Hukum Islam, mencegah dan merawat- Hukum Kufur, manfaat dan Maksiat

Dulu masa sekolah, sapa bising je, nama kena tulis kat papan hitam. Nanti cikgu garang masuk, panggil nama terus bagi rotan kat tapak tangan. Dalam kelas ada jadual tugas, sapa tak jalankan tugas cikgu bagi rotan.. Piaaappp! Atoih.. Begitulah rasanya kita dipupuk dengan satu fahaman, “Undang-undang diguna untuk menghukum”.

Bila dah besar ni, kita masuk U. Pakai t-shirt tak berkolar kena tolak merit. Tak siap tesis atau tak sempurna kena tolak markah, CGPA drop. Bila kedudukan getir, surat warning dari Penaja e.g. JPA, Mara dll sampai muka pintu rumah kita dikampung. Dapat call ayah pesan study elok-elok.. mak bebel jaga tingkahlaku.. Undang-undang diguna untuk menghukum.

Bila dah berfamili pun sama. Kerajaan menghukum dengan undang-undang. Silap cakap sikit, cikgu-cikgi dihantar mengajar kawasan sukar, tanggung derita. Sokong pembangkang aje, jadi anak tiri macam ‘Cinderella’. Speedtrap, roadblock, ungkit saman-saman entah berantah.. itu ini.. semuanya jalan kerajaan cari duit hujung tahun nak tanggung bonus kakitangan (kot)! Kerajaan memang menggunakan undang-undang untuk menghukum.

Ingatlah kenalan-kenalan sekalian, undang-undang sebenarnya diwujudkan untuk mencipta keamanan. Bila undang-undang diguna untuk ‘cari makan’, intimidasi, kuku besi, diskriminasi dan lain-lain. Cara menggunakan undang-undang ini bukan dari Islam. Sahih ia bukan ajaran Islam kerana syariat Islam bukan diutus untuk menghukum semata-mata kerana syariat Islam adalah PETUNJUK atau PANDUAN hidup dari Sang Pencipta.

Hukuman menurut Islam dikenakan ke atas orang-orang yang mempunyai kesedaran dan keinsafan yang tinggi terhadap Allah SWT dan hari akhirat. Mengambil hukuman Islam sebagai penebus kesalahan merupakan tindakan mulia dan mendapat balasan syurga berbanding hukuman kufur Kapitalisme/Sosialisme. Sebab itulah ‘uqubat (hukuman) Islam bersifat zawajir (pencegahan) dan jawabir (perawatan).

Mana satu pilihan anda?

Mengapa Khilafah Pilihan Tunggal?

Saat ini tidak ada lagi alasan bagi kaum Muslim untuk tidak kembali menegakkan Khilafah, kerana:

PERTAMA,
Khilafah adalah tuntutan akidah dan syariat Islam. Kaum Muslim wajib menerapkan semua aturan Allah Swt. sebagai konsekuensi keislaman mereka. Persoalannya, bagaimana mungkin kita boleh menerapkan hukum-hukum Allah secara total kalau kita tidak mempunyai negara yang menerapkannya, yakni Khilafah Islamiyah?

KEDUA,
Khilafah akan mensejahterakan rakyat. Sistem kapitalistik yang menaungi masyarakat saat ini hanya mensejahterakan sebahagian kecil individu, sementara majoriti umat hidup dalam kemiskinan, padahal negeri-negeri Islam rata-rata memiliki kekayaan alam yang luar biasa.

KETIGA,
Khilafah akan menjamin keamanan rakyat. Penguasa sekular di negeri-negeri Islam lebih menghambakan diri pada kepentingan penjajah, membiarkan rakyatnya dibunuh.

KEEMPAT,
Khalifah akan menjaga pertahanan serta keutuhan dan persatuan negeri-negeri Islam. Ketiadaan Khilafah membuat kaum Muslim bagaikan kehilangan penjaga rumah mereka. Akibatnya, orang-orang jahat dengan mudahnya masuk dan membuat kerosakan di negeri-negeri Islam. Ironisnya, orang-orang jahat ini diundang oleh para penguasa Muslim sendiri atas nama demokrasi, rekontruksi, pembangunan, investasi, dan lain-lain. Padahal penjajah tersebut mempunyai satu tujuan: mengeksploitasi negeri-negeri Islam. Negeri-negeri Islam yang tadinya satu di bawah naungan Khilafah pun dipecah-pecah atas nama kemerdekaan dan penyelesaian konflik. Khalifahlah yang akan kembali menyatukan umat Islam ini kelak.

KELIMA,
Khilafah akan memuliakan dan menjaga kehormatan wanita. Kapitalisme telah merendahkan wanita dengan serendah-rendahnya. Mereka menganggap wanita tidak lebih dari komoditi ekonomi yang boleh diperjual belikan. Para kapitalis yang rakus juga memperkerjakan wanita di kilang kilang dengan upah yang sangat murah. Sangat berbeza dengan Islam, yang memuliakan wanita. Islam menjaga kehormatan wanita dengan kewajiban menutup aurat dan mengatur pergaulan wanita. Wanita diposisikan oleh Islam pada tempat yang sangat mulia di keluarga sebagai ummu wa rabbatul bait (pengatur rumahtangga).

KEENAM,
Khalifah akan melindungi orang-orang yang lemah dan warga non-Muslim. Kapitalisme telah mendiskriminasi manusia berdasarkan kekuatan modalnya. Berbeza dengan Islam, yang akan menjamin orang-orang lemah dan miskin; termasuk juga melindungi warga non-Muslim ahlul dzimmah.

KETUJUH,
Khalifah akan menyebarluaskan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Penyebaran nilai-nilai Kapitalisme seperti sekularisme, demokrasi, HAM, pluralisme telah menjadi bencana besar bagi umat manusia. Siapa yang boleh menyelamatkan ini semua? Tidak lain kecuali Islam. Nilai-nilai Islam yang bersumber dari Allah Swt. akan memberikan rahmat bagi seluruh dunia saat syariat Islam ditegakkan. Inilah yang pernah terjadi sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam.

JANJI ALLAH PASTI DATANG !!!

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar. (QS.Faathir.5)

Bagi Seorang MUSLIM :
:: Tidak Ada Masalah Jika Darahnya Harus Tertumpah.
:: Tidak Ada Masalah Berapa Banyak Harta yg keluar Untuk Berjuang.
:: Tidak Ada Masalah Berapa Lama Waktu yg diperlukan dalam Perjuangan.
:: Tapi,Seberapa Besar mereka percaya pada KEYAKINANYA Atas BISYARAH NABI SAW.
:: Kerana Bagi Kaum Muslimin Bisyarah adalah Sebuah KEPASTIAN.

Bagi Kaum Muslimin :
:: Bagi Kaum Muslimin, Kembali Tegaknya Khilafah adalah “Kepastian”
:: Tidak ada yang tidak terjadi, Jika “Bisyarah” Sudah Keluar Dari Lisan Nabi SAW.
:: Cukup Dengan “….Tsumma takuunu khilafatan ala minhajin nubuwwah (HR. Ahmad) Maka Kami Yakin.
:: Tidak Perduli, Berjuta Orang Berkata “Khilafah itu Fatamorgana, Khilafah itu Utopis semata) Bagi Kami “Cukup” Janji Allah dan Nabi-Nya.

Lalu, bagaimana caranya menegakkan negara khilafah? Caranya adalah mengikuti metode Rasulullah saw.
Mengapa harus Rasulullah saw? Sebab, Allah swt. bersabda,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7)

Juga sabda Rasulullah saw.,
“Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu pun tertolak.” (HR. Muslim)

“Ya Allah, limpahkanlah pertolongan dan kemenangan kepada kami sehingga kami dapat segera membaiat seorang khalifah, mengibarkan bendera Lâ ilâha illâ Allâh di seluruh penjuru dunia, dan menerapkan syariat-Mu secara total dalam kehidupan kami. Aamiin.”

Artikel asal oleh: Syarif Naba

Azan waktu hujan

Terdapat banyak riwayat yang menunjukkan adanya perbedaan antara lafaz azan biasa dengan lafadz azan ketika hujan. berikut beberapa riwayat yang menunjukkan hal tersebut,
Pertama, dari Nafi’ dari Ibnu Umar
أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِى آخِرِ نِدَائِهِ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ فِى السَّفَرِ أَنْ يَقُولَ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ.
 Ibnu Umar pernah azan untuk solat di malam yang dingin, anginnya kencang dan hujan, kemudian dia mengatakan di akhir adzan,
Alaa shollu fi rihaalikum,
Alaa shollu fir rihaal’

[Solatlah di rumah kalian, solatlah di rumah kalian]’.

Kemudian beliau mengatakan,”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyuruh muadzin, apabila cuaca malam dingin dan berhujan ketika beliau safar untuk mengucapkan, ’Alaa shollu fi rihaalikum’ [Solatlah di tempat kalian masing-masing]’. (HR. Muslim no. 1633 dan Abu Daud no. 1062)
Kedua, dari Nafi’, beliau menceritakan:
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ فَقَالَ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ ذَاتُ مَطَرٍ يَقُولُ « أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ ».
“Ibnu Umar pernah azan ketika solat di waktu malam yang dingin dan berangin. Kemudian beliau mengatakan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [solatlah di rumah kalian].
Kemudian beliau mengatakan,”Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mu’adzin ketika keadaan malam itu dingin dan hujan, untuk mengucapkan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [hendaklah kalian solat di rumah kalian].”(HR. Muslim no. 1632 dan Abu Daud no. 1063)
Ketiga, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berpesan mu’adzin pada saat hujan,
إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ
“Apabila engkau selesai mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaha illallohasyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ‘Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah ‘Sholluu fii buyutikum’ [Solatlah di rumah kalian].
قَالَ : فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ.
Masyarakat pun mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut. Lalu Ibnu Abbas mengatakan, “Apakah kalian merasa hairan dengan hal ini, padahal hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). (HR. Muslim no. 1637 dan Abu Daud no. 1066).
Dari riwayat di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa lafaz azan tambahan ketika hujan sebagai berikut:
1. أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ (’Alaa shollu fir rihaal’ artinya ‘Solatlah kalian di rumah’)
2. أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ (‘Alaa shollu fi rihaalikum’ artinya ‘Solat kalian di rumah kalian’)
3. صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ (‘Sholluu fii buyutikum’ artinya ‘Solatlah di rumah kalian’)
Tiga lafaz di atas tidak dibaca semuanya, namun dipilih salah satu.
Letak Lafaz tambahan ‘Shollu Fii Buyuthikum’ atau ‘Ala Shallu fir rihaal
Azan dilaungkan oleh mujahideen Syiria
Pertama, menggantikan lafaz ‘hayya ‘alas shalaah’, ini sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas di atas.
Kedua, diucapkan langsung setelah selesai azan, sebagaimana yang dinyatakan dalam riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Ketika menjelaskan hadis Ibnu Abbas, an-Nawawi mengatakan,
وفي حديث بن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنْ يَقُولَ أَلَا صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ فِي نَفْسِ الْأَذَانِ وَفِي حديث بن عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ فِي آخِرِ نِدَائِهِ وَالْأَمْرَانِ جَائِزَانِ نَصَّ عَلَيْهِمَا الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْأُمِّ فِي كِتَابِ الْأَذَانِ وَتَابَعَهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا فِي ذَلِكَ
“Dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, muadzin mengucapkan ’Alaa shollu fii rihalikum’ di tengah adzan. Sedangkan dalam hadis Ibnu Umar, beliau mengucapkan lafaz ini di akhir azannya. Kedua cara seperti ini dibolehkan, sebagaimana ditegaskan Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm pada Bab Azan, dan diikuti oleh majoriti ulama mazhab kami (syafi’iyah). (Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi, 5:207)
Lebih lanjut, an-Nawawi menganjurkan agar dilakukan setelah azan. Beliau mengatakan:
فَيَجُوزُ بَعْدَ الْأَذَانِ وَفِي أَثْنَائِهِ لِثُبُوتِ السُّنَّةِ فِيهِمَا لَكِنَّ قَوْلَهُ بَعْدَهُ أَحْسَنُ لِيَبْقَى نَظْمُ الْأَذَانِ عَلَى وَضْعِهِ
Lafaz ini boleh diucapkan setelah azan maupun di tengah-tengah azan, karana terdapat dalil untuk kedua bentuk azan ini. Akan tetapi, sesudah azan lebih baik, agar lafadz azan yang biasa diucapkan, tetap ada. (Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi, 5:207)
Allahu a’lam
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

MEROKOK TIDAK HARAM

Kalau ikutkan disiplin fiqh yang murni, pasti kita tidak akan bertemu dengan khilaf (perselisihan) ketika membahaskan hukum merokok. Kenapa? Sebab memang tidak ada nas syarak secara soreh (jelas) lagi khusus yang mengharamkan rokok. Begitu pula sebaliknya, tidak ada pula nas syarak yang mewajibkan atau menggalakkan kita merokok, melainkan merokok termasuk dalam hal-hal mubah (harus) yang tidak dinyatakan oleh nas. Ada sesetengah ulamak menyebut hal ini sebagai ‘tidak dinyatakan nas’ atau termasuk ruang vakum dan lebih tepat lagi, ‘hal yang didiamkan nas’, hukumnya jaiz (boleh).
Hukum haram terhadap merokok adalah hal baru (kontemporari). Itupun setelah lahir fiqh kontemporari seperti fiqh al-waqi’. Ulamak telah maklum bahawa fiqh al-waqi’ bukan suatu yang murni melainkan ianya baru muncul (pelopornya, Dr Yusuf Al-Qaradhawi). Fiqh al-Waqi’ bukan termasuk sumber-sumber hukum yang muttafaqun (disepakati), melainkan masih spekulatif. Ada ulamak yang terima, ada yang menentang. Jadi, ia bukan satu tertib dalam pengambilan hukum secara murni melainkan masih spekulatif.
Menurut fiqh al-waqi’, merokok adalah haram kerana beberapa faktor kesan (akibat), bukan faktor hakikinya. Misalnya, mereka mendakwa merokok membahayakan kesihatan. Kita pun tahu bahawa asap kenderaan bermotor juga membahayakan kesihatan (sekalipun ia hanya berpotensi bukan suatu kepastian). Dalam makanan yang kita ambil setiap hari juga masing-masing terdapat bahaya. Tetapi, mengapa rokok pula sahaja yang diharamkan. Mereka juga mendakwa merokok adalah membazir. Mengapa kereta yang dibeli dengan harga yang sangat mahal kemudian dibiarkan ditempat parking tanpa diguna tidak dikatakan membazir. Paling tak logik, merokok boleh membantu ekonomi Israel!! Adoiyai.. Banyak lagi hujjah-hujjah dangkal yang tak layak dijadikan ‘illat (motif) untuk pengharaman merokok.
Menurut fiqh murni berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadis, sesiapa yang telah sedia sakit dan tidak dibenarkan merokok oleh pakar kesihatan, maka haramlah merokok baginya. Begitu juga dengan makanan lain. Ada orang alergik dengan seafood, ada yang alergik dengan daging, susu dan lain-lain.. maka bagi mereka haramlah makanan yang memudharatkan diri mereka sendiri. Hukum merokok termasuk dalam hukum-hukum math’umat (makan-minum) dan tidak ada kena mengena dengan hukum-hukum muamalat (interaksi). Perokok tahu faedah merokok, begitu juga dengan pencinta petai dan jering atau penggemar double-cheese beef burger.

Petikan dari artikel Ustaz Ridhuan Hakim


Daie Yang Menyeru Ke Neraka Jahannam

Artikel dari:

Akan Muncul Daie-Daie Yang Menyeru Ke Neraka Jahannam


كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني


Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”

فقلت يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير من شر

Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan ?”
قال نعم

Beliau berkata : “Ya”
قلت وهل بعد ذلك الشر من خير

Aku bertanya : “Dan apakah setelah keburukan ini akan datang kebaikan?”
قال نعم وفيه دخن

Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
قلت وما دخنه
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”
قال قوم يهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر

Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”
قلت فهل بعد ذلك الخير من شر

Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan lagi ?”
قال نعم دعاة إلى أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها

Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para daie-daie yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”
قلت يا رسول الله صفهم لنا

Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?”
فقال هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا

Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”
قلت فما تأمرني إن أدركني ذلك

Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”
قال تلزم جماعة المسلمين وإمامهم

Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”
قلت فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام

Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?”
قال فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك

Beliau menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu”


TAKHRIJ HADITS
Hadits ini memiliki banyak jalan, diantaranya :

[1]. Dari jalan Walid bin Muslim (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Ibnu Jabir (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Bisr bin Ubaidillah Al-Hadromy hanya dia pernah mendengar Abu Idris Al-Khaoulani dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu …….HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979.

[2]. Dari jalan Waki’ dari Sufyan dari ‘Atho’ bin Saib dari Abi Al-Bukhari dia berkata : Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata ….. HR. Ahmad dalam musnad 5/399.

[3]. Dari jalan Abi Mughiroh (dia berkata) menceritakan kepada kami Assafar bin Nusair Al-Azdi dan selainnya dari Hudzaifah bin Al-Yaman, beliau berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dahulu dalam keburukan lalu Allah menghilangkannya dan mendatangkan kebaikan melalui anda. Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?”. Beliau berkata : “Ya”. Hudzaifah bertanya lagi : “Apa kejelekan tersebut?” Beliau menjawab : “Akan muncul banyak fitnah seperti malam yang gelap gulita, sebagaimana mengikuti yang lainnya dan akan datang kepada kalian hal-hal yang samar-samar seperti wajah-wajah sapi yang kalian tak mengetahuinya” HR Ahmad 5/391. 

Peringatan buat kaum muslimin di akhir zaman, khasnya para “daie express” yang banyak muncul sejak kebelakangan ini. Prihatin terhadap permasalahan umat adalah suatu kewajipan sepertimana hadis:

“Barangsiapa (bangun) di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas diri dari orang itu. Dan barang siapa (bangun) di pagi hari tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia tidak termasuk dari mereka (kaum Muslimin)”  [HR Hakim].

Namun perlu diingatkan, untuk terjun ke medan dakwah juga memerlukan ilmu, sepertimana kita ingin melakukan sesuatu pekerjaan yang lain dalam hidup ini. Apakah mungkin seorang yang buta untuk memimpin seorang buta yang lain?

Hari ini, para “daie express” menceduk ilmu hanya dari internet, dan pengkajian sendiri tanpa bimbingan guru yang natijahnya, mereka lemas dalam ilmu sendiri. Muncullah golongan seperti “geng Panji Hitam”, “Geng Kerajaan Langkasuka”, “Geng Bani Tamim” dan pelbagai lagi. akibat yang memandu mereka bukanlah pemikiran, tetapi khayalan dan perasaan belaka. 

Adapun keberadaan jemaah kaum muslimin yang wajib diikuti ialah satu jemaah yang konsisten dalam kebenaran, dan Insyallah, mereka sebenarnya sentiasa ada di kalangan kita:

 Sentiasa ada satu golongan daripada kalangan umatku yang menzahirkan kebenaran, tidak akan memberi mudarat kepada mereka orang yang meninggalkan mereka sehingga datang hari kiamat dan mereka dalam keadaan tersebut“. (Riwayat Muslim)

Taatlah Kepada Suami

“Kamu sampaikan kepada perempuan yang kamu jumpa, bahawa taat kepada suami, dan mengakui hak-hak suami, sama pahalanya dengan berperang dan bertempur dengan musuh-musuh Islam di medan pertempuran, tetapi sedikit sangat daripada isteri-isteri yang menyempurnakan hak-hak suami mereka.” (Hadis riwayat Al Imam Bazzar)

“Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu, berpuasa sebulan (Ramadhan), menjaga kehormatan dan taat kepada suami, dia akan disuruh memasuki syurga melalui mana-mana pintu yang dia sukai.” (Hadis Riwayat Ahmad)

Aishah RA bertanya kepada Rasulullah saw: “Siapakah yang harus diutamakan oleh seorang Isteri? Jawab nabi. “(hak) suaminya”. Aishah RA bertanya lagi: “Sedang bagi seorang suami, siapa yang lebih utama?” Jawab nabi: “(hak) ibunya”. (HR Al Hakim) Disahkan oleh Imam Al Bazzar

“Sekiranya aku (boleh) menyuruh manusia menyembah manusia nescaya aku akan menyuruh isteri menyembah suaminya.” (Hadis riwayat Abu Daud) 

Ahmad, an-Nasaie dan al-Hakim meriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Sebaik-baik wanita ialah yang menyenangkan seorang lelaki apabila ia melihatnya, yang taat kepadanya apabila ia menyuruhnya dan ia tidak menyalahi suaminya dengan sesuatu yang tidak menyukakannya pada dirinya dan hartanya.” (Hadis Riwayat Muslim)

“Apabila salah seorang dari kamu bernikah dengan seorang wanita, hendaklah dia memegang bahagian depan kepalanya (isteri) sambil menyebut nama Allah dan mendoakan keberkatan baginya dan hendaklah mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau tetapkan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang Engkau tetapkan padanya. Ya Allah berkatilah isteriku ini atasku dan lindungi dirinya dari segala keburukan perbuatan orang-orang yang dengki dan perbuatan tukang sihir apabila dia telah melakukan sihir dan perbuatan orang-orang yang suka melakukan tipu daya.’ “ (Riwayat Abu Daud).

BACAAN AL FATIHAH KEPADA SI MATI TIDAK TERMASUK DALAM AMALAN NABI DAN PARA SAHABAT



Sesungguhnya tidak terdapat dalam sejarah Nabi dan para sahabat serta para salafusoleh yang terkemudian untuk menyedekahkan bacaan dari surah Al Fatihah kepada seseorang yang telah meninggal. 

Adapun bacaan yang bersandar pada perbuatan Rasulullah saw boleh didapati dari hadis riwayat Muslim ini:

لسلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء الله للاحقون أسأل الله لنا ولكم العافية

‘Salam sejahtera ke atas kamu wahai ahli kubur, dari kalangan mukminin dan muslimin, InsyaAllah kami akan menyusul kalian, Aku berdoa kepada Allah supaya memberi keselamatan kepada kami dan kamu. [riwayat Muslim]

Atau membacakan doa yang masyhur ketika menunaikan solat jenazah:

اللهم اغفرله وارحمه وعافه واعف عنه

“Allah berikan keampunan kepadanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, ampunkanlah dia….. “

Sekadar peringatan kerana setiap Ibadat yang tidak ada asasnya dalam Islam adalah tertolak:

Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. [HR Abu Dawud dan At Tirmizi]

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak. [HR Bukhari dan Muslim] 

Adapun bentuk pendekatan diri pada Allah yang lainnya, jika terdapat dalil shohih yang menunjukkan sampainya pahala amalan tersebut kepada si mati, maka wajib kita terima. Seperti sedekah yang diniatkan dari si mati, doa kepadanya, dan menghajikannya (badal haji). Sedangkan amalan yang tidak ada dalil bahwa pahala amalan tersebut sampai pada si mati, maka amalan tersebut tidaklah disyari’atkan sampai ditemukan dalil.

Mengupah seorang qari untuk membacakan Al-Qur’an bagi orang yang telah meninggal termasuk bid’ah dan makan harta manusia dengan tidak benar. Karana bila seorang qari membacakan Al-Qur’an dengan tujuan untuk mendapatkan upah atas bacaannya, maka perbuatannya termasuk kebatilan, karena ia menginginkan harta dan kehidupan dunia dari perbuatannya tersebut. 

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, nescaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Huud : 15-16]


Perkara ibadah -termasuk membaca Al-Quran- tidak boleh dilakukan dengan tujuan duniawi dan mencari harta, akan tetapi harus dilakukan dengan tujuan untuk medekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Nawawi dalam kitab Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab mengatakan :


“Adapun bacaan Al Quran dan mengirimkan pahalanya untuk si mati dan mengganti solatnya mayit dan sebagainya….menurut Imam Syafi’i dan Jumhur Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayat yang dikirim, dan keterangan seperti itu telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya Syarah Muslim.” (Lihat Imam As Subki, Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab, Juz X hal. 426)

Tafsir Fi Zilalil Quran SURAH AN NAJM : AYAT 29 oleh SAYYID QUTB

Maka tidaklah sekali-kali dihitung kepada seseorang manusia, kecuali dari hasil amal dan usahanya sendiri, tidaklah bertambah atasnya sesuatu (pahala) dari amal yang bukan dari amalnya sendiri, dan tidaklah berkurang sedikitpun sesuatu darinya untuk orang lain (tetap, tidak mengalami perubahan). Kehidupan dunia ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk berbuat amal dan berusaha seoptimal mungkin. Dan apabila telah mati, maka kesempatan untuk berbuat dan beramal tidak berguna lagi, dan terputuslah amal perbuatannya. Kecuali hanya apa yang sesuai dengan keterangan “nash” padanya dari hadits Rasulullah SAW, seperti sabda beliau ; “Apabila mati seorang manusia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal :

1. Dari anak yang soleh yang mendoakannya ( perhatikan!!! hanya anak yang “sholeh”, bukan anak yang tidak sholeh)

2. Sedekah Jariyah yang dilakukan selama di dunia,

3. Ilmu yang bermanfa’at padanya dan bagi orang lain.



Perbincangan (oleh Syabab Hizb Tahrir: Ustaz Rdhuan Hakim)
“Tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepada-Ku” [Adz-Dzariyat:56]

Ayat ini secara umum memaksudkan bahawa tujuan/motif penciptaan jin dan manusia adalah untuk tunduk/patuh kepada Allah Yang Maha Pencipta. Tunduk/patuh inilah maksud sebenar ibadah. Ibadah meliputi segala aktiviti kita sejak celik mata hingga terpejam semula. Semuanya (sepatutnya) berlandaskan kepada aturan Allah (perintah dan larangan-Nya).

Adapun, diantara amalan-amalan harian kita, ada sebahagiannya khusus ditunjuki oleh nas (As-Sunnah) sebagai ibadah khusus. Ibadah ini berasal dari Allah SWT yang diteladankan Rasul SAW. Misalnya solat. Ia merupakan perintah Allah kepada Rasul-Nya dan mukallaf umumnya. Jadi, benarlah sebuah qawa’id yang menyebut, “Asal ibadah (khusus) adalah terhenti/haram (tawaquf) hingga datang dalil mengiyakannya”. Dalam hal ini, ibadah khusus wajib diteladani dari Rasul SAW. Menambah atau mengurangi kaifiyat (tatacaranya) adalah satu dosa. Menambah atau mengurangi kaifiyat inilah yang disebut sebagai bid’ah.

Bukan semua hal mudah-mudah disebut bid’ah. Bid’ah hanya terpakai dalam isu menambah atau mengurangi kaifiyat dalam ibadah khusus sahaja.

Lain halnya dengan ibadah umum seperti makan, minum, jogging, memanah, berenang dan lain-lain. Semuanya boleh dipanggil ibadah umum selagi mana ia dilakukan di dalam skop syarie. Biarpun ia asalnya (hukum) mubah atau boleh (jaiz), tetapi ia tetap disebut ibadah kerana tiada nas yang melarangnya. Namun tidak pula ada nas yang menyuruh ia dilaksana. Dalam hal ini, nas mendiamkan hal tersebut, maka ia kekal mubah (harus). Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani mengatakan bahawa segala perbuatan yang mubah boleh menghantar kepada amalan yang baik (hasan) apabila di dalamnya terdapat nilai ruhiyah iaitu taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Misalnya, membaca fatihah ketika bersiar-siar di taman bunga. Bacaan itu dilakukan atas niat memuji-muji Allah, mendekatkan diri kepada Allah, memahamkan diri tentang makna dan mafhum ayat-ayat Allah.. maka perbuatan ini dikira sebagai sunat (mandub). Asalnya mubah (bersiar-siar) tetapi setelah disertai dengan nilai ruhiyah maka ia diganjar (bukan diiktiraf) dengan ganjaran sunat.

Begitulah halnya dengan membaca fatihah kepada jenazah. Ia bukan bid’ah kerana ia bukan pula ibadah khusus. Ia tidak berasal dari Nabi SAW mahupun ijmak para sahabat r.a. Ia sekadar bacaan biasa yang (insyallah) diganjarkan pahala kepada si pembacanya. Soal bacaan atau pahala bacaan itu sampai kepada si mati, itu bukan soal kita. Itu adalah hak Allah SWT. Hak kita ialah berusaha. Mendoakan si mati, memohon agar ditempatkan mereka dikalangan para solehin, syuhada’, siddiqin.. itulah sebaiknya. Kita memohon kepada Allah. Makbul atau tidak, itu hak-Nya. Tak perlu kita bincangkan. Tak perlu kita bertelagah mengenainya.

Wanita Paling Ramai Menjadi Ahli Neraka

Berikut adalah himpunan hadis mengenai ramainya dari kalangan wanita yang dihumban ke Neraka:


1. “Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” [Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim]

2. “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” [HR Nasa’i]

3. “Wanita yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’ie) maka haram baginya mencium wangi Syurga.” [Hadis Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi ]

4. “…wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka kerana sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti bunggul unta. 

Mereka tidak masuk Syurga dan tidak mendapatkan wanginya Syurga padahal wanginya boleh didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” [Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad]

5. Di dalam kisah solat gerhana matahari, Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya melakukan solat gerhana padanya dengan solat yang panjang , Rasulullah s.a.w melihat Syurga dan Neraka.

Ketika beginda melihat Neraka beginda bersabda kepada para sahabatnya: “ … dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” 
Baginda s.a.w menjawab : “Kerana kekufuran mereka.”

Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Baginda menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) nescaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)

Ketika beginda selesai berkhutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah s.w.t. dan anjuran untuk mentaatiNya. Baginda pun bangkit mendatangi kaum wanita, baginda menasihati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian baginda bersabda : 

“Bersedekahlah kamu semua. Kerana kebanyakan kamu adalah kayu api Neraka Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, dia pun bertanya : 
“Mengapa demikian, wahai Rasulullah?”
Baginda menjawab : “Kerana kamu banyak mengeluh dan kamu tidak taat terhadap suami.” [Hadis Riwayat Al- Bukhari]


6. Dalam hadis daripada Jabir bin Abdullah, katanya: “Aku hadir bersama-sama Rasulullah mengerjakan sembahyang pada hari raya (selepas sembahyang dan berkhutbah). Baginda kemudian pergi (ke barisan belakang) hingga sampai ke tempat kaum perempuan. Lalu Baginda menasihati dan mengingatkan mereka, serta Baginda (menggalakkan mereka bersedekah), sabdanya: “(Bersedekahlah kamu kerana sesungguhnya kebanyakan kamu menjadi kayu bakaran api neraka.”
Pada saat itu, seorang perempuan yang berkedut kedua-dua pipinya, bangun dari tengah kaum perempuan lalu bertanya: “Mengapa (kami dimurkai Allah seberat itu), Ya Rasulullah? “Baginda menjawab: “Kerana kamu selalu saja mengadu (tidak cukup nafkah), dan kamu pula tidak mengenang budi suami (sedikit pun).”
Jabir (rawi hadis ini) berkata: “Golongan perempuan itu pula tampil bersedekah barang perhiasan badan mereka, mereka meletakkan pada baju Bilal: subang dan anting-anting serta cincin mereka.” [Hadis riwayat Muslim]
Maka, ramai dari kalangan wanita “tidak berpuas hati” dengan perkara ini dan pihak orientalis dan musuh-musuh Islam mudah mempergunakan isu ini untuk menghentam Islam kononnya merendahkan mertabat kaum wanita.

Untuk lebih adil, kita tinjau pula beberapa hadis berikut:

1. “Perempuan apabila solat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka masuklah dia akan syurga mana-mana pintu yang dikehendakinya.”[ Ibn Hibban,disahihkan oleh al-Albaniy]

2. “Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang solehah.” [HR. Muslim,Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad]

3. Daripada Umm Salamah, isteri Nabi SAW, katanya(di dalam sebuah hadis yang panjang): Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Adakah wanita di dunia lebih baik atau bidadari?”

Baginda menjawab, “Wanita di dunia lebih baik daripada bidadari sebagaimana yang zahir lebih baik daripada yang batin.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimanakah itu?”
Baginda menjawab, “Dengan solat, puasa dan ibadat mereka kepada Allah, Allah akan memakaikan muka-muka mereka dengan cahaya dan jasad mereka dengan sutera yang berwarna putih,berpakaian hijau dan berperhiasan kuning….(hingga akhir hadis)” (riwayat al-Tabrani)
4. (Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suami)-nya jika ia melihatnya, mentaati (suami)-nya jika ia memerintahnya dan ia tidak menyelisihi (suami)-nya dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.’” [HR. Ahmad, al Hakim, an Nasa’i dan ath Thobrani dan di Shohihkan oleh al Albani]

4. Abu Hurairah radhiallahu ‘anh berkata: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya:

“Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layan dengan sebaik-baiknya?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ibu kamu.”
Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Baginda menjawab: “Ayah kamu.”  [HR Bukhari]

Dalam satu kisah dimana Saidina Umar Al Khattab RA pernah didatangi seorang lelaki yang ingin mengadukan hal isterinya. Apabila hampir tiba di rumah Umar, dia tercegat di hadapan pintu rumah pemimpin Islam itu. Dari luar rumah, dapat didengari suara leteran isteri orang ternama itu. Pada masa itu, isteri Umar ialah Ummu Kalsum binti Ali, anak kepada Ali bin Abi Talib. Yang anehnya, suara Umar langsung tidak kedengaran.

   “Sekiranya beginilah keadaannya semasa berhadapan dengan leteran isteri sedangkan di luar beliau dikenali sebagai seorang yang berani dan tegas, bagaimana pula saya? ” Lelaki itu berfikir sendirian.

   Kemudian, dia melangkahkan kaki meninggalkan rumah Umar. Ketika itu, Umar membuka pintu. Lantas beliau menyapa dan bertanya tujuan kedatangan lelaki tersebut.

   “Tujuan saya datang ialah untuk mengadu perangai buruk isteri saya yang suka berleter. Tetapi apabila terdengar isteri tuan sedang berleter sedangkan tuan tidak berkata apa-apa, lalu bagaimana pula keadaan saya? ” Lelaki itu meluahkan perasaannya.

   “Saya bersabar mendengar leterannya kerana beliau ada hak ke atas saya,” Umar menjelaskan keadaan.

   “Isteri saya memasak, mengadun roti, membasuh pakaian dan menyusukan anak, sedangkan kebanyakan yang dilakukannya itu tidak diwajibkan ke atasnya. “

   Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan mendengar penjelasan Umar.

   “Isteriku juga menenangkan hatiku daripada melakukan perbuatan haram. Itulah sebabnya saya bersabar dengan leterannya.”

   “Benar segala apa yang tuan katakan. Isteri saya juga melakukan semua itu,” akur lelaki itu.

   “Bersabarlah. Leteran mereka hanya sekejap sahaja.” Umar menenangkan.

Ummu Kalsum adalah wanita mulia yang terdidik dari kalangan alhul bait. Namun sebagai manusia biasa, sebagai seorang wanita, adalah satu perkara lumrah untuk beremosi dalam sesuatu keadaan. Maka di sini, bukanlah dikira derhaka bagi seorang isteri dalam kondisi seperti kisah diatas. Pokok pangkalnya, saling berkasih sayanglah kerana Allah. 


Allahualam. 

WORLD VIEW (Pandangan Hidup)



WORLD VIEW adalah satu pandangan menyeluruh tentang kehidupan. Aqidah Islam memiliki world view yang khas iaitu “MANUSIA DATANG DARI ALLAH, HIDUP UNTUK MENDAPAT REDHA ALLAH, DAN AKAN MATI MENEMUI ALLAH. 

Pandangan khas ini melahirkan sistem ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan segala macam muamalat sesama manusia selain perkara ibadat dan akhlak. 

Dari pandangan khas ini, orang mukmin mengatur seluruh ruang hidup mereka agar selari dengannya. 

Mereka menutup aurat kerana yakin akan ancaman azab Allah. Mereka beribadat kerana mengharap redha Allah. Mereka berekonomi selari dengan ketetapan Allah.

Berbeza pula WORLD VIEW yang lahir dari akal manusia seperti SOSIALISME yang memandang “MANUSIA ADALAH JIRIM YANG MELENGKAPKAN KITARAN JIRIM DAN TENAGA. SEGALANYA MATERIAL, TERJADI SECARA SEMULAJADI (SPONTAN)”.

Sistem yang lahir dari world view semacam ini tidak lebih dari kesesatan, kerosakan dan kemusnahan. 

Kita telah lihat blok sosialis tersungkur akibat kerosakan sistem itu sendiri. Kita juga telah saksikan blok kapitalis yang semakin parah dengan pelbagai masalah… 

Tidakkah kita terfikir, tidak ada lagi pilihan untuk menyelamatkan manusia dari kerosakan angakara manusia sendiri selain kembali kepada fitrah iaitu Islam sebagai deen yang mengatur seluruh kehidupan?

Sampai bila untuk umat ini terus hidup sebagai umat yang tercorot sedangkan Allah di dalam Al Quran menyatakan:

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar dan beriman kepada Allah, dan kalau sekiranya ahlul kitab beriman, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada orang2 yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang2 fasik) Surat Ali mran ayat 110.”

EPISTEMOLOGY PEMIKIRAN MANUSIA

Pemikiran manusia tercetus dari pencarian jawapan terhadap dua perkara, BENAR atau SALAH? dan BAIK atau BURUK?

Benar atau salah boleh dibuktikan dengan penghujahan berdasarkan fakta realiti, bukti-bukti terpercaya, pengiraan maths atau eksperimen sains. Sebagai contoh, persoalan siapa yang cipta Facebook. Kita mengetahui kebenaran dengan merujuk realiti dari sumber-sumber yang trust-able. Begitu juga jika mahu mengetahui sifat fizik gas Nitrogen, kita boleh mengetahui kebenaran dengan experiment tertentu dengan method yang khas. Persoalan BENAR atau SALAH tidak terkait dengan hukum syarak. 

Adapun persoalan BAIK atau BURUK, manusia memerlukan tolok piawai yang melebihi keupayaan manusia untuk mencerap fakta dan realiti. Sebab, sifat manusia sememangnya terbatas dengan lingkungan kehidupannya sehingga mustahil untuk manusia mengetahui secara mutlak hakikat sesuatu kejadian sebagai BAIK atau BURUK. Maka, dalam persoalan ini, manusia menjawab dengan berpandukan wahyu, dengan konsep ketuhanan. Sebagai contoh, manusia tidak mampu menjawab persoalan, CUACA HUJAN sebagai baik atau buruk dengan konsisten. Ini kerana, ada yang mengatakan ia sebagai buruk sebab menghadkan aktiviti manusia, ada pula yang menganggap ia sebagai rahmat, sebab menyuburkan tanaman. Begitu pula dengan PEPERANGAN. Manusia meletakkan peperangan sebagai buruk secara umumnya namun dalam hukum Islam, JIHAD merupakan semulia-mulia amal kebajikan. 

Dengan memahami falsafah yang mendasari pemikiran ini, maka manusia berupaya memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupan. Sebagai seorang Muslim, tujuan hidup kita adalah untuk mengabdikan diri kepada Allah Yang Maha Pencipta. Maka, kita wajib menggunakan akal untuk menguatkan aqidah dan seterusnya menggunakan potensi akal bagi memahami segala nas syarak untuk menjawab persoalan BAIK atau BURUK manakala kita juga memanfaatkan kecerdasan yang ada bagi memahami segala realiti dan fakta untuk memecahkan persoalan BENAR atau SALAH. 

-Interpretasi dari kitab NIZHAMUL ISLAM bab KIYADAH FIKRIYAH (kepimpinan Berfikir) dan MAFAHIM HIZBUT TAHRIR , Imam Taqiyuddin An Nabhani Rahimahullah