Perbincangan ringkas mengenai Taghut

 Definisi Taghut adalah luas. At-taghut (الطَّاغُوتَ) masdarnya ialah at-tughyan/tagha yang membawa maksud melebihi had.

“Sesungguhnya Kami, ketika air (banjir) melampaui hadnya (tagha) (serta menenggelamkan gunung-ganang), telah mengangkut (serta menyelamatkan nenek moyang) kamu ke dalam bahtera Nabi Nuh (yang bergerak laju pelayarannya).” (Surah Al-Haqqah: ayat 11)

Taghut dari segi istilah ialah mereka yg melangkaui batas dengan menyamakan ia dgn hak Allah dan menjadikannya sekutu dgn Allah. Allah S.W.T berfirman:
“(Lalu diperintahkan kepadanya): Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (tagha).” (Surah An-Naazi’at: ayat 17)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah taghut.” (Surah An-Nahl: ayat 36)

Umar Al-Khattab R.A berkata: “At-taghut itu adalah syaitan.” (At-tabari dlm Jami’ul Bayan An Ta’wilil Quran; Al-Hafiz Ibn Hajar dlm Fathul Bari (8/251) mengatakan bahawa sanadnya kuat)

Jabir R.A. berkata: “ At-taghut adalah para nujum dan penunjuk nasib yg bergantung kpd pertolongan syaitan.” (ibid)

Imam Malik Rh berkata: “Taghut itu adalah menyembah selain Allah.” (Riwayat As-Suyuti dlm Ad-Durarul Manthur dari jalan Ibn Abi Hatim)

Ibnul Qayyim Rh dlm I’lamul Muwaqiin memberi penjelasan lebih komprehensif, katanya: “At-taghut adalah perkara yg menyebabkan seseorang itu melebihi batasan samada ia berkaitan dgn penyembahan, mengikutinya atau mematuhinya. Jadi taghut dlm segala bentuk ialah mereka yg berpaling dari Allah dan RasulNya utk perkara hukum; atau merasa suka menyembah selain dari Allah atau mengikuti sesuatu tanpa sebarang dalil dari Allah atau mematuhi sesuatu dlm perkara yg diketahui bahawa ia adalah keingkaran kpd Allah.”

Irshad Manji bersama kumpulan yang mentafsir Islam dengan method yang karut

Adapun taghut, seluruh ulama juga sepakat bahwa definisi taghut adalah sesembahan selain Allah atau hukum-hukum kufur. Imam As-Sa’di menyatakan bahwa taghut adalah semua hukum selain hukum Allah SWT (Imam Abdurrahman Nashir as-Sa’di, Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalaam al-Manan, hlm. 90).
Imam Malik, sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-‘Arabi menyatakan, thaghut adalah semua hal selain Allah yang disembah manusia seperti berhala, pendeta, ahli sihir atau semua hal yang menyebabkan syirik (Ibnu al-’Arabi, Ahkam al-Qur’an, I/578).
Berdasarkan penjelasan ini dapat dipahami bahwa sekularisme, liberalisme, demokrasi, nasionalisme, sosialisme dan kapitalisme adalah taghut yang harus diingkari dan ditolak oleh kaum Muslim.
Sedangkan Khilafah, seluruh ulama sepakat bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum kaum Muslim di seluruh dunia pada wilayah tertentu untuk menjalankan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.
Syaikh Musthafa Shabari, Syaikhul Islam dalam Daulah Utsmaniyyah mendefinisikan khilafahdengan, “Pengganti Rasulullah saw. dalam melaksanakan syariah Islam”. (Musthafa Shabari,Mawqif al-‘Aql wa al-‘Ilm wa al-‘Alim, IV/363).
Imam al-Baidhawi mendefinisikan Khilafah dengan, “Sosok yang menggantikan Rasulullah saw. dalam menegakkan syariah Islam, menjaga agama, yang wajib ditaati oleh seluruh kaum Muslim.” (Imam al-Baidhawi, Hasyiyyah Syarh ath-Thawali’, hlm. 228).
Imam al-Qalqasyandi mendefinisikan khilafah dengan, “Kekuasaan umum atas seluruh umat”(Imam al-Qalqasyandi, Maatsir al-Inafah fi Ma’alim al-Khilafah, I/8).
Imam Adldi ad-Din al-Aiji mendefinisikan khilafah sebagai: “Kepemimpinan umum untuk urusan dunia dan akhirat yang dimiliki oleh seseorang.” (Imam ‘Adldi ad-Din al-Aiji, Mawaqif wa Syarhihi, V/66). Beliau juga menyatakan dalam kitab yang sama, bahwa khalifah lebih utama disebut sebagai: Khilafah ar-Rasul dalam menegakkan dan menjaga agama, yang mana ia wajib ditaati oleh seluruh kaum Muslim.”
Sebagian ulama Syafi’iyah mendefinisikan khilafah dengan, “Imam A’dzam (Pemimpin Agung) yang mengganti posisi Rasul dalam menjaga agama dan mengatur kehidupan dunia.”(Nihayah al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj, VII/289).
Imam al-Mawardi mendefinisikan khilafah dengan, “Imamah yang diposisikan untuk Khilafah Nubuwwah (pengganti kenabian) dalam hal menjaga agama dan urusan dunia.” (Imam Al-Mawardi, Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hlm. 3).
Ibnu Khaldun mendefinisikan khilafah dengan, “Wakil Allah dalam menjaga agama dan urusan dunia.” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm. 159).


Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
(Al-Baqarah 2:256) 

Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.
(Al-Baqarah 2:257)

Tidakkah engkau (hairan) melihat (wahai Muhammad) orang-orang (munafik) yang mendakwa bahawa mereka telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-kitab) yang telah diturunkan dahulu daripadamu? Mereka suka hendak berhakim kepada Taghut, padahal mereka telah diperintahkan supaya kufur ingkar kepada Taghut itu. Dan Syaitan pula sentiasa hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
(An-Nisaa’ 4:60)


Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah; dan orang-orang yang kafir pula berperang pada jalan Taghut (Syaitan). Oleh sebab itu, perangilah kamu akan pengikut-pengikut Syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya Syaitan itu adalah lemah.
(An
-Nisaa’ 4:76)

Katakanlah: “Mahukah, aku khabarkan kepada kamu tentang yang lebih buruk balasannya di sisi Allah daripada yang demikian itu? Ialah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dimurkaiNya, dan orang-orang yang dijadikan di antara mereka sebagai kera dan babi, dan penyembah Taghut. Mereka inilah yang lebih buruk kedudukannya dan yang lebih sesat dari jalan yang betul”.
(Al-Maaidah 5:60)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut”. Maka di antara mereka (yang menerima seruan Rasul itu), ada yang diberi hidayah petunjuk oIeh Allah dan ada pula yang berhak ditimpa kesesatan. Oleh itu mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah bagaimana buruknya kesudahan umat-umat yang mendustakan Rasul-rasulnya.
(Al-Nahl 16:36)


Dan orang-orang yang menjauhi dirinya dari menyembah atau memuja Taghut serta mereka rujuk kembali taat bulat-bulat kepada Allah, mereka akan beroleh berita yang mengembirakan (sebaik-baik sahaja mereka mulai meninggal dunia); oleh itu gembirakanlah hamba-hambaKu –
(Az-Zumar 39:17)

Deklarasi mujahidin Syria untuk tegaknya Khilafah Islam
















Inilah teks deklarasi mujahidin suriah untuk tegaknya Khilafah Islam

Tepat tanggal 12/12/2012 ikut bergabung beberapa brigade mujahidin untuk mendukung berdirinya negara Khilafah di Suriah. Sebelumnya diberitakan bahwa beberapa pimpinan brigade telah bersumpah untuk berusaha dengan sekuat tenaganya mendirikan negara khilafah islam pasca tumbangnya rezim diktator Bashar al-Assa

d, mereka juga menolak gagasan negara sipil demokrasi yg dipromosikan oleh negara-negara barat pimpinan AS dengan menggandeng rezim anteknya, negara-negara teluk. Selain itu mujahidin pejuang pembebasan suriah ini mendeklarasikan terbentuknya brigade-brigade yg tergabung dalam koalisi pendukung khilafah (liwa anshar al-khilafah). Rincian teks deklarasi dan brigade yg ikut bergabung sebagai berikut:

Bismillahi Al-Rahman Al-Raheem,

“Yang berhak menetapkan hukum adalah Allah swt. Dialah yg telah memerintahkan kalian untuk tidak beribadah kecuali kepada Nya. Inilah agama yg lurus, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (Terjemah Quran, Surat Yusuf 12:40)

Kami para pemimpin dari brigade-brigade sebagai berikut:

– Brigade Ansar Al Sharia
– Brigade Abdullah Ibn El-Zubeir
– Brigade Rijalullah
– Brigade As-Syahid Mustafa Abdul-Razzaq
– Brigade Syaifur Rahman

Dengan penuh keimanan kami memiliki kewajiban untuk melakukan aktivitas menegakkan hukum syariah islam dalam seluruh sendi kehidupan dan institusi pemerintahan, dan menuntut kami untuk meraih keridhoan Allah swt. Kami mendeklarasikan pembentukan brigade koalisi pendukung khilafah ( للواء انصار الخلافه) di daerah Aleppo bagian barat, dan kami bersumpah kepada Allah swt (tabaaraka wa ta’ala), bahwa kami akan mengupayakan secara dg sungguh-sungguh untuk menggulingkan rezim baath kafir pelaku kriminal. Kami juga menentang segala konspirasi persekongkolan baik dari dalam negeri maupun luar negeri suriah, dan menghancurkan rencana busuk mereka berupa rencana negara sipil demokrasi. Serta beraktivitas dengan orang-orang yg ikhlas untuk mendirikan kembali negara Khilafah Islam, yg dengan negara tersebut kami akan mengakhiri penjajahan dan perbudakan yg telah berlangsung puluhan tahun lamanya hingga mengembalikan kami sebagai kaum yg terhormat diantara Timur dan Barat.

Sungguh, kami menyeru saudara-saudara kami para mukhlisin dari berbagai brigade pejuang pembebasan suriah untuk menyatukan visi dengan kami, dan mendeklarasikan diri untuk melepaskan diri dengan agen-agen baru negara kolonialist (red:koalisi oposisi suriah yg dibentuk di Doha, Qatar). Kami juga memperingatkan mereka dari tawaran kompromi dalam hal agama untuk ditukar dengan uang dan persenjataan, karena sangat jelas, disanalah terbentang kehancuran. Dan demi Allah yg menguasai segala sesuatu perbendaharaan di langit dan di bumi, namun orang-orang munafik tidak memahaminya (TQS Munafiqun 63:7)

Dan Allah (azza wa jala) telah memberikan jaminan bahwa Dia akan memberi pertolongan kepada kita, apabila kita menolong Nya, dan berusaha menegakkan agama dan hukum shariah Nya dengan tulus. Allah swt berfirman, “Wahai orang2 yang beriman, apabila kalian menolong agama Allah, maka Allah swt akan menolongmu dan menguatkan kedudukanmu (TQS Muhammad 47:7). Allahu Akbar, dan segala kemuliaan milik Allah, Takbier: الله اكبر …الله كبر ..الله اكبر

Qasam (sumpah):

نقسم بالله العظيم ان نكون حرسا امناء للاسلام وان نعبد الله لا نشرك به شيئا وان لا نرضى بغير نظام الخلافه ولو بذلنا في سبيله المهج والارواح والله على ما نقول شهيد …نكبير الله اكبر الله اكبر الله اكبر

Kami bersumpah dengan nama Allah yg Maha Agung, bahwa kami akan menjadi penjaga Islam yg terpercaya, dan kami akan menyembah-Nya dengan tidak mensekutukan-Nya, dan tidak akan ridha dengan selain Sistem Khilafah mesikipun kami harus mengorbankan banyak dalam peperangan dan nyawa. Dan cukup Allah swt yang menjadi saksi atas apa yang kami ucapkan.

Takbier. Allah Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Video dapat dilihat di :
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=O-5uNi5VZHo

Seorang Kristian Yang Pemurah Dan Hakim Yang Angkuh

Semasa kerajaan Bani Umaiyah berkuasa di bawah pemerintahan Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan, terdapat seorang janda daripada keturunan Nabi Muhammad Sallallahu `alaihi wasallam. Dia mempunyai tiga orang anak perempuan yang masih kecil dalam kedaaan hidupnya sangat dhaif dan menyedihkan.
Pada suatu hari anak-anaknya menangis tidak berhenti-henti, kerana tidak tahan lagi menanggung kelaparan. Sudah puas ibunya memujuk menyuruh bersabar namun anak-anak itu terus menangis dengan kuatnya. 
“Tunggulah sampai besok nak, nanti ibu akan pergi ke pejabat kadi bertemu tuan hakim meminta sesuatu daripada harta Baitulmal’ mudah-mudahan dia menghulurkan sedikit bantuan untuk kita. ” Ujar ibu itu berjanji mengharapkan anak-anaknya akan diam. 
Maka pada keesokan harinya, pagi-pagi lagi ibu tadi beserta anak-anak itu datang ke pejabat tuan hakim. Setelah agak lama menunggu, barulah tuan hakim datang. Melihat ibu dan anak-anak kecil berada di hadapan pejabatnya, tuan hakim bertanya : 
“Ada apa kamu sekalian menunggu di sini ?” 
“Tuan Hakim ! Kami sudah lama tidak menjamah makanan. Saya sendiri boleh tahan, tapi anak-anak kecil ini tidak sanggup menahan lapar, jadi kami datanglah ke mari moga-moga Tuan dapat memberikan sedikit sedekah kepada kami.” Kata ibu tadi mengharap belas kasihan daripada tuan hakim itu. 
“Baiklah, hari ini kembalilah dulu ! Besok aku akan berikan kamu sesuatu,” tegasnya.
Wajah ibu itu ceria sedikit bila mengetahui bantuan yang diharap-harapkan itu akan diterimanya esok. Tapi bila memikirkan keadaan anak-anaknya yang sedang kelaparan itu maka timbul di hatinya untuk merayu kepada tuan hakim itu supaya bantuan itu diberikan pada hari itu juga. 
“Tuan Hakim ! Terima kasih banyak di atas pertimbangan Tuan yang baik itu, tapi alangkah baiknya kalau bantuan itu diberikan sekarang ini juga kerana anak-anakku sedang kelaparan.” Ibu itu merayu. 
“Sudahlah, bukankah aku sudah katakan besok saja, aku baru saja datang, takkan hendak menyelesaikan urusan kamu dahulu. “Sergah tuan hakim sambil minta si ibu itu keluar dari biliknya. 
Ibu itu menarik tangan anaknya untuk pulang, namun anak yang tidak mengerti itu lebih kuat lagi tangisannya kerana dillihatnya tidak ada sesuatu yang diberikan oleh tuan hakim itu.
Tuan hakim tak bagi kita apa-apa ibu? “Tanya anaknya yang agak besar itu.” 
“Tuan hakim sibuk hari ini nak, besok dia akan berikan sesuatu kepada kita.” Pujuk si ibu.
Pada malam itu dia terpaksa mencari jalan untuk mententeramkan anak-anaknya agar tidak terus menangis dan meyakinkan bahawa mereka pasti dapat bantuan daripada harta Baitulmal pada keesokan harinya. Namun anak-anak yang belum faham itu terus bertanya kenapa mesti kena tunggu besok kalau tuan hakim betul-betul mahu bantu. Bagaimanapun akhirnya mereka semua tertidur di dalam keadaan perut yang kosong. 
Pada keesokan paginya , ibu itu pergi seorang diri ke pejabat tuan hakim sementara anak-anaknya ditinggalkannya di rumah. 
“Assalamualaikum Tuan Hakim, ” ibu itu memulakan bicaranya.
“Ah, pagi-pagi buta begini engkau sudah sampai ke mari, ada apa ? “Bentak tuan hakim pura-pura bertanya.
Bukankah Tuan Hakim suruh saya datang hari ini kerana bantuan yang Tuan janjikan iru ? Kata ibu itu.
“Bantuan yang aku janjikan ? Eh… aku tak pernah berjanji kepada sesiapa pun.” Kata tuan hakim dengan nada sombong.
“Bukankah saya yang datang kelmarin dengan anak-anak dan Tuan hakim menyuruh….”
Belum sempat ibu itu menghabiskan bicaranya untuk mengingatkan tuan hakim tentang janjinya, tiba-tiba tuan hakim dengan nada keras dan suaranya yang tinggi memerintah pengawalnya.
“Hei pengawal ! Halau perempuan ini dari sini.”
“Wahai Tuan hakim! kenapakah tuan bersikap zalim begini ?” Kata ibu dengan marah.
“Ah…. pergi saja dari sini, jangan bising-bising, buang masa saja.” Perintah Tuan hakim.
Dengan penuh perasaan malu, ibu itu keluar dari pejabat tuan hakim sambil menahan tangisannya. Dia tidak mahu menunjukkan dirinya rendah dan hina seperti seorang pengemis yang sudah tidak punya pendirian lagi. Dia tahu dirinya dari keturunan mulia, dari anak cucu Rasulullah Sallallahu `alaihi wasallam yang mesti menjaga harga diri. 
Ibu itu cepat-cepat meninggalkan tempat itu dengan fikirannya yang berkecemuk memikirkan nasib malang yang menimpa dirinya.
“Apa yang akan aku katakan kepada anak-anakku yang sedang menunggu di rumah ? Aku katakan tuan hakim itu telah memungkiri janjinya ? Manalah anak-anak kecil itu tahu alasan-alasan seperti itu. ” Bisik ibu itu di dalam hatinya.
Dia kemudian memesongkan kakinya ke haluan jalan di mana terdapat sederetan rumah-rumah buruk yang sudah tidak berpenghuni lagi dan duduk di salah satu anak tangga di situ. Dia terus menangis sekuat-kuat hatinya sambil mengeluh : “Wahai Tuhanku! Apa yang akan aku katakan kepada anak-anakku yang sedang menunggu? Aku tidak sanggup lagi melihat mereka menangis kerana kelaparan. Aku tidak dapat menipu mereka lagi dengan alasan-alasan yang tidak benar ! Tuhanku ! Berilah aku jalan keluar daripada kesempitan ini! Aku sendiri pun sudah tidak larat lagi menanggungnya, apatah lagi anak-anakku yang kecil yang belum tahu apa-apa pun!” Ibu itu mengadu kepada Allah.
Ibu itu terus menangis dan merintih mengenangkan kesempitan hidupnya yang selalu sangat di dalam kelaparan dan dipandang hina oleh masyarakat setempat.
Sedang dia menangis tiba-tiba lalu dihadapannya dua orang pemuda yang kebetulan tadi 
sempat mendengar keluhan dan tangisannya, lalu menegur. 
“Wahai ibu, jangan takut…. kenapa ibu menangis di sini ? “Tanya pemuda itu.
“Wahai orang muda, kamu siapa ? Dan kenapa kamu datang ke sini ? “Ujar ibu itu pula sambil mengesatkan airmata dengan tangannya. 
“Nama saya Saiduq, berbangsa Nasrani dan beragama Masihi. Semua orang kenal saya di sini, dan ini pengawal saya. “Kata pemuda itu sambil menunjukkan pengawalnya. 
“Saiduq, saudagar Nasrani yang kaya raya itu ke ? “Tanya ibu itu yang pernah mendengar cerita tentang kekayaan Saiduq sebelum ini. 
Kenapa ibu menangis di sini ? “Tanya Saiduq tanpa menghiraukan pertanyaan ibu itu.
Tak ada apa-apa. “Jawab ibu itu cuba menyembunyikan. 
“Tak ada apa-apa takkan menangis ? Cuba ceritakan ! “Desak Saiduq lagi.
Setelah didesak berkali-kali akhirnya ibu itu pun menceritakan nasibnya yang malang itu dan bagaimana dia hidup menderita kesusahan menanggung tiga orang anaknya yang masih kecil. 
Diceritakan juga apa yang berlaku di antaranya dengan tuan hakim yang sombong itu.
“Saya faham, ibu jangan menangis lagi ! “kata Saiduq.
Kemudian Saiduq menyuruh perempuan itu kembali dulu ke rumah dan menunggu bantuan yang akan dikirimkan kepadanya lalu memanggil pengawalnya dan berkata :
“Pengawal ! Berikan perempuan itu seribu dinar (nilai yang sangat tinggi waktu itu). Kemudian belikan dia dan anak-anaknya pakaian dan segala keperluan rumahnya sekarang juga! “Perintah Saiduq. 
Ibu itu terkejut melihat seorang Nasrani yang begitu murah hati terhadap orang yang susah dan menderita sepertinya. Dia tidak dapat mengatakan betapa terima kasihnya terhadap orang yang bertimbang rasa itu. Meskipun dia bukan seorang muslim, namun dia tetap seorang manusia yang mempunyai perasaan terhadap insan yang lain.
Orang suruhan Saiduq itu segera pergi ke pasar untuk membeli makanan, buah-buahan dan segala keperluan dapur yang diperlukan oleh sebuah rumah, di samping pakaian untuk ibu dan anak-anaknya. Kesemuanya disampaikannya pada hari itu juga. 
Anak-anaknya bergembira melihat barang-barang yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Ibu itu juga turut gembira, dan mulai hari itu dia tidak menangis lagi. Dalam tangannya sudah ada serbu dinar yang cukup untuk menjamin hidupnya dua atau tiga tahun lagi.
“Sampaikan salam ku kepada Saiduq serta ucapan terima kasih banyak kepadanya”, kata ibu itu kepada pengawal tersebut.
Kemudian ibu itu pun berdoa kepada Allah: “Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Berikanlah si Saiduq itu taufiq dan hidayat untuk memeluk Islam, dan berikanlah dia daripada kenikmatanMu di syurga!” 
Sementara itu pada suatu malam tuan hakim yang sombong itu telah bermimpi melihat seolah-olah dia sedang berada di Hari Kiamat. Manusia terlalu sibuk waktu itu, masing-masing mencari perlindungan mengikut amalan di dunia. Tuan hakim dibawa malaikat menuju ke syurga. Kemudian di dalam syurga itu dia dibawa masuk ke dalam sebuah gedung besar yang tinggi, indah permai penuh dengan ukiran mas merah, tingkapnya daripada mutiara putih yang berkilau-kilauan. Di suatu tingkap di situ berdiri sekumpulan bidadari yang bercahaya lebih terang daripada cahaya matahari, dan lebih menarik dan cantik daripada cahaya bulan.
Apabila tuan hakim tiba disitu, semua bidadari itu bertempik di mukanya: “Orang yang tidak tahu diuntung ! Orang yang dalam kerugian ! Dulu kami semua adalah kepunyaanmu, dan gedung ini pula adalah milikmu. Tetapi sekarang sudah bertukar, alangkah malangnya nasibmu. Semuanya ini, termasuk kami bidadari akan menjadi hak milik Saiduq, seorang berbangsa Nasrani itu. Sekarang pergi dari sini, kami bukan hak milik kamu lagi. Tempat yang layak bagi kamu adalah neraka.” Kata suara tempikan yang sangat dahsyat. 
Kemudian tuan hakim itu dibawa pula ke dalam neraka, dan ditunjukkan tempatnya di situ. Pada saat itulah tuan hakim itu tersedar daripada mimpinya. Dia terperanjat dan merasa takut sekali. Dia tidak dapat tidur pada malam itu sampai ke pagi memikirkan mimpinya yang menakutkan itu. 
Pada keesokan paginya, tuan hakim bergegas ke rumah Saiduq. Saiduq berbangga kerana tuan hakim datang ke rumahnya. 
Tuan Hakim masuk ke dalam rumahnya lalu bertanya: “Ada apa-apa tak kebaikan yang kau lakukan semalam? “Tanya tuan hakim. 
“Saya memang suka membuat kebaikan,” jawabnya. Kebaikan yang macam mana?
Tanya Saiduq kembali. 
“Kebaikan apa saja, cuba terangkan!” 
“Malam tadi saya menjamu kawan-kawan minum arak, dan saya minum lebih sedikit, maka saya mabuk, saya tidak ingat apa-apa.” Saiduq memberitahu tuan hakim. 
“Aku tidak mahu tahu dosa yang kau buat itu, yang aku maksudkan kebaikan apa yang kau buat untuk orang lain, cuba ingat,” tuan hakim naik darah. 
Setelah diingati betul-betul maka teringatlah Saiduq bahawa beberapa hari yang lalu dia telah menolong seorang perempuan dan anak-anaknya yang di dalam kesusahan dan kelaparan. 
“Barangkali kebaikan yang aku lakukan terhadap seorang perempuan yang mempunyai tiga anak kecil jika tidak salah aku! “terang Saiduq. 
“Ya…ya, itulah dia “pintas tuan hakim tidak sabar. “Apa yang kau berikan kepadanya ?” 
“Apakah salah, jika aku berikan sesuatu kepadanya ? “Tanya Saiduq lagi. 
“Bukan begitu, tetapi aku hendak tahu, apa yang kau berikan kepadanya, dan bagaimana kau boleh bertemu dengannya”, kata tuan hakim lagi. 
“Oh…. begitu ! Baiklah, mula-mula saya jumpa perempuan itu di deretan rumah-rumah yang roboh sambil menangis. Saya kasihan kepadanya, tanpa diminta saya berikan makanan, pakaian dan segala keperluannya serta anak-anaknya,”kata Saiduq sungguh-sungguh. 
“Itu sajakah yang kau beri? “Tanya tuan hakim lagi. 
“Ada lagi, “Jawab Saiduq. 
“Apa dia? “Tanya tuan hakim memaksa. 
“Saya beri dia seribu dinar untuk keperluan hidupnya. Saya berikan itu kerana Allah, saya kasihan kepadanya dan anak-anaknya,”Saiduq cerita kesemuanya.
Tuan hakim termenung sebentar kerana mengenangkan peristiwa yang berlaku antaranya dengan perempuan itu sebelum ini. Dihatinya sungguh menyesal perbuatannya yang angkuh itu yang menyebabkan beliau diperlihatkan bakal kehilangan segala-galanya di akhirat kelak.
“Tapi, saya ingin tahu juga apa sebabnya tuan hakim datang ke rumah saya pagi-pagi begini semata-mata hanya hendak bertanya perkara ini ? “Tanya Saiduq menduga.
Tuan hakim masih termenung, kemudian tunduk. Pada wajahnya ternyata seperti seorang yang sedang memikirkan sesuatu dan tampak sedih sekali. 
“Begini Saiduq, malam tadi aku bermimpi yang sungguh menyedihkan. “Kata tuan hakim perlahan.
“Mimpi yang menyedihkan tuan ? “Saiduq terperanjat “Tapi apa kena mengenanya dengan diri saya? Tanyanya lagi.
Tuan hakim tidak punya pilihan lain, terpaksa menceritakan segala yang berlaku di dalam mimpinya. Dia menceritakan segala gedung dan bidadari-bidadari di syurga nanti yang asalnya menjadi miliknya telah bertukar menjadi milik Saiduq kerana semata-mata kebaikan yang dilakukan itu kepada seseorang yang memerlukannya. 
Mendengar cerita itu, gementerlah badan Saiduq dan dengan tiba-tiba dia menghulurkan tangannya kepada tuan hakim, katanya :
“Tuan hakim ! Sekarang saksikanlah …… bahwa saya menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah, Yang Esa, tiada sekutu bagiNya dan bahwasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah, yang diutuskanNya membawa petunjuk dan agama yang benar.” 
Tuan hakim terpaksa menyaksikan keislaman Saiduq itu dengan hatinya sedih dan menyesal atas kelakuannya yang tidak berperikemanusiaan. 

