Dialog Aqidah

Sembang dengan seorang non-muslim. Lebih kurang begini pertanyaanya; ” Orang Islam kena sembahyang 5 kali setiap hari, perempuan kena cover whole body, kalau mau enjoy tak boleh campur lelaki-perempuan, music also can not, so many rules and restrictions from 1000 years ago. How can you enjoy your life with that kind of living?”

Aku cuma tanya balik, “Kalau dibandingkan dengan orang yang memenuhi disco dan pub, orang yang selalu ulang-alik ke masjid adalah jauh lebih tenang hidupnya kan? Islam itu fitrah, hidup manusia sesuai dengan fitrah apabila megikut aturan Allah yang menciptakan manusia. Kalau manusia bikin aturan sendiri, end up tak akan happy pun. Makin sakit ada lah….”
Ditanya lagi; “how about jihad? You allow killing in the name of religion? This will definitely create chaos”

Jawapan; “Dalam jihad tu ada kehidupan. Jihad tu maksudnya menghancurkan halangan fizik bagi dakwah. Certain people, no talk or negotiations work with them. They must be crushed down! Jihad tidak bermaksud untuk membunuh, tetapi menegakkan aturan hidup yang akan memberikan kehidupan”.

Ditanya lagi; “Isn’t that just same as those murderers who try to justify their bloody act with things they think sacred?”

Jawapan; “Kita tengok sejarah, berapa banyak darah ditumpahkan kerana jihad. Berapa banyak wilayah dibuka tanpa pertumpahan darah. Boleh juga persoalkan kenapa di setiap wilayah yang dibuka oleh daulah Islam, masyarakat di wilayah itu pula berjuang mempertahankan Islam. Sama ada bangsanya arab, india, cina, afrka, melayu atau bangsa apapun! Tak akan sama dengan “bloody act” yang terus-menerus menimbulkan rantai kebencian dan dendam kan?”

Ditanya lagi: “Then how about IS?”

Jawapan: “They are bunch of idiot, who try to justify their act with Islam. Kalau kita tak blame seluruh penganut Buddha sebab kekejaman Junta Mynmar, kita tak dendam dengan seluruh orang Kristian sebab kekejaman Amerika di seluruh dunia, kita tak memusuhi orang Hindu sebab segelintir pelampau Hindu membunuh minoriti muslim di India, same in this case right?”

Ditanya lagi: “Hudud? How can you accept such a cruel punishment?”

Jawapan: “Simpati pada mangsa, bukan pada pemangsa. Dengan hudud, crime rate slightly down. Tak ada pemangsa selepas satu dua yang kena, isn’t that nice?”

and the conversation goes on…

(Perbualan dalam nada persahabatan, bukan provokasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *