuknya, 

“Dan bagi orang yang memiliki emas (diyatnya) sebanyak 1,000 dinar”. 

Sedangkan dalil diyat dengan perak adalah berdasarkan riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas, 

“Seorang lelaki telah membunuh, kemudian Nabi SAW menetapkan diyatnya sebanyak 12,000 dirham”. 

Satu dinar syar’ie adalah setara dengan 4.25 gram emas dan satu dirham syar’ie adalah setara dengan 2.975 gram perak. Oleh itu, diyat bagi pihak yang terbunuh, bila dibayar dengan emas adalah sebanyak 4,250 gram atau jika dibayar dengan perak berjumlah sebanyak 35,700 gram perak. Diyat seorang yang merdeka adalah sama dengan diyat seorang hamba, begitu juga diyat seorang lelaki adalah sama dengan diyat seorang perempuan. Juga, tidak ada perbezaan di antara dewasa dan kanak-kanak atau Muslim dan zimmi, kesemua diyat mereka sama sahaja. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, 

“Kaum Muslimin darahnya sepadan”. Juga sabda baginda, “Di dalam jiwa seorang mukminah terdapat 100 ekor unta”. Sabda baginda yang lain, “Perhatikan orang yang terbunuh kerana pembunuhan yang mirip sengaja, baik terbunuh kerana cambuk mahupun tongkat, maka diyatnya adalah 100 ekor unta. 

Dalil-dalil ini berlaku umum tanpa dibezakan di antara lelaki mahupun wanita, merdeka mahupun hamba.

Pihak Yang Wajib Membayar Diyat

Mengenai pihak yang wajib membayar diyat, hal ini perlu dirincikan dan diperhatikan dengan cermat. Untuk kes pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad), diyat diambil dari harta si pembunuh, bukan dari aqilahnya. ‘Aqilah’ adalah pihak asabah  yang memiliki pertalian keluarga dari sebelah bapa (paternal relations/agnates). Adapun adik-beradik lelaki ibu (mother’s brothers) dan lain-lain saudara sebelah ibu (maternal relatives), suami/isteri dan siapa sahaja yang bukan dari sebelah bapa, kesemua mereka tidak termasuk dalam kategori aqilah. Adapun bapa dan anak lelaki bukanlah aqilah kerana aqilah adalah asabah yang tidak mewarisi kecuali bahagian yang ditinggalkan (baki/remainder) sahaja. 

Dalil bahawa diyat tidak diambil dari aqilah dalam kes pembunuhan sengaja adalah berdasarkan banyak hadis. Antaranya adalah yang diriwayatkan dari Amru bin al-Ahwas bahawa ia hadir pada saat haji wida’ bersama Rasulullah SAW di mana baginda bersabda, 

“Tidaklah seseorang pesalah/penjenayah melakukan jenayah kecuali (tertanggung) atas dirinya sendiri. Seorang anak tidak menanggung jenayah bapanya dan seorang bapa tidak menanggung jenayah anaknya”. 

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, 

“Seorang lelaki (anak) tidak dihukum atas kesalahan bapanya mahupun saudaranya”. 

Ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan bahawa pembunuhan yang disengaja, diyatnya tidak dibebankan kepada aqilah si pembunuh. Begitu juga di dalam kes pengakuan membunuh (confession) di mana diyatnya tidak dibebani kepada aqilahnya. Dari Ubadah bin Samit bahawa Rasulullah SAW bersabda, 

“Jangan bebani ke atas aqilah diyat walau sedikit, dari orang yang mengaku membunuh”. 

Adapun untuk pembunuhan mirip sengaja (syibhul amad), tersalah (khata’) dan juga tidak sengaja (ma ujri mujarral khata’), dalam ketiga-tiga kategori ini, diyatnya adalah terbeban (wajib) ke atas aqilah,. Ini adalah berdasarkan hadis dari Abu Hurairah yang berkata, 

“Dua orang wanita dari suku Huzail berkelahi. Salah seorang di antaranya melempar seorang lagi dengan batu. Wanita (yang dilempari batu) itu mati, begitu juga (bayi) yang dikandungnya. Nabi SAW menetapkan bahawa diyat atas janin adalah (membebaskan) hamba lelaki atau perempuan sedangkan diyat bagi wanita itu adalah atas aqilahnya (aqilah si pelempar)”. 

Difahami dari hadis di atas bahawa membunuh dengan batu adalah termasuk pembunuhan mirip sengaja kerana (melempar) batu lazimnya tidak menyebabkan kematian. Manakala untuk pembunuhan tersalah dan tidak sengaja, terdapat hadis sahih dari Nabi SAW bahawa 

“Baginda memutuskan bahawa diyat untuk pembunuhan yang tersalah adalah (dipertanggungjawabkan) kepada aqilahnya”. 

Sebagai kesimpulan, diyat bagi pembunuhan mirip sengaja, tersalah dan juga tidak sengaja  adalah diwajibkan ke atas aqilah semata-mata, tidak diwajibkan ke atas ahli waris. Jadi, hanya aqilah sahajalah yang mesti membayarnya. Secara terperinci, aqilah seseorang adalah asyeerah (ahli keluarga)nya iaitu adik-beradik lelakinya, bapa saudara sebelah bapa (paternal uncles) dan anak-anak lelaki dari bapa saudara sebelah bapa (sepupu lelaki) sehinggalah kepada datuk yang ketiga (datuk kepada datuk).  Ia bermula dari fakhz (kaum keluarga) yang terdekat. Jika mereka tidak mampu, maka diyat dikumpulkan dari kerabat terdekat yang berikutnya dan seterusnya, yang mukallaf, lelaki dan merdeka dari kalangan asabah nasab (agnates by relation) kemudian asabah sabab (agnates by cause). Jika mereka ini tidak mampu atau tidak ada, maka diyatnya diambil dari Baitul Mal. Disebutkan di dalam hadis Sahal bin Abi Hasyamah tentang seseorang yang terbunuh di Khaibar, 

“Kemudian Rasulullah SAW membayar diyatnya dari apa yang ia miliki (Baitul Mal)”. 

Juga, di dalam hadis Amru bin Syuaib disebut, 

“Kemudian baginda membayar diyatnya sebanyak 100 ekor unta dari unta sedekah”. 

Diyat diambil dari aqilah secara samarata dan diambil dari aqilah yang mampu sahaja. Adapun mengenai persoalan kepada siapakah diyat ini diserahkan, ia diserahkan kepada ahli waris pihak yang terbunuh, bukan kepada aqilah mereka. Ini kerana terdapat hadis yang melarang pembayaran diyat kepada aqilah orang yang terbunuh [sila baca penjelasan penuh di dalam kitab Nizamul Uqubat, Abdul Rahman al-Maliki]. 

Begitulah serba sedikit penjelasan tentang hukuman bunuh menurut Islam yang dapat diterangkan di dalam ruang yang serba terbatas ini. Melihat kepada kadar jenayah yang semakin meningkat di negara ini, dari satu sudut kita memanglah mengharapkan si pembunuh ditangkap dan dibicarakan segera. Namun, dari sudut yang lain, kita sesungguhnya tidak menginginkan penjenayah ini ‘diadili’ oleh hukum kufur kerana sememangya tidak akan ada keadilan di dalamnya kerana sesungguhnya kita yakin bahawa keadilan itu hanya akan dapat dicapai jika hukum Islam dilaksanakan. Kita juga yakin bahawa selagi hukum kufur ini terus membelenggu kita, maka kes-kes pembunuhan kejam seperti ini tidak akan dapat dihindari. Justeru, tidak ada lagi jalan untuk keluar dari keadaan yang amat buruk ini kecuali kita berusaha untuk menegakkan Daulah Khilafah di mana hanya dengan tertegaknya Khilafah sahajalah, barulah manusia akan benar-benar mendapat keadilan dan dunia ini akan berada dalam kesejahteraan dan kerahmatan kerana di kala itu hukum Allah menjadi hukum yang menaungi kita semua.

Adaptasi dari Sautun Nahdah 231, risalah mingguan Hizb Tahrir Malaysia. Moga memberi manfaat.