Usahlah Ta’sub Dengan Ulama




“Mereka (Yahudi dan Nasara) menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”[TMQ at-Taubah (9):31].

Mereka (para rahib) jika menghalalkan sesuatu maka orang ramai pun ikut menghalalkannya (yakni mengikutinya/mentaqlidnya) dan mereka jika mengharamkan sesuatu maka orang ramai pun ikut mengharamkannya maka itulah pengibadatan mereka (itulah bukti mereka menyembah para r

ahib [HR At Tirmizi & Baihaqi]

Ramai di kalangan umat Islam memilih untuk bertaqlid kepada ulama, ustaz atau figure daripada mengkaji dan cuma memahami sesuatu permasalahan hukum syarak dengan mendalam. Mungkin di kalangan orang yang tidak berupaya, orang yang kurang cerdas, maka dibolehkan malah dianjurkan untuk bertaklid kepada ulama yang diyakini keupayaan ijtihadnya (Imam-imam mazhab dalam bab ibadah dan feqah). Yang menghairankan, apabila ada yang mampu mendapat master/ PhD dalam bidang kejuruteraan, bidang sains, kedoktoran dan lain-lain displin ilmu yang kompleks, pun masih gemar memilih bertaqlid sepertimana orang yang dikatakan kurang cerdas itu.

Berbeza dengan perkara berkaitan aqidah, ia wajib dimurnikan dengan pemikiran yang utuh, bukan sekadar bertaqlid buta. Kemunduran berfikir umat Islam hari ini adalah dek kerana kemalasan mereka sendiri untuk memurnikan aqidah mereka.

Sangatlah buruk perbuatan mereka dan sebahagian besar masyarakat yang masih berpegang kepada sangkaan dan keyakinan mereka bahawa mereka benar tanpa penyelidikan, penelitian dan pengkajian bagi mensabitkan apakah selama ini mereka berada dalam kebenaran atau selama ini mereka berada dalam penipuan, kesesatan dan kesilapan. Sesungguhnya sangka-sangka mereka sangatlah tidak bermanfaat dan tidak menyelamatkan mereka sedikitpun.

Sungguh sangkaan mereka langsung tidak membawa manfaat pada mereka (dalam membawa mereka) kepada kebenaran sedikitpun” (Surah Yunus (10): 36).

Mereka menyangka, ulama figure merekalah yang sentiasa baik sekalipun terpampang jelas realiti untuk diindera. Mereka menyangka, ulama mereka tidak akan terbelit dengan penipuan syaitan jin dan manusia (atas sebab ketokohan mereka), walhal mereka tahu, jerat Iblis dan syaitan ke atas ulamalah lebih dahsyat dari jerat yang disediakan ke atas mereka yang bodoh…..