Perbincangan ringkas mengenai Taghut

 Definisi Taghut adalah luas. At-taghut (الطَّاغُوتَ) masdarnya ialah at-tughyan/tagha yang membawa maksud melebihi had.

“Sesungguhnya Kami, ketika air (banjir) melampaui hadnya (tagha) (serta menenggelamkan gunung-ganang), telah mengangkut (serta menyelamatkan nenek moyang) kamu ke dalam bahtera Nabi Nuh (yang bergerak laju pelayarannya).” (Surah Al-Haqqah: ayat 11)

Taghut dari segi istilah ialah mereka yg melangkaui batas dengan menyamakan ia dgn hak Allah dan menjadikannya sekutu dgn Allah. Allah S.W.T berfirman:
“(Lalu diperintahkan kepadanya): Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (tagha).” (Surah An-Naazi’at: ayat 17)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah taghut.” (Surah An-Nahl: ayat 36)

Umar Al-Khattab R.A berkata: “At-taghut itu adalah syaitan.” (At-tabari dlm Jami’ul Bayan An Ta’wilil Quran; Al-Hafiz Ibn Hajar dlm Fathul Bari (8/251) mengatakan bahawa sanadnya kuat)

Jabir R.A. berkata: “ At-taghut adalah para nujum dan penunjuk nasib yg bergantung kpd pertolongan syaitan.” (ibid)

Imam Malik Rh berkata: “Taghut itu adalah menyembah selain Allah.” (Riwayat As-Suyuti dlm Ad-Durarul Manthur dari jalan Ibn Abi Hatim)

Ibnul Qayyim Rh dlm I’lamul Muwaqiin memberi penjelasan lebih komprehensif, katanya: “At-taghut adalah perkara yg menyebabkan seseorang itu melebihi batasan samada ia berkaitan dgn penyembahan, mengikutinya atau mematuhinya. Jadi taghut dlm segala bentuk ialah mereka yg berpaling dari Allah dan RasulNya utk perkara hukum; atau merasa suka menyembah selain dari Allah atau mengikuti sesuatu tanpa sebarang dalil dari Allah atau mematuhi sesuatu dlm perkara yg diketahui bahawa ia adalah keingkaran kpd Allah.”

Irshad Manji bersama kumpulan yang mentafsir Islam dengan method yang karut

Adapun taghut, seluruh ulama juga sepakat bahwa definisi taghut adalah sesembahan selain Allah atau hukum-hukum kufur. Imam As-Sa’di menyatakan bahwa taghut adalah semua hukum selain hukum Allah SWT (Imam Abdurrahman Nashir as-Sa’di, Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalaam al-Manan, hlm. 90).
Imam Malik, sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-‘Arabi menyatakan, thaghut adalah semua hal selain Allah yang disembah manusia seperti berhala, pendeta, ahli sihir atau semua hal yang menyebabkan syirik (Ibnu al-’Arabi, Ahkam al-Qur’an, I/578).
Berdasarkan penjelasan ini dapat dipahami bahwa sekularisme, liberalisme, demokrasi, nasionalisme, sosialisme dan kapitalisme adalah taghut yang harus diingkari dan ditolak oleh kaum Muslim.
Sedangkan Khilafah, seluruh ulama sepakat bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum kaum Muslim di seluruh dunia pada wilayah tertentu untuk menjalankan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.
Syaikh Musthafa Shabari, Syaikhul Islam dalam Daulah Utsmaniyyah mendefinisikan khilafahdengan, “Pengganti Rasulullah saw. dalam melaksanakan syariah Islam”. (Musthafa Shabari,Mawqif al-‘Aql wa al-‘Ilm wa al-‘Alim, IV/363).
Imam al-Baidhawi mendefinisikan Khilafah dengan, “Sosok yang menggantikan Rasulullah saw. dalam menegakkan syariah Islam, menjaga agama, yang wajib ditaati oleh seluruh kaum Muslim.” (Imam al-Baidhawi, Hasyiyyah Syarh ath-Thawali’, hlm. 228).
Imam al-Qalqasyandi mendefinisikan khilafah dengan, “Kekuasaan umum atas seluruh umat”(Imam al-Qalqasyandi, Maatsir al-Inafah fi Ma’alim al-Khilafah, I/8).
Imam Adldi ad-Din al-Aiji mendefinisikan khilafah sebagai: “Kepemimpinan umum untuk urusan dunia dan akhirat yang dimiliki oleh seseorang.” (Imam ‘Adldi ad-Din al-Aiji, Mawaqif wa Syarhihi, V/66). Beliau juga menyatakan dalam kitab yang sama, bahwa khalifah lebih utama disebut sebagai: Khilafah ar-Rasul dalam menegakkan dan menjaga agama, yang mana ia wajib ditaati oleh seluruh kaum Muslim.”
Sebagian ulama Syafi’iyah mendefinisikan khilafah dengan, “Imam A’dzam (Pemimpin Agung) yang mengganti posisi Rasul dalam menjaga agama dan mengatur kehidupan dunia.”(Nihayah al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj, VII/289).
Imam al-Mawardi mendefinisikan khilafah dengan, “Imamah yang diposisikan untuk Khilafah Nubuwwah (pengganti kenabian) dalam hal menjaga agama dan urusan dunia.” (Imam Al-Mawardi, Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hlm. 3).
Ibnu Khaldun mendefinisikan khilafah dengan, “Wakil Allah dalam menjaga agama dan urusan dunia.” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm. 159).


Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut, dan ia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus. Dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
(Al-Baqarah 2:256) 

Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.
(Al-Baqarah 2:257)

Tidakkah engkau (hairan) melihat (wahai Muhammad) orang-orang (munafik) yang mendakwa bahawa mereka telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-kitab) yang telah diturunkan dahulu daripadamu? Mereka suka hendak berhakim kepada Taghut, padahal mereka telah diperintahkan supaya kufur ingkar kepada Taghut itu. Dan Syaitan pula sentiasa hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.
(An-Nisaa’ 4:60)


Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah; dan orang-orang yang kafir pula berperang pada jalan Taghut (Syaitan). Oleh sebab itu, perangilah kamu akan pengikut-pengikut Syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya Syaitan itu adalah lemah.
(An
-Nisaa’ 4:76)

Katakanlah: “Mahukah, aku khabarkan kepada kamu tentang yang lebih buruk balasannya di sisi Allah daripada yang demikian itu? Ialah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dimurkaiNya, dan orang-orang yang dijadikan di antara mereka sebagai kera dan babi, dan penyembah Taghut. Mereka inilah yang lebih buruk kedudukannya dan yang lebih sesat dari jalan yang betul”.
(Al-Maaidah 5:60)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut”. Maka di antara mereka (yang menerima seruan Rasul itu), ada yang diberi hidayah petunjuk oIeh Allah dan ada pula yang berhak ditimpa kesesatan. Oleh itu mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah bagaimana buruknya kesudahan umat-umat yang mendustakan Rasul-rasulnya.
(Al-Nahl 16:36)


Dan orang-orang yang menjauhi dirinya dari menyembah atau memuja Taghut serta mereka rujuk kembali taat bulat-bulat kepada Allah, mereka akan beroleh berita yang mengembirakan (sebaik-baik sahaja mereka mulai meninggal dunia); oleh itu gembirakanlah hamba-hambaKu –
(Az-Zumar 39:17)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *